Fortuna

Uwi Ai Ndota, Sajian Berselara Khas Kabupaten Ende

“Banyak yang datang dan pergi, tapi uwi ai ndota tetap di hati” ungkap Sri Wardhani, mahasiswi tingkat akhir Universitas Guna Dharma Yogyakarta saat mencicipi uwi ai ndota di Ende

Uwi Ai Ndota dengan menu pendamping ikan bakar dan sambal tomat. Foto : Dan/Fortuna

ENDE- Fortuna ; Mengunjungi suatu daerah, akan terasa kurang lengkap bila belum mencicipi makanan khas daerah tersebut. Demikian halnya ketika anda bertandang ke beberapa spot wisata di propinsi Nusa Tenggara Timur

Di Kabupaten Ende misalnya, selain destinasi wisata kesohor Danau Kelimutu, situs Bung Karno, air terjun, kampung adat dan obyek wisata lainnya, anda juga dapat menikmati kuliner lokal khas Ende yakni uwi ai ndota.

Secara harafiah, uwi ai ndota berarti ubi cincang. Mendengar ubi cincang, tidak sulit kita membayangkannya. Tetapi ubi cincang bukan sembarang dicincang tetapi butuh teknik tertentu serta pengolahan mumpuni yang menjamin kelezatan dan kekhasannya.

Pada umumnya jenis makanan ini populer di wilayah Flores bagian tengah, tetapi yang menjadi unik adalah uwi ai ndota khas Ende pesisir. Konon, di masa lalu, apabila melewati kampung- kampung di pesisir selatan Ende semisal Barai, Ndao, Kotaratu, Paupanda dan kampung lainnya, pada pagi atau sore hari, kita pasti mendengar bunyi-bunyian bersahut-sahutan dari rumah-rumah penduduk yang sedang mencincang ubi.

Tidak heran, ada plesetan”ubi jazz” tenar di Ende, karena sahutan bunyinya kedengaran seperti bunyi orang sedang memainkan alat musik drum.

Secara garis besar, proses pengolahan ubi menjadi sajian uwi ai ndota terlihat sederhana tetapi tidak gampang untuk menghasilkan menu uwi ai ndota bercita rasa tinggi. Butuh skill dan kontinuitas untuk menghasilkan uwi ai ndota yang baik.

Hal terpenting selain cara mengolah atau memasak adalah memilih jenis ubi sebagai bahan baku. Sejauh ini, ubi Nuabosi masih menjadi prioritas utama ubi pilihan dengan tidak menyepelekan beberapa jenis ubi yang ditanam atau dibeli di pasar-pasar tradisional di Ende.

Uwi ai ndota disajikan dengan lauk pendamping yang tentunya tidak sembarangan. Beberapa lauk yang cocok disajikan dengan uwi ai ndota yakni sup ikan tongkol, ikan bakar, Uta ngeta(rumpu-rampe,lawar), dan sambal tomat (koro dagalai), ikan kering (bawo).

Sri Wardhani, seorang mahasiswa Universitas Guna Dharma Yogyakarta ketika berkunjung ke Ende belum lama ini mengaku penganan khas Ende itu sangat unik, gurih dan enak.

Baginya, kuliner asal Ende itu tidak hanya keren di proses pengolahannya tapi juga special, pas dihati dan wajib dicoba bagi yang datang ke Ende

“Banyak yang datang dan pergi, tapi uwi ai ndota tetap di hati. Ini wajib dicoba” ungkap mahasiswi tingkat akhir saat mencicipi uwi ai ndota di Warung Khalila, Jalan Ahmad Yani, kota Ende beberapa waktu lalu.

Memang, tidak mudah memperoleh uwi ai ndota di kota Ende. Hal ini dikarenakan tidak banyak restauran atau warung makan menyajikan uwi ai ndota.

Sejauh pengamatan penulis, ada dua tempat yakni Pondok pangan lokal di Jalan Melati dan Warung Makan Khalilah di Jalan Ahmad Yani. Uwi ai ndota juga tersedia di area pasar Mbongawani.

Beberapa “ ine-ine” atau ibu-ibu penjual nasi kuning juga menyediakan uwi ai ndota, tetapi produk jajanan itu biasanya cepat habis terjual. Prinsipnya “siapa cepat dia dapat” berlaku dalam pembelian uwi ai ndota di pasar Mbongawani, Ende. Selain karena penjualnya kurang, hal ini dikarenakan uwi ai ndota sangat diminati terutama di pagi hari.

Uwi Ai Ndota dalam sajian, sederhana namun gurih dan tinggi cita rasanya. Foto : Dan/Fortuna

Sejauh ini, wisata kuliner belum terlalu populer bagi masyarakat Flores dan NTT pada umumnya. Minat masyarakat untuk mengkonsumsi makanan lokal sangat minim.

Makanan lokal termasuk uwi ai ndota belum menjadi menu utama restauran atau warung makan di Ende maupun tempat lainnya di NTT. Nasi masih menjadi pilihan favorit karena telah mengakar dan masih menjadi menu utama. Makanan lokal hanya dianggap sebagai makanan pelengkap.

Hal ini tidak dapat dipungkiri karena dengan bergesernya peradaban maka segala aspek di dalamnya termasuk pola makan ikut mengalami perkembangan.

Kurangnya promosi pemerintah maupun pihak swasta dalam mencanangkan lokalisasi pangan masih menjadi kendala.Terkesan masih jalan di tempat. Padahal, bahan baku pangan lokal tumbuh subur di daerah- daerah di NTT.

Selain itu generasi muda tidak terlalu ingin menikmati suguhan makanan lokal karena dianggap kuno atau tidak ikut perkembangan zaman. Menikmati makanan lokal dianggap kampungan dan jadul.  Mencicipi saja enggan apalagi mengolahnya.

Apabila hal ini dibiarkan terus menerus maka bukan tidak mungkin, suatu saat uwi ai ndota hanya tinggal cerita. Sebab banyak makanan lokal banyak yang telah punah karena tidak diwariskan oleh generasi terdahulu. Orang tua yang makan, anak muda mendengar ceritanya. (Dan/42na)

Iklan Garam Pintu Air

Iklan HUT RI ke 76

Iklan Kopdit Obor Mas

%d blogger menyukai ini: