Tuesday, January 20, 2026
spot_img
More

    Latest Posts

    Pameran Arkeomusikologi Timor, Menyorot “Jejak Bunyi’ Leluhur Dawan dan Tetun

    KUPANG, fortuna.press – Pulau Timor, provisi Nusa Tenggara Timur menyimpan sejuta kekayaan musik tradisional. Orang Timor khususnya dari etnis Dawan dan Tetun meyakini bahwa bunyi bukan sekedar suara. Ia adalah penanda asal-usul, pengikat relasi manusia dengan alam, serta media komunikasi antara dunia hari ini dan dunia leluhur.
    Berbagai langkah pelestarian dilakukan oleh Tim Riset dari Sanggar Latasga, musikolog dan pakar argeologi untuk memastikan kekayaan tersebut tidak punah bahkan bisa terus dilestarikan untuk kepentingan edukasi dan literasi bagi generasi mendatang.

    Salah satu langkah nyata yang dilakukam Tim Riset dari Sanggar Latasga adalah  menggelar Pameran Seni Rupa dan Musik Tradisional atau Arkeomusikologi Timor bekerjasama dengan Balai Pelestarian Budaya XVI Nusa Tenggara Timur pada tanggal 21 – 23 Desember 2025 di Galeri Okomama, Taman Budaya NTT

    Pameran ini adalah acara budaya penting yang menampilkan warisan musik dan instrumen tradisional Timor.

    Event itu bertujuan mengedukasi betapa bunyi menjadi simbol penting dalam relasi sosial manusia dengan alam serta penghubung komunikasi dengan para leluhur.
    “Pameran Arkeomusiklopedia Timor menghadirkan jejak-jejak musikal masyarakat Dawan (Atoin Meto) dan Tetun, dua suku dengan tradisi budaya besar yang sejak berabad-abad membentuk lanskap bunyi di pulau Timor,” ujar Budayawan dan Kurator Drs, Sofyan Koerniawan dalam rilisnya yang diterima fortuna.press, siang ini.
    Tim dari Balai Pelestarian Kebudayaan XVI Nusa Tenggara Timur melakukan kunjungan ke rumah budaya Suku Dawan dan Tetun belum lama ini untuk melakukan pengukuran alat musik yang sudah masuk kategori peninggalan. Foto : Ist
    Dia berharap melalui pendekatan arkeologi, etnomusikologi, dan antropologi budaya, pameran ini menelusuri bagaimana musik lahir, digunakan, dan diwariskan dalam kehidupan ritual, sosial, dan kosmologis masyarakat Timor.
    Pameran ini juga kata Sofyan bertujuan untuk menjaga budaya musik tradisi pulau Timor agar tidak punah ditelan oleh zaman serta mengangkat narasi budaya lokal, baik bunyi, tarian, dan musik tradisional sebagai representasi kekayaan budaya NTT dan Indonesia Timur yang perlu dilestarikan dan diperkenalkan ke khalayak lebih luas.
    Dijelaskan gelar pameran ini adalah muara dari proses penelitian dan pendokumentasian tim langsung di kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU) beberapa waktu lalu. Tidak saja menarasikan secara manual, mereka menggunakan alat penanda guna melakukan pengukuran arkeologi untuk jenis alat musik yang sudah dinyatakan peninggalan.
    Feku, salah satu alat musik tradisional etnis Dawan kabupaten Timor Tengah Selatan. Foto : Ist
    Bertindak sebagai Kurator dari pameran ini antara lain Drs. Sofyan, M.M. (Budayawan) dan Wacher Azis, S.Ark. (Arkeolog).
    Event ini juga akan dihadiri seniman tamu DodotArt @dodot.art8 (Yogyakarta), SandroSeni @sandroseni (Yogyakarta), Charles Sinlae @_seribuduaribu (Kupang), Uria Banie @uriabanie (Kupang), IvanKrnwn (Kupang) dan NinoArt (Kupang)
    Nah untuk memeriahkan pameran tersebut, penyelenggara juga menggelar live performance Timor Ethnic Music Performance pada di Galeri Okomama, Taman Budaya NTT nanti.
    Diharapan kepada seniman, budayawan, arkeologi dan para peneliti budaya serta para pelajar dan mahasiswa yang tertarik dengan isu arkeomusikologi Timor, khususnya dari etnis Dawan dan Tetun bisa menyaksiksan pameran ini. (tim/42na)

    Latest Posts

    spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

    Don't Miss

    Stay in touch

    To be updated with all the latest news, offers and special announcements.