Fortuna

Kampung Adat dan Khasanah Ikat Tenun

“Labeling, Packing, Story Telling dan Digital Marketing sebagai Obyek Wisata”

Kampung Adat Ratenggaro, salah satu destinasi wisata super di Sumba, Provinsi NTT. Foto : Intan Primadewati

Oleh : Simply da Flores

Beberapa waktu yang lalu, Propinsi NTT mendapat juara umum dalam Anugerah Pesona Indonesia 2020, dalam beberapa kategori destinasi wisata.

Destinasi yang meraih penghargaan adalah Se’i: Makanan Tradisional: Terpopuler 1, Sentra Tenun Ikat Ina Ndao: Destinasi Belanja: Terpopuler 1, Island Hoping: Pulau Mekko Kabupaten Flores Timur: Terpopuler 3, Fulan Fehan Kabupaten Belu sebagai Dataran Tinggi: Terpopuler 1, Liang Bua Ruteng Kabupaten Manggarai: Situs Sejarah: Terpopuler 1, Kampung Adat Namata Kabupaten Sabu Raijua: Terpopuler 1, Pulau Semau Kabupaten Kupang: Destinasi Baru Terpopuler II, dan Mulut Seribu Kabupaten Rote Ndao Surga Tersembunyi: Terpopuler II.

Saya tertarik dengan obyek ikat tenun dan kampung adat. Kampung adat adalah museum hidup khasanah kearifan lokal, yang kental dengan tradisi lisan. Obyek kerajinan Ikat tenun menjadi salah satu puncak Kearifan Lokal yang mengandung aneka makna dan nilai seni yang tinggi – adiluhung dari masyarakat adat di wilayah Flobamora, Propinsi NTT.

Patut diberi apresiasi kepada Gubernur NTT dan Ibu Julie Laiskodat, yang punya perhatian istimewa terhadap revitalisasi kampung Adat dan kerajanan Ikat Tenun. Selain upaya pelestarian, juga dorongan untuk peningkatan upaya pemanfaatan sebagai obyek wisata dan karya inovatif untuk pemberdayaan ekonomi keluarga dan  komunitas masyarakat adat di Flobamora.

Kampung Adat Flobamora

Hal utama sebelum menjadi obyek wisata adalah bagaimana status dan keberadaan Kampung Adat bagi komunitas adat pemiliknya. Apakah masih dijaga dan menjadi bagian kehidupan masyarakat adat pemiliknya? Apakah dicintai, dijaga dan dibanggakan oleh masyarakat pemiliknya; para pemangku adat dan anggota komunitas dari kesatuan adat yang bersangkutan? Hal ini sangat penting dalam relasinya sebagai obyek wisata.

Jika sudah ditinggalkan komunitasnya, maka kampung adat dengan semua kelengkapannya (rumah adat, tempat ritual, kalender musim, pemangku adat, kekayaan adat budaya) sudah menjadi fosil dan tinggal cerita kenangan. Maka peluang pengembangan sebagai obyek wisata, lebih mungkin sebagai museum dan catatan sejarah masa lalu.

Jika masih dijaga, dihidupi, dibanggakan dan dilestarikan oleh komunitas pemiliknya, maka khasanah adat budaya sungguh sesuatu yang integral dan penting bagi komunitas adat pemilik kampung adat tersebut.

Karena itu, jika menjadi obyek wisata, maka kekuatannya adalah kihidupan dan kearifan adat budaya yang khas tersebut. Kampung adat sebagai sebuah oase dan sumber energi bagi kelangsungan totalitas dimensi kehidupan masyarakat adat pemiliknya. Kemajuan zaman tidak menggerus dan meniadakan keberadaan kampung adat serta seluruh warisan tradisi nilai adat budaya tersebut.

Wisatawan justru tertarik menemukan dan mengalami sebuah kekuatan – energi kehidupan dalam khasanah leluhur adat  budaya di kampung Adat. Untuk itu, pelestarian dan revitalisasi diperlukan bagi Kampung Adat yang demikian, agar menjadi obyek wisata istimewa.

Di bumi Flobamora – Propinsi NTT, bisa disebutkan beberapa kampung adat. Misalnya di Pulau Timor: ada kampung adat Tamkesi di Biboki – Kab. TTU, kampung adat Boti di Kab. TTS, juga di Pulau Semau, Pulau Sabu, Rote, Alor dan Lembata. Di Pulau  Flores, misalnya kampung adat Wae Rebo – Kab. Manggarai, Bena – kab. Ngada,  kampung adat Wologai di Kab. Ende. Di Pulau Sumba, misalnya kampung adat Praijing – Kec. Waikabubak – Kab. Sumba Barat, juga di kampung Kodi, Lambanapu dan Mamboro. 

Ketika kampung adat dijadikan obyek wisata; entah difasilitasi Pemerintah atau oleh para pegiat wisata, maka ada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan. Sarana dan prasara penunjang mutlak diperlukan, akomodasi pendukung, soal kebersihan, majemen pengelolaan dan pelayanan, promosi dan pemasaran adalah bagian integral dalam bisnis pariwisata.

Hal pokok yang harus sungguh diperhatikan adalah kesiapan dan partisipasi komunitas pemilik kampung adat. Bagaimana proses persiapan dan pemberdayaan manusia pewaris kampung Adat, agar ketika menjadi obyek wisata, bisa terjalin relasi saling melengkapi dan saling memberi manfaat, lalu ada perjumpaan adat budaya yang saling menguatkan dalam peradaban dan nilai kemanusiaan.

