
KUPANG, fortuna.press– Sekretaris Komisi IV DPRD NTT yang membidangi infrastruktur, Ana Waha Kolin,SH meminta kepada pemerintah provinsi NTT melalui Dinas PUPR untuk segera memperbaiki jalan provinsi di Ikan Foti yang menghubungkan Bello Kota Kupang dan Baun Kabupaten Kupang.
Pasalnya selain sebagai akses utama warga, mobilisasi hasil usaha dan perekonomian warga dari Kabupaten Kupang ke Kota Kupang, ruas jalan itu juga menjadi akses utama wisatawan asing yang rutin mengunjungi masyarakat dan destinasi wisata rumah raja Amarasi di Baun
Pernyataan itu disampaikan An Kolin kepada fortuna,press menaggapi desakan warga setempat juga permintaan Tour Operator PT.Oceania World Travel Nur Ningsih dan kawan-kawan dari ASITA NTT yang menghendaki ruas jalan itu diperbaiki segera karena aka nada ratusan wisatawan asing dari total sekitar 1300 wisatawan kapal pesiar yang akan berkunjung ke Baun dalam rangkaian kunjungan ke Kupang selama bulan Februari – Mei 2o26.
Kepada fortuna Ana Kolin mengatakan Tim dari Komisi IV DPRD NTT bersama Kepala Dinas PUPR Benyamin Nahak dan staf sudah turun ke kawasan Ikan Foti dan melihat langsung kondisinya yang memang harus dibenahi segera kalau tidak ingin ruas jalan itu putus total.
Terhadap kondisi itu, Ann Kolin mengatakan pihaknya juga sudah melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DINAS PUPR dan sudah diusulkan untuk masuk dalam Perubahan APBD 2026.
“Sudah RDP dengan Dinas PUPR dan kami sudah mengusulkannya semoga bisa masuk Perubahan APBD 2026,”ujar vokalis DPRD NTT dari Fraksi PKB ini.
Diakui Ann Kolin, beban fiskal NTT saat ini terlalu berat sehingga pembangunan jalan masih sangat sporadis bahkan belum optimal menyentuh seluruh daerah.
Awalnya kata dia, Komisi IV DPRD NTT menantang DINAS PUPR untuk tidak mengalokasikan dana untuk ruas-ruas jalan yang ada di Kota Kupang karena menurut mereka belum prioritas namun kemudian ternyata pembenahan jalan kota Kupang step by step harus dirapikan menyongsong pelaksanaan PON 2028.
“Kita dengan teman-teman di Komisi IV harapkan ruas jalan Ikan Foti-Baun harus menjadi skala priritas tahun ini, Pada Senin, (26/1/2026), lanjut bahas dengan DINAS PUPR agar bisa tereksekusi di perubahan 2026, tapi kalau tidak maka kami bisa berjuang lewat APBN melalui program IJD (Infrastruktur Jalan Daerah) sehingga anggarannya bisa lebih besar supaya tidak menyisakan persoalan-persoalan baru lagi terkait ruas ini,” ujarnya.
Satu-Satunya Jalur Mobiliasi Hasil Pertanian
Untuk diketahui, kawasan Ikan Foti sepanjang kurang lebih 600 meter adalah daerah rawan longsong karena berada persis dipunggung bukit yang menghubungkan Baun kabupaten Kupang dan Bismarak menuju Bello Kota Kupang.
Jalan Askes warga dan hasil-hasil pertanian milik masyarakat masyarakat Baun, Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang ke kota Kupang, Nusa Tenggara Timur terancam putus.
“Ruas Jalan utama di kawasan Ikan Foti, sekitar kilometer 7 Baun-Bello hampir tidak bisa dilewati lagi karena ada longsong yang menganga dan menggangu keselamatan pelintas jalan. Kalau tidak hati- hati kita bisa terjebak longsor, “ ujar Ady Koroh salah seorang warga.
Ady berharap ruas jalan itu segera diperbaiki secara permanen dengan anggaran memadai sehingga akses ekonomi lancar termasuk wisatawan yang sering berdatangan ke tempat itu.

