LABUAN BAJO, fortuna.press – Fenomena menarik terungkap dari majunya gelait pariwisatan dan perekonimian Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, Flores Nusa Tenggara Timur.
Ditengah hingar bingar tumbuhnya banyak akses penerbangan internasional dan meningkatnya angka kunjungan wisatawan domestic dan mancanegara, justru berbanding terbalik dengan dampak ekonomi yang dirasakan warga lokal terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok dan asupan gizi dari bahan baku ikan segar.
Dalam urusan mendapatkan ikan segar misalnya, warga Labuan Bajo mengeluhkan harga ikan mentah yang relatif tinggi dan sulit dijangkau warga lokal dengan pendapatan terbatas karena penetapan harga selalu berpatok pada layanan jasa wisatawan asing dan untuk kepentingan tamu dari luar daerah.
Harga ikan mancing sejenis kerapu merah, kakap dan sejenisnya dipatok mencapai ratusan ribu rupiah untuk ukuran 500 gram. Harga itu belum termasuk jasa bakar ataupun diolah jadi ikan kuah asam, bakar dan sebagainnya.
Biaya itu juga belum termasuk pajak yang wajib ditangung pelanggan sehingga kesannya warga lokal semacam kesulitan menikmati ikan segar di kota sendiri karena harga yang dipatok terlampau tinggi serasa di Eropa atau negara maju lainnya.
“Kami warga lokal kesulitan karena seakan semua produk yang dipasarkan berorentasi pada wisatawan atau dollar sehingga harganya selalu tinggi, ungkap Nurdin seorang warga Labuan Bajo kepada fortuna di Labuan Bajo, 24 Januari 2026.
Dia mengumpamakan ikan segar ini ditangkap dari perairan Labuan Bajo tapi knapa patokan harganya internasional? Dia mengeluhkan apakah mayoritas warga kota Labuan Bajo masih bisa beli ikan segar dengan harga lokal. Atau warga lokal cukup menikmati ikan laying, sardine, tembang dan sejeninya dengan harga minimalis sesuai isi dompet?
Membayangkan Kesulitan Warga
Kondisi yang sama dialami Tuty (bukan nama sebenanrya, red) seorang pejabat eselon di lingkup provinsi NTT.
Tuty mengaku terkesimah dengan kemajuan fisik dan perekonomian Labuan Bajo yang sekilas pesonanya sumgringah tapi disisi lain bikin kesal pula dalam urusan perut.
Dia membayangkan kesulitan warga lokal yang berpenghasilan pas-pasan, mereka bisa saja tenggelam ditengah gemerap silau kota Labuan Bajo yang kian hedon dan dinamis.
“Dengan dana perjalanan dinas yang pas-pasan, kami harus cari warung Padang agar bisa makan sesuai isi dompet” ujar Tuty yang mengaku harus mengurungkan niatnya untuk mencicipi kuliner ikan ketika berdinas ke Labuan Bajo belum lama ini.
Dikatakan harga satu ekor ikan bakar ukuran sedang bisa tembus angka ratusan ribu sehingga untuk hemat dan sesuai uang perjalanan dinas maka mereka hanya bisa menyesuaiakn diwarung-warung lesehan dengan menu makanan minimalis.
Nah kalau pejabat lingkup provinsi NTT saja enggan cari makan dari pos-pos kuliner ikan di Kota Labuan Bajo, lantas warga kita masih dapat akses ikan segar dengan harga murah?
“Jujur kita bangga tapi prihatin juga, Labuan Bajo jadi kota premium utk siapa, kalau warga lokalnya kesulitan dan harus menanggung biaya hidup yang mahal ini. Makan saja begini apalagi biaya penginapan, kos-kosan dan juga moda transportasi, ujarnya retoris.
Ini tentu tidak membanggakan, tapi jadi sisi minus yang wajib dipikirkkan pemerintah agar rakyat tidak jadi korban dari “Premiumnya” Labuan Bajo.
Data Harga Seafood Bervariasi
Untuk diketahui, data dari berbagai sumber menunjukan harga ikan mentah dan hasil laut di Labuan Bajo cukup bervariasi, seafood premium seperti lobster hidup berkisar Rp650.000–Rp800.000/kg dan kepiting bakau sekitar Rp200.000/kg. Harga ini dapat berubah tergantung musim dan lokasi pembelian di pasar rakyat ataupun menu makanan di resto.
Estimasi Harga Hasil Laut Mentah (per kg):
-
Lobster Hidup (size 100g-200g): Rp650.000
-
Lobster Hidup (size 250g-400g): Rp680.000
-
Lobster Hidup (size 500g-Up): Rp700.000
-
Kepiting Bakau: Rp190.000
-
Ikan Bawal Laut Segar: Rp100.000 – Rp106.000
-
Ikan Nila (Air Tawar): Rp15.000 – Rp80.000 (rata-rata Rp57.502)
Harga tersebut merupakan indikasi umum di pasar lokal dan supplier seafood di area Labuan Bajo per Januari 2026.
Estimasi Harga dan Tips
-
Total Harga: Harga setelah dibakar di restoran akan disesuaikan dengan jasa masak dan bumbu, sehingga total per porsi atau per kg bisa berbeda dari harga bahan mentah.
-
Transparansi Harga: Wisatawan sangat disarankan meminta rincian harga per kg dan total timbangan ikan sebelum dibakar untuk menghindari potensi ketidaksesuaian harga.
-
Waktu Kunjungan: April hingga Oktober adalah waktu terbaik untuk berkunjung karena cuaca lebih baik.
-
Harga di atas adalah perkiraan berdasarkan data terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar dan lokasi spesifik di Kampung Ujung.



