Beberapa hari terakhir ini gencar pemberitaan di media cetak maupun media elektronik bahwa Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah mempersiapkan bandara El Tari Kupang untuk kembali berfungsi kembali sebagai bandara Internasional. Salah satu rute internasional yang diharapkan untuk dapat dilayani oleh bandara El Tari adalah rute Kupang – Darwin, selain rute Kupang – Dili. Bahkan pemerintah Propinsi berharap agar bandara El Tari dapat melayani juga penerbangan internasional lainnya seperti Kupang – Kuala lumpur (atau daerah lain di wilayah Malaysia).
Hal ini tentu saja merupakan sebuah berita yang sangat menggembirakan dan sudah selayaknya kita memberikan apresiasi yang besar pada niat baik bapak Gubernur Melki Lakalena beserta seluruh jajaran. Tentu saja tujuan bapak Gubernur NTT dalam hal ini adalah supaya bisa memberikan dampak yang positif bagi masyarakat di NTT khususnya di kota Kupang. Bayangkan bila ada penerbangan langsung dari Kupang-Dili (pp), Kupang – Darwin (pp), dan bahkan ada juga rute Kupang – Kuala lumpur (pp) misalnya, bagaimana kota Kupang ini tentu saja akan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Sebagai salah satu pelaku Pariwisata NTT, penulis ikut membayangkan akan banyak wisatawan dari 3 (tiga) negara itu yang akan berseliweran di kota Kupang ini, dan bahkan di kota-kota lain di sekitar kota Kupang tentunya. Tentunya para pengusaha UMKM pun akan ikut terkena dampak domino yang positif. Begitu pula para pengusaha di bidang lainnya yang ada kaitannya dengan kepariwisataan seperti pengusaha restaurant, Hotel, penyewaan kendaraan, pramuwisata (Guide), dan lain sebaginya. Bahkan bukan mustahil akan muncul investasi-investasi baru yang akan datang dari ke 3 (tiga) negara tersebut.
Beranjak dari berita baik dari Pemprov NTT tersebut, maka penulis ingin memberikan beberapa masukan yang sekiranya dapat bermanfaat bagi keberlanjutan mimpi besar Pemprov untuk merevitalisasi bandara El Tari untuk kembali menjadi bandara Internasional tersebut. Yang pertama adalah kita belum mengetahui maskapai apa yang akan melayani rute-rute penerbangan internasional tersebut. Adalah tidak mudah bagi sebuah operator maskapai penerbangan untuk membuka sebuah rute baru. Bukan sebuah rahasia bahwa pertimbangan pertama sebuah operator membuka rute baru adalah potensi mobilisasi masyarakatnya (baik itu perjalanan keluarga/ bisnis / wisata). Semua operator akan berlomba-lomba membuka rute tersebut apabila dinilai sangat berpotensi oleh mereka, bahkan tanpa diminta oleh Pemerintah sekalipun. Sebaliknya, apabila tingkat okupasi mereka setiap flight nya tidak mencapai target maka bisa dipastikan umur mereka untuk melayani rute tersebut tidaklah Panjang. Hal ini tentu saja sangat berkaitan dengan retensi mereka terhadap keberlanjutan penerbangan mereka pada rute tersebut. Dari ke tiga rute tersebut kemungkinan terbesar yang pertama perlu dieksekusi penurut penulis adalah rute Kupang – Dili. Alasannya karena rute ini pernah dilayani baik oleh Merpati Nusantara maupun oleh Trans Nusa Air Service pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan hilangnya rute ini sebenarnya juga merupakan sebuah kerugian bagi para pelaku pariwisata NTT khususnya Kupang karena dulunya para wisatawan (domestic) yang ingin berlibur ke Timor Leste kebanyakan akan melalui bandara El Tari (meskipun ada juga rute peberbangan Bali – Dili). Dengan hilangnya rute peberbangan Kupang – Dili menyebabkan banyak wisatawan yang memilih terbang melalui bandara Ngurah Rai Bali. Kecuali beberapa wisatawan yang memang sengaja ingin melakukan perjalanan darat lintas batas (overland). Dengan dibukanya kembali rute penerbangan Kupang – Dili tersebut kita harapkan dapat kembali menggairahkan pergerakan perjalanan wisata dengan tujuan Timor Leste. Sekali lagi, rute Kupang – Dili ini perlu menjadi prioritas untuk dieksekusi paling pertama.
