Oleh : Abed Frans- Komite Pasar Eropa, Amerika dan Oceania DPP ASITA dan Wakil ketua bidang Pariwisata KADIN NTT
Dalam beberapa waktu terahir wacana menghidupkan kembali penerbangan internasionnal dengan rute Kupang – Darwin kembali mengemuka. Bersamaan dengan itu muncul pula harapan besar agar hubungan sister city Kupang – Darwin juga segera diaktifkan kembali.
Kedua gagasan ini pastinya sama-sama baik, strategis dan sangat relevan dengan masa depan ekonomi Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kupang dan sekitarnya. Namun sebuah pertanyaan penting perlu dijawab terlebih dahulu secara jujur dan rasional, yaitu mana yang seharusnya didahulukan? Apakah membuka rute penerbangan Kupang – Darwin terlebih dahulu untuk “memancing pasar”, ataukah membangun kerjasama kota secara aktif agar pasar itu tercipta secara alami?
Sebagai pelaku Pariwisata dan juga pemerhati pembangunan daerah, penilis meyakini satu hal penting yaitu kerjasama (Sister City) perlu dibangun terlebih dahulu secara kongkrit dan hidup (aktif), sementara penerbangan langsung adalah hasil dari aktivitas ekonomi yang sudah terbentuk (bukan titik awalnya).
Kedekatan Geografis Bukan Jaminan Kesuksesan Ekonomi
Secara peta memang antara Kupang dan Darwin adalah sangat dekat, bahkan jaraknya bisa lebih singkat dibanding Kupang – Surabaya, atau Kupang – Denpasar sekalipun. Dan factor kedekatan ini sering dijadikan alasan bahwa rute penerbangan (Direct Flight) ini seharusnya “otomatis ramai”. Namun perlu diingat bahwa realitas pada dunia penerbangan tidak sesederhana itu. Maskapai tidak membuka rute berdasarkan peta, melainkan berdasarkan permintaan pasar yang nyata. Mereka akan menghitung jumlah penumpang, jumlah keterisian kursi (seat), keberlanjutan arus perjalanan penumpang, serta potensi keuntungan minimal untuk jangka menengah. Tanpa permintaan pasar yang stabil maka rute sependek apapun niscaya akan tutup kembali. Karena itu tantangan rute penerbangan Kupang – Darwin bukanlah soal jarak, melainkan soal aktivitas ekonomi yang menciptakan pergerakan manusia secara rutin.
Sister City Sebagai Mesin Penggerak
Disinilah makna strategis kerjasama Sister City. Kerjasama antar kota yang bukan hanya sekedar hubungan simbolik, atau seremoni diplomatic, akan tetapi sebagai jalan untuk menciptakan arus kegiatan nyata : Pariwisata, Pendidikan, Perdagangan, Lingkungan Hidup, Pertemuan Bisnis, Kesenian, Pemuda, dan lain sebagainya.
Jika Sister City Kupang – Darwin kembali dengan program yang kongkrit maka pergerakan manusia akan tumbuh dengan sendirinya. Travel Agent/ Perusahan Perjalanan Wisata akan mulai menjual produk paket wisata, pelaku usaha akan melakukan Kunjunga dagang, Pelajar mengikuti program pertukaran siswa Peneliti dan komunitas lingkungan datang untuk berkolaborasi . Semua kegiatan ini akan menciptakan permintaan transportasi yang stabil. Dengan kata lain Sister City adalah mesin yang menciptakan pasar. Dan penerbangan adalah infrastruktur yang melayani pasar tersebut. Menurut penulis ini merupakan urutan yang pas, karena jika sebaliknya maka akan seperti membuka jalan tol menuju ke daerah yang belum memiliki aktivitas ekonomi – megah tetapi sepi.