Dilalui 1300 Orang Wisatawan Kapal Pesiar
Rusaknya akses jalan dari dan ke Baun ini memantik kecaman dari para pihak termasuk para pelaku wisata yang selama ini membawa wisatawan asing melintasi jalur jalan ini menuju destinasi rumah raja Koroh di Baun.
Nur Ningsih, Pimpinan PT.Oceania World Travel, salah seorang pelaku Wisata yang konon membawa ratusan wisatawan ke spot ini merasa sangat kecewa karena ruas jalan yang rusak sepanjang kurang lebih 500 meter dengan beberapa ritik rawan longsor ini selalu menjadi pemandangan buruk ketika ratusan wisatawan melaluinya.
Dikabarkan selama Januari – April 2026, akan ada sekitar 1300 orang wisatawan mengggunakan kapal pesiar sandar di pelabuhan Tenau dan mengunjungi sejumlah spot wisata di Kota Kupang dan rumah raja Baun di Kabupaten Kupang.
“Kita ada tamu sekitar 1300 orang selama Januari- April 2026. Sudah ada 400pax yang membeli paket kunjungan ke rumah raja Koroh di Baun. Jalan rusak ini kita kuatir mengancam nyawa wisatawan kalau dipaksakan,” ujarnya
Dia berharap pemerintah provinsi NTT dan Kabupaten Kupang juga DPRD NTT dan DPRD Kabupaten Kupang bergotong royong beanhi akses jalan ini sehingga tidak ssaja nyaman untuk warga lokal tetapi juga para wisatawan yang akan melewati jalan ini menuju Baun,PP.
Dikatakan, Kupang saat ini menjadi pintu masuk Kapal pesiar, yang membawa wisatawan asing langsung dari Australia. Mereka biasanta melakukan city tour di Kota Kupang dan sekitarnya sampai di Baun, kabupaten Kupang.
Sebagai operator wisata, kami sangat mengharapkan perhatian pemerintah dan DPRD NTT agar aksesibilitas terutama jalan ke Baun, khususnya di daerah Ikan Foti segera dibenahi.
Baginya, meski kunjungan hanya dalam sekian jam, ada banyak warga yang menikmati langsung kunjungan ini lewat atraksi seni budaya, jualan sovernir dan lain sebagainya.

Hubungkan Destinasi Wisata Yang Komplit
Adapun Baun, berjarak sekitar 36 km ke arah Selatan dari ibu kota kabupaten, wilayah ini dikenal sebagai pusat ekonomi dan jantung pertanian warga di Kabupaten Kupang.
Baun juga merupakan pusat sejarah dan budaya masyarakat Amarasi. Sejumlah potensi wisata dan sejarah antara lain karena menyimpan jejak peninggalan Kerajaan Amarasi yang masih lestari hingga saat ini
Ada Istana Kerajaan Baun (Palacia real de Amarasi, bekas kediaman Raja Amarasi yang kini menjadi situs budaya dan sering dikunjungi wisatawan mancanegara untuk melihat adat istiadat setempat.
Ada juga Mata Air Oe Baun, Mata air bersejarah yang dahulu digunakan sebagai tempat pemandian para raja. Lokasinya dapat diakses melalui jalan setapak dekat area istana.
Tak juah dari rumah raja ada Pantai Oesain, terletak di Desa Erbaun, pantai ini menawarkan pemandangan alam yang indah meskipun infrastruktur pendukungnya masih terbatas.
Ada juga destinasi wisata Fatu Braon, destinasi wisata di perbukitan yang menawarkan panorama alam dari ketinggian di wilayah selatan Timor.
Karakteristik Wilayah
Dari sisi bdaya, masyarakat didominasi oleh Suku Amarasi yang memiliki tradisi perkawinan adat unik yang disebut Sea Nono Heu.
Demikian urusan Perekonomian terdapat Pasar Baun, pasar tradisional yang menjadi pusat ekonomi lokal dan sedang dalam tahap rencana penataan ulang oleh pemerintah daerah.
Secara Administrasi, selain Baun (Teunbaun), kecamatan Amarasi Barat membawahi 7 desa lainnya, termasuk Nekbaun, Merbaun, Erbaun, Tunbaun, Soba, Niukbaun, dan Toobau. (tim/42na)



