
KUPANG, fortuna.press – Kalem, irit bicara tapi murah senyum dan bersahaja. Ia juga adalah pendengar yang setia, ramah, dekat dengan rakyat dan jarang marah orang apalagi sampai teriak-teriak. Siapapun yang mulai mengenalnya pasti punya kesan yang sama. Itulah mendiang Frans Lebu Raya, Mantan Wakil Ketua DPRD NTT, Wakil Gubernur dan Gubernur NTT 2008-2018. Karier politiknya gemilang namun sayang sinar itu seketika redup, tepat hari ini, empat tahun lalu 19 Desember 2021. Sedih!!!
Tentu banyak orang memiliki pandangan dan kesan yang berbeda pula, soal keseharian, dalam urusan keluarga, dalam hingar bingar politik dan juga tentu model kepemimpinannya selagi dibangku kuliah, menjadi aktivis PMKRI dan GMNI, di gedung DPRD NTT serta menjabat Wagub dan Gubernur NTT. Sebagai pekerja media, saya mengenal Frans Lebu Raya sebagai seorang yang pelit berkomentar tapi cerdas, keren dan penyayang. Dia selalu membuat wartawan penasaran dari gaya diplomasinya yang pelit, memantik tanya dan sorotan matanya yang sulit ditebak. Ada saatnya bisa tegang dengan pemberitaan media, tapi tetap tenang dan jiwa kebapaannya-selalu hadir diujung.
Namun sebagai jurnalis Tabloid dan Majalah FORTUNA yang fokus membidik isu-isu kepariwisataan, ekonomi bisnis dan isu internasonal, saya lebih tertarik untuk mengenang Frans Lebu Raya kebijakannya sebagai gubernur pada sektor pariwisata saat dia memimpin NTT. Harus diakui, selama 10 tahun (2008-2018), perhatiannya pada pengembangan sektor pariwisata mungkin saja tidak banyak, tapi terasa begitu kuat dampaknya hingga hari ini.
Frans Lebu Raya memang bukanlah pengusaha, bukan juga pelaku wisata. Ia hanyalah seorang anak petani dari Desa Wataone Adonara Timur Kabupaten Flores Timur yang kemudian beruntung bisa sekolah bahkan mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.
Ditengah kebutuhan kuliah yang serba sulit saat itu, Frans yang suka berorganisasi itu menghabiskan banyak waktunya untuk belajar, berdiskusi, pun pimpin demo hingga dipercaya menjadi Ketua Senat FKIP Undana. Dia pernah menjadi aktivis Perhimpuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kupang dan kemudian mendirikan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kupang.
“Frans muda” sempat menjadi Guru Olahraga dan dosen Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Naluri aktivisnya itu memacu Frans menjadi pribadi yang tangguh, jenius serta visioner karena bergulat dengan pengalaman praksis lintas keilmuan. Ia mendirikan LSM Yasmara dan kemudian berpartai politik PDI yang kemudian jadi PDI Perjuangan bahkan jadi Ketua DPD PDI Perjuangan NTT.
Meski dengan karier yang bersinar, Frans nampak lama menikah. Satu-satunya wanita pujaan hati yang bisa dinikahi adalah Lusia Adinda Dua Nurak, wanita cantik asal Maumere yang cerdas dan tangguh menghantar karier politik Frans Lebu Raya hingga singgasana.
Meski bukan seorang ekonom, program- program Frans Lebu Raya sebagai seorang Gubernur kala itu sangat beririsan kuat dengan urusan pemberdayaan ekonomi, pariwisata dan kesejatheraan masyarakat.

Brilian Menuju Kursi NTT 01
Pengalaman dan kelincahan nalarnya Frans Lebu Raya saat itu memantik dia memilih berpolitik melalui jalur PDI dan terpilih menjadi anggota DPRD NTT, langsung menjadi Pimpinan DPRD NTT bahkan beruntung pada periode yang sama dipinang menjadi Calon Wakil Gubernur NTT berpasangan dengan mendiang Piet Alaexander Tallo dan menang. Kariernya meroket, periode berikunya Frans Lebu Raya bertarung dalam pemilihan langsung Pilkada Gubernur NTT bersama Esthon Foenay dan menduduki kursi Gubernur NTT. Singkat padat dan jelas.
Meski demikian, satu yang belum pernah Frans lakoni adalah menjadi pengusaha. Buka kios tak pernah, kontraktor–bukan, tetapi bisa saja pernah belajar berjualan rantangan saat cari dana semasa kuliah untuk mendukung banyak kegiatan kemahasiswaan.
Sejak dilantik 18 Juli 2008, menjadi Gubenur Frans Lebu Raya sudah punya modal, pengalaman jadi aktivis organisasi, LSM, pernah di DPRD, dan menjadi Wakil Gubenur. Sangat komplit dan cukup mengantar dia untuk menelorkan program-program pro-rakyat. Ada Anggaran untuk Rakyat Menuju Sejathera (Anggur Merah). Sebuah program yang secara filosofis mengangkat harkat dan martabat kaum marahen– rakyat kecil, bahwa rakyat perlu diberi kepercayaan untuk mengurus dirinya sendiri, mengurus usahanya—memberdayakan diri sendiri. Tugas pemerintah adalah menjadi fasilitator, mendamping dan membimbing tata kekola (manajemen usaha) dan memberikan atau memfasilitasi permodalan jikalau dibutuhkan. Itulah semangat awal hadirnya Anggur Merah. Meski belakangan, mental masyarakatlah yang jadi penentu suskes tidaknya usaha mereka dengan kemudahan modal Anggur Merah yang diberikan pemerintah.

Pariwisata Sektor Unggulan
Disisi pengembangan sektor lain, Frans Lebu Raya memilih pariwisata sebagai leading sector. Pariwisata harus menjadi penggerak utama sektor lain. Dipahami bahwa Bali dan NTB adalah dua daerah tetangganya provinsi NTT yang bisa sangat maju karena daya dukungan sektor pariwisata. Tidaklah sulit, program itu bisa merambat ke NTT karena NTT punya segalanya. Alam bahari budaya religi, sejarah dan wisata minat khusus. Magnet wisata langkap dan terdistribusi baik dan beragam dari pulau Sumba Timor Alor Rote Sabu Lembata dan Flores
Tidak main-main, sejak menjadi Gubernur NTT tahun 2013 Frans Lebu Raya mulai gas dengan Sail Komodo, Tour de Flores dan banyak program kegiatan lain yang mendukung penuh kebijakan politiknya yang menjadikan “Pariwisata Sebagai Sektor Unggulan”.
Harus diakui NTT punya potensi wisata alam budaya bahari sejarah dan minta khusus yang jadi magnet wisata bernilai internasional. Pesona yang luar biasa ini belum didukung penuh dengan Amenitas, Aksesiblitas dan Atrakasi (3A)– tiga modal dan daya dukung utama kemajuan sektor pariwisata. Dia paham, apa yang bisa dinikmati wisatawan, makan minum dan menginap diamana, lalu bagaiamana akses bisa datang ke NTT, daerah yang punya ”surga tersembunyi” itu?
Manggarai Barat misalnya, punya satwa langkah Varanus Komodoensis—satu-satunya di dunia, belum berarti apa-apa kalau pemerintah tidak mengerti cara menjualnya, akses transportasi udara sulit, penginapan belum siap apalagi masyarakatnya. Tapi tugas seorang pemimpin adalah berani mengambil tindakan dengan segala kemungkinan resiko. Gelar event dan undang orang datang, kesiapan lain diyakni mengikuti kalau proses dan keputusan itu dibuat.
Dengan adanya event internasional Sail Komodo yang digalakan mendiang Frans Lebu Raya, maka jendela pariwisata NTT terbuka. Untuk kedua kalinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang jarang kunjungi desa-desa akhirnya hadir juga di provinsi NTT tepatnya di Pantai Pede, Labuan Bajo, lokus puncak pagelaran Sail Komodo 2013.
Itulah awal kemajuan Labuan Bajo yang kini mendunia. Pemerintah pusat pun kemudian buka mata dengan jurus ‘titip pukul’ anggaran. Memasuki masa Presiden Jokowi PDIP, Labuan Bajo didaulat menjadi satu dari 5 lokus proyek pengembangan pariwisata nasional. Bandara Komodo dibangun dan Taman Nasional Komodi jadi destinasi utama dunia.
Ajak Niti Susanto, TransNusa Rajai Udara NTT
Tidak sendirian, mendiang Frans juga mengajak Maskapai TransNusa milik konglomerat NTT Alm.Niti Susanto ayahanda Ketua DPD I GOLKAR NTT saat ini Alain Niti Susanto, untuk memperkuat konektivitas udara mendukung mobilitas wisatawan serta membuka isolasi udara NTT. Dimasa itu, TransNusa menjadi “rajanya langit NTT”. Dari awalnya hanya 2 pesawat sewaan, menjadi maskapai resmi dengan kekuatan 10 armada milik sendiri serta memenuhi standar sertifikasi Air Operator Certificate (AOC).
Setelah TransNusa lalu muncul lah Wings Air (Lion Group) di tahun 2018 dan menjadi raja baru hingga saat ini.
Stakholders yang mendukung penuh pengembangan sector pariwisata adalah mitra Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) NTT yang dipimpin Fredy Ongkosaputra dan Ketua Asosiasi Tour Travel (ASITA) NTT Dewa Made Adnya yang kemudian dilanjutkan oleh Abednego Frans. Ada Mesakh Toy selaku Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) NTT dan PHRI.