Mengapa Membuka Penerbangan Terlebih Dahulu Sangat Beresiko
Banyak pihak beranggapan bahwa dengan membuka penerbangan langsung akan otomatis bisa membawa wisatawan. Harapan ini wajar saja – namun kurang realistis tanpa kerja pasar itu sendiri yang terstruktur. Wisatawan asing tidak memilih destinasi hanya karena ada pesawat. Melainkan mereka dating karena ada paket wisata yang dipromosikan, pengalaman yang dijual, dan jaringan agen perjalanan wisata yang aktif. Semua ini membutuhkan kolaborasi lintas sector yang justru difasilitasi oleh kerjasama Sister City tersebut. Tanpa itu maka penerbangan hanya akan mengandalkan penumpang yang spontan yang tentunya jumlah nya selalu terlalu kecil untuk menopang rute internasional secara regular. Dan akibatnya bisa ditebak yaitu tingkat keterisian pesawat rendah, biaya operasional sulit dijangkau dari tingkat keterisian yang rendah, dan ujungnya adalah berhenti beroperasi. Lebih buruk lagi, kegagalan awal tersebut sering membuat maskapai menjadi enggan mencoba kembali untuk beberapa tahun kedepan.
Urutan Strategis Yang Lebih Aman Dan Berkelanjutan
Jika kota Kupang ingin sukses membangun konektivitas ke Darwin, maka urutannya perlu realistis. Pertama adalah : aktifkan kembali hubungan Sister City dengan program yang nyata seperti Promosi Pariwisata bersama, Kunjungan bisnis UMKM, Pertukaran siswa, pertukaran pemuda, event-event budaya, dan proyek-proyek lingkungan.
Kedua : Ciptakan arus pergerakan orang yang rutin melalui penerbangan bersubsisi (jika maskapai penerbangan masih enggan menerbangi rute tersebut), atau Charter Flight tidak regular sebagai uji pasar.
Dan ketiga adalah : Setelah data permintaan perjalanan stabil barulah rute penerbangan regular dibuka dengan keyakinan bisnis yang kuat. Model tersebut sudah banyak dipakai di berbagai negara untuk membuka rute internasional baru secara berkelanjutan.
Pariwisata Sebagai Motor Awal
Dalam konteks Kupang – Darwin Pariwisata adalah penggerak tercepat, karena Australia masih merupakan salah satu pasar terbesar untuk Indonesia. Namun selama ini hampir semua wisatawan Australia yang ke NTT masuk melalui Bali, dan akhir-akhir ini trend nya agak mengalami perubahan dengan masuk melalui Dili – selanjutnya menggukan kapal pesiar (Cruise) mengelilingi NTT.
Dengan aktifnya kembali Sister City dapat membuka kembali jalur promosi langsung Darwin – Kupang dan selanjutnya ke daerah lainnya di NTT. Kota Kupang tidak hanya diposisikan sebagai kota tujuan, melainkan sebagai gerbang menuju destinasi lainnya seperti Labuan bajo, Alor, Sumba, Rote, Sabu dan lainnya. Jika telah terjalin kerjasama antara sesama Perusahan Perjalanan Wisata Kupang dan Darwin, dan mereka mulai menjual paket perjalanan wisata ke NTT secara rutin di Darwin maka permintaan pernerbangan akan terbentuk secara alamiah.
Perdagangan UMKM dan Ekonomi Riil
Selain Pariwisata, perdagangan skala menengah juga bisa menjadi sumber pergerakan orang. Produk-produk seperti Perikanan, rumput laut, garam, dan kerajinan NTT memiliki potensi pasar yang baik di Australia bagian utara. Kunjungan dagang yang rutin, pameran bersama, dan kontrak bisnis kecil menengah diharapkan akan menciptakan arus pelaku usaha yang stabil. Dan Inilah jenis permintaan yang disukai oleh maskapai yaitu konsisten dan bukan musiman semata.
Pendidikan dan Hubungan Jangka Panjang
Program pertukaran pelajar, magang, dan kolaborasi kampus musngkin tidak akan langsung besar secara jumlah, tetapi sangat kuat secara kesinambungan. Setiap tahun akan ada pertukaran pelajar, dosen, pemuda, bahkan keluarga. Dalam jangka Panjang hubungan social inilah yang akan menunjang rute tersebut akan tetap hidup.
Lingkungan dan Kolaborasi Tropis
Kerjasama lingkungan pesisir, riset dan konservasi mangrove, juga akan membawa arus ahli, relawan dan institusi internasional. Selain berdampak ekologis tentunya hal ini akan memperkuat jaringan global kota Kupang.
Mengubah Persepsi Rute Tidak Potensial
Selepas masa maskapai Airnorth bekerjasama dengan maskapai Merpati Airline yang menerbangi Kupang – Darwin maka Selama ini rute Kupang – Darwin dianggap tidak potensial. Sebenarnya bukanlah tidak potensial, melainkan belum diciptakan pasarnya. Tidak ada rute penerbangan di dunia ini yang langsung ramai tanpa kerja pasarnya. Semua rute penerbangan lahir dari kombinasi antara promosi, akitivitas ekonomi dan kolaborasi lintas sektor. Jika Sister City nanti dijalankan secara serius, dalam satu hingga dua tahun maka data permintaan akan berbicara dengan sendirinya. Dan pada titil itu maskapai penerbangan tidak perlu diminta, dibujuk – mereka justru akan melihat peluang yang bagus.
Maka dapat dikatakan jangan terbalik urutannya. Kerjasama Kupang – Darwin adalah peluang emas bagi perekonomian NTT. Namun peluang ini hanya akan berhasil jika dijalankan dengan logika pembangunan yang tepat. Sister City harus menjadi pondasi yang menciptakan aktivitas yang nyata. Penerbangan langsung harus merupakan hasil dari aktivitas tersebut. Jika kita terburu-buru membuka rute tanpa membangun pasar maka resiko kegalalan cukup besar. Namun jika kita sabra membangun relasi ekonomi, social dan pariwisata terlebih dahulu, maka konektivitas udara akan tumbuh secara alami dan berkelanjutan. Kota Kupang tidak kekurangan potensi, yang dibutuhkan adalah strategi yang tepat, bertahap, dan berbasis pada realitas pasar.
Dengan pendekatan yang tepat bukan mustahil dalam beberapa tahun kedepan Kupang akan menjadi gerbang internasional bagi Indonesia bagian timur – bukan hanya di peta, tetapi dalam aktivitas ekonomi yang hidup setiap harinya.
Godaan NTB Yang Juga Sedang Mengupayakan Penerbangan Langsung ke Darwin
Dalam dinamika regional saat ini, perlu juga disadari bahwa kota lain di Indonesia bagian Timur seperti Lombok di NTB tengah aktif membangun hubungan dengan Darwin, bahkan juga mendorong membuka penerbangan langsung antar kedua kota tersebut. Secara bisnis penerbangan, hal ini tentunya menjadi kompetisi bisnis yang nyata, karena pasar Australia bagian utara adalah tidak begitu besar dan umumnya maskapai akan menstabilkan satu rute terlebih dahulu sebelum membuka rute lainnya. Jika Lombok ahirnya lebih dulu sukses menciptakan permintaan yang stabil, maka Kupang memang akan menghadapi tantangan yang lebih besar untuk meyakinkan maskapai untuk membuka rute serupa dalam waktu yang dekat.
Situasi ini hendaknya menjadi alarm strategis bagi Pemerintah kota Kupang untuk bergerak lebih cepat tetapi tetap terkoordinasi. Wacana dari NTB bukan ancaman tetapi anggaplah sebagai sinyal bahwa Kawasan Indonesia bagian timur ini strategis dan dilirik sebagai mitra Australia bagian utara. Dan karena peluang ini sifatnya terbatas maka kota Kupang perlu segera mengamankan posisinya melalui kerjasama Sister City yang kongkrit, pembentukan tim khusus lintas sektor, serta peluncuran program quick win dalam hitungan bulan – bukan tahun lagi. Dalam diplomasi ekonomi regional momentum seringkali lebih menentukan daripada rencana yang terlalu lama dimatangkan.
Kecepatan bukan berarti tergesa-gesa, melainkan tepat dalam menentukan langkah strategis. Dengan mempercepat aktifasi hubungan Kupang – Darwin melalui hubungan Pariwisata bersama, business matching, UMKM, program pertukaran pemuda/ siswa, maka Kupang bisa lebisa dahulu menciptakan permintaan riil yang kelak menjadi dasar yang kuat bagi pembukaan rute penerbangan langsung tersebut. Jika pasar telah terbentuk di Kupang, maka kehadiran jalur langit bukan lagi soal persaingan antar daerah, melainkan sebuah respon alami industri terhadap peluang ekonomi yang nyata.