Kampung adat adalah potensi dan berlian tersembunyi bagi wisata, tapi menuntut banyak hal sehubungan dengan pemberdayaan, manajemen, packing, labeling, story telling dan marketing, agar sungguh bermanfaat bagi multi pihak, jika hendak dijadikan obyek wisata istimewa.

Khasanah Ikat Tenun

Dalam masyarakat adat budaya di bumi Flobamora – Propinsi NTT, ada satu karya budaya tradisi yang istimewa adalah Ikat Tenun. Warisan adat budaya Ikat Tenun, hampir ada dalam sebagian besar komunitas adat budaya di Flobamora. Inilah karya adiluhung masyarakat adat Flobamora, dengan ciri tradisi lisan – oral tradition.

Ada prosesnya yang unik dengan teknologi lokal yang sederhana, tetapi pewarnaannya istimewa dengan bahan alami. Juga kaya motif ragam hias, dan sarat makna sosial budaya – filosofi dan spiritual sesuai konteks tradisi komunitas adat para pengrajinnya. Proses pewarisannya pun unik yakni dalam tradisi lisan dari generasi ke generasi.

Gubernur NTT sangat peduli untuk mendukung revitalisasi kampung adat dan kerajinan Ikat tenun. Salah satu kebijakannya adalah keharusan bagi ASN dan pegawai BUMN-D di NTT, sekali seminggu pada hari Kamis, wajib mengenakan busana daerah pada saat kerja.

Juga Ibu Julie Laiskodat mempromosikan hasil ikat tenun Flobamora sampai ke manca negara, dalam berbagai ajang fashion dan pameran Internasional. Sebuah upaya nyata mendukung inovasi pemanfaatan Ikat tenun untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat Flobamora.

Ketika pesatnya modernisasi dan perubahan budaya, maka satu sisi ada upaya mempertahankan kepentingan adat budaya lokal, namun ada inovasi untuk memenuhi kebutuhan zaman. Misalnya ada hasil ikat tenun untuk dijual dan dipakai untuk kebutuhan fashion modern dan juga oleh pihak di luar komunitas pengrajin dalam aneka keperluan.

Ketika tradisi Ikat tenun menjadi obyek wisata dan perdagangan modern, maka tuntutan soal penyesuaian dengan kebutuhan konsumen di luar komunitas adat pengrajin adalah sebuah tantangan baru. Perlu perubahan motif, penyesuaian warna dan pemenuhan hukum bisnis modern. Apalagi masuk pasar digital zaman now.

Kembali pada soal pemberdayaan bagi pengrajin untuk mengubah pemahaman dan ketrampilan sehububgan dengan kebutuhan konsumen di luar tradisi adat budaya para pengrajin ikat tenun. Disinilah para pengrajin ikat tenun tradisi membutuhkan peran pemerintah daerah dan para pelaku wisata serta kaum profesional berbagai bidang, untuk berkolaborasi.

Beberapa hal pokok soal kualitas produksi dan reproduksi Ikat Tenun, packing dan labeling, manajemen produksi dan kualitasnya, promosi dan pemasaran, serta penggunaan teknologi digital menjadi tantangan bagi pengrajin.

Keharusan Kolaborasi dan Inovasi

Jika kampung adat dan Ikat tenun menjadi obyek wisata, maka ada keharusan untuk kolaborasi dan inovasi. Kolaborasi multi pihak dari komunitas pemilik kampung adat dan pengrajin ikat tenun dengan berbagai pihak di luar komunitas.

Misalnya dengan pemerintah daerah sampai pusat, para peofesional berbagai bidang dan para pelaku wisata serta dunia bisnis umumnya. Titik temunya adalah keterbukaan untuk relasi kerjasama saling melengkapi dan saling menguntungkan. Jika hal ini diabaikan, pasti muncul banyak kendala dan masalah.

Soal inovasi, karena ada aneka kebutuhan para wisatawan, maka komunitas pemilik kampung adat dan para pengrajin Ikat Tenun harus berani melakukan inovasi. Inovasi – keterbukaan menemukan hal baru untuk menjawabi kebutuhan wisatawan dalam relasi saling melengkapi dan saling memberi manfaat.

Proses pemberdayaan di tingkat komunitas pemilik kampung adat dan pengrajin ikat tenun kiranya membutuhkan para agen lokal dari generasi muda untuk ditingkatkan kapasitasnya dalam melakukan kolaborasi dan inovasi.

Upaya kolaborasi dan inovasi demikian, jelas harus menghargai dan menjaga kelestarian khasanah adiluhung adat budaya di satu pihak, sekaligus di saat yang sama berusaha menjamin keberlanjutan dan kualitas obyek wisata bagi para wisatawan.

Kemajuan digitalisasi dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya kemudahan informasi dan komunikasi; dimana membuat dunia makin melebur menyatu, maka kolaborasi dan inovasi tidak bisa ditawar. Mau dapat manfaat wisata, ya harus berubah dan siap melakukan kolaborasi dengan multi pihak dan inovasi. Jika tidak siap, ya ketinggalan kesempatan dan bisa jadi korban kemajuan zaman now , dengan ciri khusus zaman yakni semua serba digitalisasi.

Iklan Garam Pintu Air

Iklan HUT RI ke 76

Iklan Kopdit Obor Mas

%d blogger menyukai ini: