Fortuna

Menata Destinasi Wisata Nanga Rawa Manggarai Timur, Wujudkan Asa Orang Muda

“Di desa  tersebut mereka berusaha memotivasi anak muda yang lain untuk berani bermimpi agar mau bersama-sama membangun desa melalui pariwisata”

Salah satu bukti kreatifitas Yosep Nitu dan kawan-kawan muda Pokdarwis Siwu Riwu. Foto : Anton/ Fortuna

Oleh : Anton Cangkung (Staf Dinas Pariwisata Manggarai Timur)

“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value” Kalimat ini dipopulerkan oleh Albert Einstein, tokoh saintis dunia yang termashur itu. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam kehidupan hendaknya manusia tidak berambisi untuk menjadi orang yang sukses, melainkan menjadi orang yang bernilai, atau bermanfaat bagi sesama.   

Pemikiran itu mendapatkan relevansinya dan diimplementasikan oleh orang-orang muda di desa Bamo Kecamatan Kotakomba Kabupaten Manggarai Timur. Mereka bersatu dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Siwu Riwu yang dikoordinir oleh Yosep Nitu.

Setelah mengikuti pelatihan tata kelola desa wisata, mereka melanjutkan dengan mewujudkan asa untuk membangun kampung halaman di Nanga Rawa. Di desa  tersebut mereka berusaha memotivasi anak muda yang lain untuk berani bermimpi agar mau bersama-sama membangun desa melalui pariwisata.

Kisah orang muda yang berupaya untuk menebar asa di kalangan generasi muda agar mau memiliki kemauan untuk bekerjasama memang agak jarang terdengar di era serba kompotitif dimana persaingan antar individu sangat tinggi. Disaat banyak orang berlomba-lomba untuk menggapai kesuksesan pribadi, anak-anak muda ini justru mengajak rekan-rekan seusianya untuk meraih mimpi bersama yakni membangun pariwisata yang kreatif, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat di Nanga Rawa.

Bersama membangun desa berbasis pariwisata. Foto : Anton/Fortuna

Mengelola Potensi Pariwisata

Desa Bamo, di Kecamatan Kotakomba Kabupaten Manggarai Timur sama seperti desa-desa lain yang pada umumnya masih mengandalkan sektor pertanian dan peternakan sebagai penopang perekonomian warga. Namun dari segi potensi sumber daya alam memiliki kelebihan dibanding desa-desa lain karena memiliki pesona  pantai berpasir putih dan padang savanna nan hijau yang membentang luas. Di sinilah Yos sapaan akrab dari ketua Pokdarwis Siwu Riwu ini melihat adanya peluang untuk mengelola potensi yang ada menjadi daya tarik wisata yang dapat meningkatkan pendapatan warga.

Yos bersama rekan-rekan muda disana melihat pariwisata sebagai salah satu jalan untuk dapat meningkatkan pendapatan ekonomi warga. “Saya pernah menjadi guide di Labuan Bajo dan menghantar wisatawan ke berbagai obyek wisata di sana. Saya melihat bahwa pariwisata membuka banyak peluang usaha dan kesempatan bagi warga setempat untuk bisa maju. Karena itulah saya mengajak teman-teman disini untuk sama-sama memulai menata wisata pantai dan savana Nanga Rawa agar bersih dan menarik bagi pengunjung” ujarnya.

Mengenai prospek pariwisata ditengah masa pandemic Covid-19 kini, dimana terjadi pembatasan perjalanan wisatawan dari berbagai daerah dan negara di seluruh dunia, Yos melihat hal ini menjadi saat yang tepat untuk berbenah diri dan mempersiapkan obyek wisata dengan baik.

“Kami tidak terbebani dengan minimnya kunjungan wisatawan, justru kami melihat ini sebagai kesempatan yang baik untuk kami menyiapkan obyek wisata dengan baik” katanya.

Sekarang katanya, mereka lebih banyak waktu untuk bekerjasama membersihkan pantai dari sampah plastik, menanam pohon di pinggir pantai, membuat tulisan untuk menggugah pengunjung menjaga kebersihan,  membuat spot-spot foto dan papan informasi wisata, serta sedang berupaya membangun gazebo di tepi pantai.

