Fortuna

Dr.Andreas Hugo Parera : Destinasi Terintegrasi Bisa Mendongkrak Pariwisata Flores

Pariwisata Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur itu khas, eksotis, kaya dan punya nila jual tinggi. Sudah sejak lama Flores terkenal karena pariwisatanya. Tidak  berlebihan, tapi dua keajaiban dunia ada di Flores; TN Danau Kelimutu dan TN Komodo yang ada baiwak raksasa Varanus Komodoensis.

Meski demikian manajemen pengelolaan yang lama masih bersifat tradisional, belum memberi dampak eknomi untuk warga secara luas. Pemda se-daratan Flores Lembata juga nampaknya masih bekerja sendiri-sendiri. Kehadiran Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) belakangan mestinya menjadi angin segar percepatan pembangunan dan konsolidasi namun masih saja ada gesekan yang mengarah pada belum solidnya stakaholders Flores mengurus pariwisata.

Fenomena ini memantik anggota Komisi X DPR RI, dari Fraksi PDI Perjuangan, Dr.Andreas Hugo Pareira (AHP) untuk angkat bicara. Baginya, gencarnya pembangunan infrastruktur Labuan Bajo, TN Komodo dan kawasan penyangga oleh pemerintah pusat dengan tagline “Premium” sejatinya menjadi kabar baik yang harus diapresiasi meski disana sini perlu diberi catatan demi sebuah Pariwiasata Flores yang maju, komodatif dan juga ekonomis.

Dari evaluasinya, sektor pariwisata masih lamban bergerak maju karena setiap kabupaten masih berpikir membangun daerahnya sendiri – sendiri. Pariwisata Flores masih diliat parsial karena Labuan Bajo. Padahal, Flores itu sebuah pulau yang mengakomodasi kepentingan 8 kabupaten yang harus bersinergi, kolaboratif, dan menjadi kawasan pariwisata kerakyatan yang maju, bersaing dan kompetitif berdasarkan sumber daya lokal

Seperti apa Konsep Percepatan pembangunan pariwisata Flores dimata Wakil Rakyat dari Dapil Flores, Lembata Alor, mari ikuti wawancara eksklusif Kontributor Fortuna, Mario Sina dengan Anggota Komisi X DPR RI ini. Berikut nukilannya:

Sebagai Putra Flores, apa yang Pak AHP lihat sebagai kekuatan- kekuatan pariwisata Flores.

Yang pasti sekarang potensi digarap dengan serius, potensi yang kita miliki dengan yang ada di Labuan Bajo dengan pemicu utamanya adalah biawak raksasa komodo,  juga keindahan alam laut dan lingkungannya yang unik, itu menjadi modal dasar untuk mulai mengembangkan pariwisata di Flores.

Tapi juga kita tahu bahwa di Flores ini punya potensi yang lain dari pada Labuan Bajo yang mungkin belum dieksplor atau belum dikenalkan secara masif, sehingga belum banyak orang yang tahu. Kita tahu ada Kelimutu yang juga rencana kedepan akan dibuat semacam Geopark di Flores. Kelimutu Taman Nasional Geopark akan dibangun dengan perencana yang lebih baik sehingga dapat menarik Wisataan datang ke Flores.

Sementara di Kabupaten Sikka di Maumere dengan teluk Maumere dan keindahan alam dibawah lautnya juga Wisata Budaya, ada Tenun Ikat dan berbagai macam keunikan-keunikan yang ada di Flores ini yang bisa menjadi potensi Wisata kita.

Apakah Komisi 10 setujuh, hanya Labuan Bajo diberi sentuhan khusus karena dianggap sebagai Pilot Project untuk kabupaten lain?

Yang itu tadi makanya saya katakan bahwa faktanya Labuan Bajo sekarang jadi super premium, super pioritas, destinasi premium di Indonesia. Tapi itu potensi yang harus kita jadikan Labuan bajo menjadi pintu masuk untuk mengenal dan menjadikan Flores sebagai destinasi terintregrasi. Karena toh Labuan Bajo itu ada di Flores,  yang mana Flores secara keseluruhan mempunyai potensi wisata yang banyak yang bisa dikembangkan untuk menopang destinasi wisata terintergrasi tadi.

Anggaran Pariwisata Flores, sekilas hanya Labuan Bajo, menurut Pak AHP ?

Memang selama ini bukan sekilas, faktanya begitu. Faktanya selama ini anggaran yang disiapkan itu untuk Labuan Bajo. Karena itu memang yang direncanakan. Perencanaan yang ada ini untuk pengembangan wisata Labuan Bajo. Terkonsentrasi untuk di Labuan Bajo.

Makanya saya bilang tadi ,kalau mau mengintergrasikan wisata di Flores, daerah-daerah yang lain mempunyai perencanaan juga gitu. Perencanaan itu kemudian disinkronkan dengan Labuan Bajo. Sehingga menjadi satu destinasi terintegrasi. Jadi kita jangan malu kenapa hanya di Labuan Bajo karena you tidak bikin perencanaan, tidak bicara dengan BOP. Jadi jangan tunggu, tapi mari kita berinisiatif karena ruang sudah dibuka.

Sekarang Bupati dengan dinas pariwisata dan Bapeda nya, marilah merencanakan pariwisata di daerah masing-masing, terintergrasi dengan Labuan Bajo sehingga dengan demikian ini menjadi destinasi terintergrasi. Kita manfaatkan Labuan Bajo sebagai pintu masuk. Sudah ada potensi itu.

Seperi dulu kan orang datang ke Pantai Kuta. Kuta itu adalah Bali. Tetapi sekarang dengan adanya destinasi-destinasi yang lain, jadi dia juga datang ke Ubud, datang ke berbagai tempat yang menarik untuk para turis. Sehingga dia tidak hanya datang ke Kuta lagi, tetapi dia datang ke Bali secara keseluruhan.

Sejauh ini Pak AHP Lihat dari sisi perencanaan Kabupaten lain sebagai penyangga Labuan Bajo bagaimana? Apakah mereka sudah membuat perencanaan pariwisata yang matang?

Saya lihat belum, ini kan kita baru mulai. Maka saya katakan tadi saya ini barusan mulai berbicara apa politisnya. Menyuarakan bahwa ini Flores destinasi wisata yang terintegrasi. Sebelumnya, orang hanya omong Labuan Bajo terus.

Saya menyadari karena saya tau bahwa banyak turis datang ke Labuan Bajo tetapi dia tidak tau bahwa itu ada di Flores. Artinya selama ini hanya Labuan Bajo yang dikenal. Padahal Flores itu jauh lebih besar dari pada Labuan Bajo dan jauh lebih banyak hal  yang kita lihat juga disitu. Tetapi kalau tidak ada orang yang omong,  orang tidak tau juga gitu.

Apa pandangan Abang tentang Badan Otorita pariwisata Labuan Bajo Flores(BOPLBF)

Adanya  Badan Otorita ini harus kita manfaatkan, jangan kita musuhi, jangan kita lihat bahwa otoritas ini tidak buat apa-apa. Ini menjadi persaingan kita. Justru kita harus manfaatkan. Ini pintu masuk, ini birokrasi yang dari pusat yang ada di daerah. Makanya saya ajak Ibu Sana Fatina (Direktur BOPLBF red) datang bertemu ,berbicara. Kalau tidak kita tidak kenal, kita hanya marah-marah. Nanti hasilnya apa, toh tidak ada hasilnya.

Sejauh mana Bapak AHP melihat kinerja BOPLBF selama ini ,apakah sudah sejalan dengan kebijakan Jokowi menjadikan Flores Premium?

BOP ini kan merencanakan, mengkordinasi lintas sektoral , lintas kementrian untuk kemudian mengekskusi program-program yang ada dengan perencanaan. Pelaksanaan fisiknya itu kan PUPR.

Masih ada yang perlu dikritisi dari keberadan BOPLBF ini? Karena selama ini BOPLBF seakan hanya urus Labuan Bajo.

Memang sekarang tugasnya Labuan Bajo, makanya kita mengajak ini menjadi harus mulai dari ide, konsep dulu yang matang, sehingga dengan demikian, dia diberikan tugas mengerjakan. BOPLBF inikan bukan manusia tapi BOPLBF inikan lembaga, di dalamnya isi manusia-manusia, tapi manusia ini menjalankan tugas sesuai dengan tupoksinya. Kamu rubah dulu konsepnya, kamu siapkan dulu konsepnya, baru  kamu perintahkan mereka untuk kerja.  Itu tugas DPR.

Konsep membangun pariwisata Flores menurut Pak AHP?

Ya itu tadi, kita manfaatkan potensi wisata yang sudah kita miliki tapi harus diperkuat dengan perencanaan. Saya bilang tadi pariwisata itu industri. Industri yang memproduksi barang dan jasa. Masyarakat kita ini masih masyarakat agraris, masyarakat nelayan yang bekerja hasil dan mereka langsung makan. Kebanyakan kan kaya begitu. Mindset kita harus berubah, kalau kita mau menjadikan ini industri.  Ada hospitaliti, perilaku yang harus kita perhatikan, kita menyiapkan spot-spot fisiknya ,kita menyapkan perangkat softwarenya, belum lagi penggunaan teknologi digital, ini kan bukan barang bolak balik tangan. Kalau bangun fisiknya saja ya  datang uang bangun, tetapi kemudian bangun dan kau menjadi penonton, ya buat apa.

Maumere dulu cukup maju pariwisata, saat ini seakan tenggelam, adakah yang salah urus?

Harus saya katakan bahwa kita juga berkembang, kita tidak mundur, tetapi orang lain lebih maju dan kita ketinggalan. Urus pariwisata bukan hanya nasional, bukan hanya daerah, tetapi kita bersaing.

Bupati Sikka sering kritisi soal bangun pariwisata Flores harus dalam konteks kawasan, padahal anggaran untuk pariwisata Sikka sendiri minim, menurut  Bapak?

Makanya saya bilang tadi mindset dari pemerintah harus berubah. Ketika pemerintah berubah, masyarakat dan pelaku pariwisata berubah. Tetapi kalau saya lihat masyarakat kita disini welcome.

Apakah yang ingin Pak AHP perjuangkan melalui Komisi X untuk percepatan pariwsata di Kabupaten Sikka yang lagi tidur panjang?

Saya bicara umum artinya bicara Flores terintegrasi. Karena ini kita bicara kepentingan nasional. Bahwa disini ada Kabupaten Sikka, orang kan kalau dia datang ke Kabupaten Sikka juga dia datang ke Flores, datang ke Indonesia. Datang ke Labuan Bajo juga ke Flores. Karena itu turis atau wisatawan yang kita perlu dari mereka adalah dia datang, dia tinggal, dia kasih keluar uang. Kalau dia hanya datang terus dia pulang, apa yang kita dapatkan.

Bandara Maumere mau membangun terowongan sudah 6 tahun tak ada hasilnya. Lahan OK, tapi uang belum ada dari Kemenhub, apa langkah AHP?

Itu tadi, kenapa saya bilang Labuan Bajo bisa karena da Badan Otorita Pariwisata. Karena dia bisa menerobos ini secara lintas kementerian. Makanya saya bilang tadi, kalau mau bikin perencanaan itu, matching kan dengan perencanaan dari BOP. Manfaatkan ini, jangan belum apa-apa kita sudah curiga.

Apa pesan Bapak untuk Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat yang menetapkan pariwisata sebagai prime mover?

Ini sudah betul, tinggal bagaimana melaksanakannya. Omong – omong kan pasti bisa semua. Pa Gubernur sangat mendorong ini, tetapi tetap tidak bisa sendiri. Harus dengan pemerintah pusat dan dunia internasional, dunia swasta. Jadi, kita harus kerja sama dengan banyak pihak untuk mendorong kemajuan pariwisata. Saya harapkan sinergitas semua elemen pemangku kepentingan pariwisata harus dirangkul.

Apa pesan Anda untuk pelaku Bimtek kali ini?

Terhadap para pelaku pariwisata di Sikka yang telah mengikuti Bimtek Adaptasi Kebiasan Baru, saya mau bilang kalau para pelaku pariwisata adalah soft warenya, merekalah yang berhadapan dengan para wisatawan. Mereka ini ada di ujung tombak dari industri pariwisata. Dengan keberadaan mereka di ujung tombak dari pariwisata, mereka harus dipersiapkan. Mereka harus paham apa yang direncanakan. Sehingga ini menjadi satu tarikan kerja sama antara pembuat kebijakan dengan pelaku pariwisata di lapangan. Kalau mereka ini tidak siap, turis datang mereka marah-marah, mereka tidak melayani dengan baik maka orang tidak mau datang. Kau biar bangun hotel baik-baik, kau biar bangun fasilitas hebat-hebat tetapi kalau mereka ini tidak welcome dengan turis, tidak melayani dengan baik maka orang lain yang akan datang melayani.

Pesan untuk Bupati dan Para Pemangku kepentingan di Kabupaten Sikka?

Saya berharap Kabupaten Sikka harus bisa menangkap peluang dengan keberadaan Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores. Kalau tidak menangkap peluang ini, maka orang lain yang akan menangkap peluang tersebut. Juga Pemkab-pemkab lain di Flores Lembata.  Hanya dengan itu maka gagasan besar membangun pariwisata Flores secara terintegrasi dapat dicapai. (*

%d blogger menyukai ini: