
Teks : @didikasim, Foto :@zulfikarmuin
Di sebuah sudut kecil di Alor, hadir Mama Martha Lothang dengan senyum sederhana dan tubuh renta yang menyimpan keteguhan. Penghargaan demi penghargaan telah diberikan padanya oleh lembaga dalam dan luar negeri.
Namun sejatinya bagi saya penghargaan terbesarnya bukanlah yang tertulis di kertas itu, melainkan jejak hidupnya yang tertanam di sepanjang garis pesisir.
Mama mengerti laut bukan sekadar hamparan biru tempat perahu berlabuh, melainkan nadi kehidupan. Dari cerita leluhur, Mama Lothang belajar bahwa mangrove adalah benteng yang menjaga daratan dari amukan gelombang. Maka batang demi batang ditanamnya, ribuan bibit disiapkan, seakan menanam doa untuk masa depan Alor yang lestari.
Namun, perjuangan itu tak pernah mudah. Di saat tangannya sibuk menancapkan akar kehidupan, penambangan pasir justru menggerogoti garis pantai. Abrasi kian cepat, meninggalkan luka di bibir pulau. Mama Lothang hanya bisa menahan air mata, tubuhnya yang mulai rapuh berusaha menjadi suara. Suara yang seringkali kalah oleh riuh kepentingan jangka pendek.
“Kalau laut hilang, kita pun hilang,” begitu pesannya kepada anak cucu di kampung. Kata-kata sederhana, tapi lahir dari pengalaman panjang membaca tanda-tanda alam. Ia tahu, barangkali tubuhnya tak akan lama lagi menjaga pesisir. Namun ia berharap suaranya, meski parau, bisa terus digaungkan oleh generasi muda Alor.

Dalam lirih doanya, ia juga menitipkan satu harapan: semoga ada bantuan pemecah ombak.
Baginya, itu bukan sekadar beton yang menahan gelombang, melainkan nafas tambahan untuk hutan mangrove yang sedang ia bangun. “Kalau ada pemecah ombak, saya bisa tanam lebih luas lagi,” katanya dengan mata yang berbinar.
Ia tahu, dengan benteng kecil itu, setiap bibit yang ia tanam punya peluang hidup lebih besar, dan pesisir Alor bisa berdiri lebih lama menghadapi ganasnya laut.
Mama Lothang adalah pahlawan pesisir negeri ini. Dari tangannya yang kasar, dari langkahnya yang pelan, tumbuh kesadaran bahwa menjaga laut bukan sekadar pilihan, melainkan syarat untuk tetap hidup. (Sumber : natiobal geographic magazine Indonesia)