Selanjutnya mari kita melihat rencana rute lainnya yaitu Kupang – Darwin. Rute tersebut tentunya menjadi mimpi sebagian besar masyarakat NTT, khususnya kota Kupang yang memang memiliki sejarah yang indah dengan Darwin ini. Disamping memang banyak masyarakat kota Kupang yang memiliki hubungan keluarga atau yang bekerja di daerah Northern Territory (termasuk Darwin) yang dulu pada saat masih beroperasinya Air North bekerjasama dengan Merpati Nusantara sangat sering melakukan perjalanan Kupang-Darwin maka sejak tidak diterbangi lagi, harus melalui Denpasar.
Begitu pula dari sisi Pariwisata yang tidak bisa dilupakan adalah bagaimana Kawasan Teddys dan desa Uiasa di pulau Semau bahkan Nemberala di Rote selalu ramai dengan wisatawan dari Australia khususnya dari daerah Northern Territory tersebut. Semua itu kita harapkan bisa kita kembali seperti dulu saat masih ada penerbangan Kupang – Darwin tersebut.
Akan tetapi keadaan sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Kawasan wisata di Uiasa sudah tinggal puing-puing dan tentu saja memerlukan investor dan waktu untuk mengembalikannya. Masalah nya apakah operator penerbangan nanti akan bertahan dengan “kursi kosong” jika nanti mereka terbang tidak bisa full seat setiap flight nya? Tidak semua operator penerbangan akan tahan dengan okupansi flight yang tidak mencapai target. Untuk itu perlu kita bantu mencari solusinya, yang menurut penulis tidak ada salahnya jika Pemerintah maupun Swasta banyak melakukan hubungan kerjasama baik secara Pemerintah kota Kupang maupun Pemerintah Propinsi NTT. Dengan banyaknya kerjasama antara Kupang dan Darwin ini kita harapkan dapat meningkatkan arus perjalanan antara ke dua kota tersebut. Bisa saja dalam bidang Pariwisata, Pendidikan, Kepemudaan, Pelatihan, dll. Sebagai informasi tambahan bahwa penulis pernah mendapat undangan menghadiri kegiatan Pariwisata di Darwin tahun 2025 silam dan sempat berdiskusi dengan Konjen RI untuk kota Darwin dan beberapa staf dari Pemerintah kota Darwin. Intinya dari pembicaraan tersebut saat itu Pemerintah kota Darwin tetap membuka pintu untuk kerjasama dengan kota Kupang yang mana mereka harapkan bisa dimulai dari tahap friendship city sebelum kembali menjadi Sister city. Semoga saja bapak Walikota Kupang dan bapak Gubernur NTT dapat melanjutkan kerjasama-kerjasama tersebut, karena disamping bermanfaat untuk masing-masing bidang, juga ujung-ujung nya akan membantu tingkat keterisian rute penerbangan tersebut.
Rute yang direncanakan selanjutnya adalah Kupang – Kuala lumpur (kalau tidak salah) yang juga bukan merupakan rute baru untuk rute ini, karena pernah juga ada rute tersebut oleh Maskapai Merpati Nusantara yang menerbangkan penerbangan Kupang ke Kuala lumpur dengan transit di Mataram Lombok. Saat itu rute tersebut dimaksudkan untuk mengangkut para pejuang devisa (TKI/ TKW} asal NTT dan NTB yang akan bekerja di Malaysia. Akan tetapi hal yang berbeda saat ini dimana tidak banyak lagi masyarakat NTT yang berkeinginan untuk bekerja sebagai TKI/ TKW di Malaysia dengan berbagai alasan. Inti dari fenomena saat ini kita perlu banyak melakukan hubungan kerja sama dengan negara atau kota yang mana rencana rute tersebut ingin diadakan. Kerja sama tersebut pada ahirnya akan mendukung tingkat keterisian dari rute penerbangan yang kita harapkan bisa eksis di bandara internasional El Tari Kupang. Semoga bisa menjadi masukan guna keberlanjutan dari rencana besar Pemerintah Propinsi dalam merevitalisasi bandara internasiona El Tari Kupang.(*
Penulis adalalah, Presiden Rotary Club Kupang Rastamores 2025-2026
Mantan Ketua ASITA NTT 2014 – 2024, Mantan Wakil ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTT 2018 – 2021
Mantan Sekjen Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTT 2018 – 2022