
MAUMERE, fortuna.press – Anggota DPR/MPR RI asal Nusa Tenggara Timur (NTT) Melchias Markus Mekeng menaruh perhatian serius pada ancaman kepunahan warisan budaya lokal Tenun Ikat khas NTT dengan mempelopori pembangunan sekolah Tenun Ikat Tradisional “Tirta Lepo Lorun” di Nita, Maumere, Kabupaten Sikka.
Pembangunan Sekolah Tenun Tradisional itu merupakan wujud nyata komitmen MPR RI dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan warisan budaya bangsa agar tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi.
Saat berkunjung ke Rumah Produksi Tenun Lepo Lorun di Nita Maumere kemarin, Melki mengatakan tenun tradisional bukan sekadar produk budaya, tetapi identitas, sejarah, serta sumber penghidupan masyarakat yang harus diwariskan kepada generasi penerus.
“Melalui pembangunan sekolah ini, MPR RI mendorong lahirnya ruang belajar yang terstruktur bagi para penenun, khususnya generasi muda, agar mampu menguasai keterampilan menenun sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, ” katanya.
Adapun dalam kunjungan kerja DPR RI ke kabupaten Sikka kali ini Melki Mekeng juga menyerahkan bantuan pembanguanan 1 unit asrama siswa di SMPN 1 Kewapante, Kabupaten Sikka.
Saat itu Melki Mekeng ditemani Wakil Ketua DPRD NTT Petrus Roby Tulus, Wakil Ketua DPRD Sikka Gregorius Nogo Bapa dan diterima Kepala Sekolah, Ketua Komite, para guru serta ratusan siswa/i SMPN 1 Kewapante.

Sementara kunjungan ke Lepo Lorun, mereka diterima owner Rumah Tenun Lepo Lorun, Alfonsa Horeng dan seluruh tim.
Sekolah “Tirta Lepo Lorun” itu diharapkan menjadi pusat edukasi, pelestarian, dan inovasi tenun tradisional yang berakar pada kearifan lokal.
Lebih dari itu, menurut Mekeng kehadiran Sekolah Tenun Tradisional ini juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat, terutama perempuan, dengan membuka peluang peningkatan kualitas produk, akses pasar, serta keberlanjutan usaha tenun rakyat.
MPR RI percaya bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan budaya dan sumber daya manusia. Sekolah Tenun Tradisional ini adalah investasi kebudayaan sekaligus ekonomi, demi Indonesia yang berdaulat secara budaya dan berkeadilan secara sosial.
Alfonsa dan Tenun yang Mendunia
Adapun Lepo Lorun adalah rumah produksi tenun ikat khas kabupaten Sikka sekaligus pusat edukasi, literasi bagi generasi muda NTT yang ingin mengetahui banyak hal terkait tenun ikat dan filosofinya.
Rumah produksi tenun atau ramah dikenal dengan sebutan Sanggar Lepo Lorun itu didirikan oleh seorang tokoh tenun nasional Alfonsa Horeng yang juga warga lokal Kabupaten Sikka.
Bersama Lepo Lorun, Alfonsa ingin menunjukan kepada dunia bahwa warisan budaya lokal ini tetap abadi dan tak lekang oleh waktu.
Sanggar Lepo Lorun bahkan kini menjadi destinasi wisata favorit di Kabupaten Sikka yang tidak saja digauli oleh wisatawan asing tapi juga wisatawan domestik dan juga anak muda lokal NTT.
Dengan desain bangunan yang selaras alam, Alfonsa menata kawasan Lepo Lorun jadi pusat wisata tenun yang apik, melegenda dengan aneka karya tenunan kabupaten Sikka. Disini juga tersedia aksesories dan produk turunan tenun ikat bernilai tinggi serta rumah tenun yang bisa jadi photo booth yang keren untuk semua pengunjung.
Di Lepo Lorun juga, anda bisa menyaksikan langsung demonstrasi proses pembuatan tenun ikat secara alami mulai dari menemukan bahan baku pewarna, melihat kapas cikal bakal pembuatan benang, proses pewarnaan alami, cara memilih motif hingga cara mengikat dan menenun. Semuanya komplitlah disini.
Untuk itulah ide besar Alfonsa yang disambut baik oleh anggota DPR RI Melkhias Mekeng adalah sebuah kolaborasi apik dan produktif untuk keberlanjutan mahakarya warisan nenek moyang dan mama-mama kabupaten Sikka ini.

Galau Tenun Ikat Punah
Semangat dan ide kolaboratif membangun sekolah tenun ikat di kawasan Lepo Lorun Nita Maumere mendapat tangapan positif dari seorang pelaku wisata NTT yang juga jurnalis wisata asal Maumere, Fidelis Nong Nogor.
Fidel mengapresiasi semangat Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng dalam satu upaya pelestarian Tenun Ikat Kabupaten Sikka yang terancam punah karena terputusnya mata rantai produksi dan pemasaran. Tidak ada regenerasi penenun menjadi ancaman serius mahakarya ini bakal hilang pada waktunya.
“Jujur kini penenun kita didominasi oleh mama-mama, generasi muda malah enggan menenun karena terpengaruh modernisasi, gengsi, hedon dan cendrung tunduk pada digitalisasi yang kebablasan. Mereka lupa pasar tenun sekarang mendunia dan hanya anak muda yang bisa merebut potensi itu,” ujarnya
Langkah produktif Melki Mekeng itu adalah bagian dari cari jitu mempersiapkan penenun-penenun muda yang siap melestarikan dan menjadikan tenun ikat sebagai bisnis masa depan.