Meski demikian, dia berharap agar wabah Corona segera berlalau dan sektor pariwisata akan membaik. “Hingga saat ini kami masih menerima pengunjung lokal saja. Namun, kedepannya tentu saja kami berharap bahwa pariwisata dunia akan segera pulih dan wisatawan asing juga bisa datang berkunjung ke sini” gumamnya.   

Seiring berjalannya waktu, tantangan dan hambatan dalam mewujudkan destinasi wisata yang layak dan menarik bagi wisatawan pasti ada dan hal itu tidak dihindari oleh mereka, namun kekompakan dan kerjasama terus mereka bina hingga segala rintangan bisa perlahan-lahan mereka atasi.

“Tantangan terbesar adalah bagaimana menyatukan semua anggota untuk terus bekerjasama, karena kami juga mempunyai kesibukan masing-masing” kata Bruno Nikolaus salah satu anggota pokdarwis Siwu Riwu.

Penghijauan tetap jadi salah satu agenda penting Pokdarwis ini. Foto : Anton/ Fortuna

Dikisahkan untuk menyusun rencana aksi mereka maka saat berkumpul bersama yang tepat biasanya pada waktu senggang di sore hari atau di hari Minggu

Saat ini kata Rino, mereka fokus pada penataan obyek wisata, mencoba menyediakan makanan dan penginapan bagi wisatawan. Konsepnya yang mereak sepakati adalah usaha bersama semisal penginapan (homestay)

Rino berharap pemerintah kabupaten Manggarai Timur dapat membantu mereka dalam menyiapkan SDM yang baik untuk tujuan itu.

“Kami meminta dukungan dari dinas Pariwisata untuk melatih kami menyiapkan makanan dan penginapan yang layak bagi wisatawan” katanya  dengan penuh harap.     

Untuk diketahui bahwa pada tahun 2020 Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur telah menetapkan lima desa sebagai desa wisata yang menjadi contoh pengembangan desa wisata. Kelima desa ini yakni desa Bamo di Kecamatan Kota Komba, desa Compang Ndejing di Kecamatan Borong, desa Golo Loni di Kecamatan Rana Mese, desa Colol di Kecamatan Pocoranaka Timur, dan desa Nanga Mbaur di Kecamatan Sambi Rampas.

Lima desa wisata ini diharapkan dapat berkolaborasi dalam membangun pariwisata sesuai potensi wisata dan sumber daya lain yang ada di masing-masing desa untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat melalui kunjungan wisatawan.

Ajakan Sapta Pesona dalam local content kreatif anak-anak Desa Bamo. Foto : Anton/Fortuna

Berpikir dan Berbuat Out of the Box

Praktek gotong royong atau kerjasama seperti inilah yang diharapkan dapat mendorong kemajuan desa wisata dalam membangun destinasi wisata yang dimiliki.

Hal seperti inilah yang sering disampaikan oleh Bupati Manggarai Timur Agas Andreas pada berbagai kegiatan pelatihan kepariwisataan. Ia mengingatkan agar setelah pelatihan semua peserta harus bisa berpikir dan berbuat sesuatu yang lebih dalam upaya memajukan sektor pariwisata.

“Kalau saat datang ikut pelatihan kalian semua genap, maka setelah pulang pelatihan kalian semua harus ganjil” ujar Bupati Agas

Menurut beliau kata “genap” dalam artian berpikir dan berbuat sesuatu yang normal atau biasa-biasa saja.Sementara yang dimaksud dengan kata “ganjil” yakni berpikir dan berbuat sesuatu yang lebih. Di luar dari sekedar rutinitas yang biasa dilakukan sehari-hari atau berbuat sesuatu yang lain (out of the box). Sehingga pendidikan dan pelatihan itu dikategorikan sukses dari segi input, output, outcome, dan benefit” beliau menerangkan.

Kita berharap bahwa orang-orang muda di kampung Nanga Rawa desa Bamo akan terus berusaha membangun pariwisata di desanya sehingga kelak dapat menjadi destinasi wisata yang ramai, maju, mandiri, dan berdaya saing dan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain  di kabupaten Manggarai Timur.

“Mari berwisata ke Nanga Rawa. Nikmati indahnya savana dan pantai berpasir putih dalam satu bingkai’  (*

Iklan Garam Pintu Air

Iklan HUT RI ke 76

Iklan Kopdit Obor Mas

%d blogger menyukai ini: