
KUPANG, fortuna.press – Perayaan Natal tahun 2025 sungguh menjadi momentum pembaharuan keluarga Katolik. Benar bahwa keluarga adalah gereja kecil, tempat bersemayamnya Iman, Harapan dan Kasih, namun dibalik itu semua, kehidupan keluarga masa kini tidak seindah yang dinarasikan. Keluarga sering kali menjadi sarang permasalahan dan mengancam gereja masa depan.
Setidaknya itulah intisari dari Kotbah Romo Longginus Bone, Pastor Paroki St. Fransiskus dari Asisi, Keuskupan Agung Kupang (KAK) ketika memimpin perayaan Malam Natal di Kapela St. Agustinus Bello, Rabu, 24 Desember 2025.
Sejalan tema Natal 2025, Allah Hadir Untuk menyelamatkan Keluarga” (Mat.1 : 21-24), katanya, Gereja ingin memberi ruang dalam mengangkat hal-hal dasar dalam kehidupan manusia yakni keluarga masa kini.
Mengutip lirik lagu karya BCL bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga, Istana yang paling indah adalah keluarga serta puisi yang paling bermakna adalah keluarga, Romo Longginus mengatakan fakta bahwa kehidupan keluarga hari –hari ini tak seindah yang dinyanyikan.
“Kenyataan bahwa keluarga tak seindah itu, ada banyak ragam persoalan yang menerpa keluarga moderen dewasa ini bahkan bisa mengancam sejumlah keluarga diambang kehancuran; keluarga bukan lagi sarana kasih persaudaraan namun ruangnya neraka,” ujarnya.
Romo Dus mengungkap setidaknya ada 4 ancaman keluarga masa kini, Pertama; persoalan ekonomi, keuangan, finansial dan pengangguran kadang jadi pemicu terjadinya stress dan konflik antara suami, istri dan anak.
Hal kedua, yakni persoalan komunikasi yang tidak harmonis. Komunikasi tidak efektif dan berakhir pada kesalahpahaman apalagi terdapat ketidakjujuran.
Ketiga, adalah ketidakharmonaisan hubungan suami- istri misalnya adanya perselingkuhan, intervensi keluarga besar dan lain sebagainya.
Keempat, adalah kekerasan dalam rumah tangga yang dialami keluarga-keluarga karena berbagai permasalahan.
Ia mengutip data BKKBN bahwa sebanyak 3.127.000 orang atau 4,73 % keluarga mengalami cerai hidup pada tahun 2022 yang mana didalamnya tentu ada juga keluarga katolik.
Hal ini tidak dapat dihindari, namun menjadi fakta bahwa komunikasi dan penyerahan diri pada Tuhan adalah solusi terbaik bagi setiap permasalahan keluarga karena diyakini Tuhan tidak pernah meninggalkan setiap umatnya.
Sebagai pastor Paroki, Romo Dus mengakui banyak keluarga bahkan keluarga muda yang datang mengeluh dengan seuntai permasalahan perkawinan mereka.
“Saya yakin keluarga pasti tidak bebas dari masalah atau tantangan, namun masalah juga tidak boleh membuat keluarga kita jadi hancur atau terpisah,” ujarnya
Untuk itulah Romo Dus menggelorakan ajakan untuk menyelamatkan keluarga.
Tema Natal tahun ini sangat menarik untuk direfleksikan karena keluarga adalah tempat pertama kehadiran Allah, Yesus hadir dalam keluarga Yosef dan Maria, Yesus hadir dalam keluarga kita.
Keluarga Kristiani kata dia, hendaknya mengikuti semangat dan doa-doa dalam keluarga Nasareth, yang mengajarkan kita bahwa Allah tidak pernah jauh, dialah “Emanuel, Allah Beserta Kita”
Kisah bahwa Yusuf ingin menceraikan isitrinya Maria karena dia berpikir bahwa Maria mengandung bukan darinya tetapi saat itupula Tuhan hadir dan meyakinkan Yusuf “Hai Yusuf, jangan takut mengambil Maria sebagai istrimu–dan dalam kecemasan,Yusuf yakin pada Tuhan”
Ketaatan Yusuf pada Tuhan hendaklah menjadi teladan yang terus bersama Maria, menghantar Maria hingga melahirkan putranya Yesus Kristus Sang Juru Selamat di Kota Betlehem yang diperingat dalam perayaan Natal.
Ketaatan itupula adalah bukti Tuhan hadir untuk keluarga dengan tak sedikitpun meninggalkan keluarga.
“Marilah kita perkuat iman kita bahwa Yesus selalu ada dan menemani kita, Dia selalu ada di tengah-tengah keluarga. Mari rawatlah keluarga jadi gereja mini, untuk berdoa, membangun persekutuan iman harapan dan kasih,” ajaknya




