
SURABAYA, fortuna.press – Hari Jumat (21/11) pkl 17.30 WIB bertempat di Ruang Auditorium Benedictus – Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Kampus Dinoyo, diadakan bedah buku Kembara Pikiran karya Pastor Katolik, Dr. Pater Dr. Fritz Meko, SVD.
Kegiatan yang dimulai pkl 17.00 WIB ini menghadirkan 4 narasumber: Dr. RD. Dr. Aloysius Widayawan Louis S.S, M. Phil., Imam diosesan Keuskupan Surabaya, Dosen Fakultas Filsafat, serta Ketua Lembaga Penguatan Nilai Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Dr. Wayan Maryanta, SVD – Rektor Seminari Tinggi SVD Malang , Narudin Pituin – Kritikus Sastra Indonesia, Sr. Dr. Vero Endah Wulandari, MC – Dosen Institutum Ioannis Mariae Vianney Surabayanum (IMAVI).
Dr. RD. Dr. Aloysius Widyawan Louis S.S, M. Phil, sebagai pembedah pertama menanggapi karya Kembara Pikiran dengan menekankan pentingnya Merawat Ontological Exigence Hidup Sehari-hari. Ontological Exigence berhubungan dengan tanggung jawab sosial terhadap yang lain. Widyawan menggunakan gagasan dari Paus Fransiskus sebagai rujukan ketika ia menegaskan tentang konteks dunia saat ini yang terfragmentasi dan yang menyebabkan manusia dipaksa menjadi atau mewujud ‘satu dimensi’, sebagaimana dibahas Marcuse.
Satu dimensi itu terkait dengan having bukan to be. Ontological Exigence membuka ruang bagi siapa saja untuk ‘juga memberi ruang pada ketakjuban akan misteri, sejauh membangun jembatan lewat perjumpaan-perjumpaan dengan Liyan, alam, dan Tuhan. ‘Kembara Pikiran’ hadir sebawai wujud dari ontological exigence – pengalaman harian dialami, direfleksikan, dan kemudian dibagikan.
Dr. Wayan Maryanta, SVD – Rektor Seminari Tinggi SVD Malang , menggunakan pendekatan sosiologis saat membaca Kembara Pikiran – merujuk pada Weber – Wayan berusaha memahami makna di balik karya Kembara Pikiran. Dalam Kembara Pikiran ada kepedulian pada komunitas dan kongregasi, kepedulian pada persoalan gereja, kepedulian pada persoalan sosial ekonomi, kepedulian pada urusan politik, dan masalah ekologi
Sr. Dr. Vero Endah Wulandari, MC menyebut ‘kembara pikiran’ sebagai buah dari proses pemaknaan diri yang dipandu oleh hati nurani dan akal budi. Kembara pikiran merupakan hasil jalinan disiplin ilmu untuk mencandra realitas yang dijumpai melaluinya pembaca menemukan makna hidup.
Narudin Pituin membuat catatan atas puisi-puisi Fritz Meko, termasuk yang termuat dalam buku ‘Kembara Pikiran’. Menurutnya puisi-puisi Fritz Meko menggunakan metafora aneh melambung secara imaginatif, satu model yang juga digunakan beberapa orang dalam sastra, Selain aneh dalam metafor, Naskah Fritz Meko juga memuat paradoks-paradoks yang juga kerap digunakan oleh penyair seperti Chairil Anwar.
Kegiatan Bedah Buku ini diadakan sebagai salah satu rangkaian dari Perayaan Syukur 150 tahun karya misi Kongregasi Societas Verbi Divini (SVD) dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Kongregasi Serikat Sabda Allah dan 100 tahun Biara Soverdi Surabaya.
Bedah buku Kembara Pikiran merupakan kesempatan untuk menggali dan memaparkan eskpresi iman seorang pastor dalam mendalami setiap realitas kehidupan. Untuk itu tulisan dalam buku dibuat seperti catatan harian.
Tujuannya memperkenalkan konstruksi pemahaman yang produktif bagi peningkatan kualitas hidup sebagai seorang religius, mengajak setiap pembaca untuk memaknai setiap peristiwa dalam hidupnya serta mengekspresikan rasa syukur atas berkat yang diterima konggregasi Serikat Sabda Allah yang sudah berusia 150 tahun dan kehadiran Biara Soverdi Surabaya yang berusia 100 tahun.
Adapun acara dikemas dengan sangat apik, tidak saja memadukan aspek akademis ilmiah tetapi juga seni dan diskuis yang produktif. Ada hiburan dari Musikus Jimmy Charles dan Yola, Sambutan dari Provinsial SVD Jawa – Pater Gregorius Kaha SVD, Pengantar dari Moderator – Eddy Loke, dan Presentasi dari P. Dr. Fritz Meko SVD sebagai penulis buku. Para narasumber yang hadir diberi kesempatan 15 menit untuk memberikan kritik, masukkan tentang buku Kembara Pikiran, dilanjutkan dengan diskusi dan ditutup dengan ramah tamah bersama diiringi hiburan dari Musikus Jimmy Charles.

Tentang Penulis
Dr. Fritz Meko, SVD lahir di Desa Manamas, Kecamatan Naibenu, Kefamenanu – Timor Nusa Tenggara Timur. Menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi Ledalero Maumere – Flores, menyelesaikan studi Komunikasi di Kairos – St. Patric University Irlandia dan menyelesaikan studi Teologi Antropologi di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang Timor.
Saat ini tinggal di Biara Soverdi Surabaya sambil menangani tugas di Komisi Keluarga di Provinsi SVD Jawa. Di samping itu, menulis buku-buku refleksif dalam beberapa genre seperti: Spiritual, filsafat, sosiologi, teologi, budaya dan sastra.
Latar Belakang Penulisan Buku
Buku KEMBARA PIKIRAN ditulis berdasarkan pertimbangan “Setiap butiran pikiran yang tercecer jika dibukukan akan menjadi HADIAH yang berarti bagi para pembaca.” Selain itu, saya sebagai penulis buku ini, selalu merasa “terusik” dengan ucapan Sastrawan Senior Pramoedya Ananta Toer “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Ungkapan ini sangat mejikal, punya daya dorong untuk memaknai hidup sebagai anugerah terberi yang harus dimaknai sungguh-sungguh, agar kehadiran kita dianggap berarti bagi orang lain. Atas pertimbangan ini, saya mencoba mengartikulasikan pikiran-pikiran saya melalui buku ini, yang merupakan HADIAH bagi siapapun yang membacanya.

Struktur Penulisan Buku
Buku KEMBARA PIKIRAN dipilah menjadi tiga bagian yakni: MENAPAKI BUMI, MENATAP LANGIT dan WAHYU ILAHI.
Pada BAGIAN MANAPAKI BUMI, ada 180 catatan Refleksi. Penulis melukiskan aneka peristiwa yang selalu mewarnai kehidupan harian kita. Peristiwa-peristiwa yang terkait dengan berbagai pengalaman yang mengandung nilai sosial, budaya, dan filosofis. Pada bagian ini, penulis mengajak pembaca untuk rela menciptakan saat “jeda-hening” sejenak, untuk memaknai semua peristiwa yang dialami setiap hari. Di balik semua peristiwa yang pembaca alami selalu terkandung banyak HIKMAH yang dapat memperkaya hidup. Siapapun yang memiliki kemampuan refleksi atas semua peristiwa yang dialami, itu merupakan anugerah yang diberikan Tuhan untuk memaknai hidup sebagai hadiah terberi, yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya.
Pada BAGIAN MENATAP LANGIT, ada 63 catatan refleksi. Penulis mengajak pembaca untuk menyadari bawah, hidup di dunia ini merupakan suatu ziarah yang panjang yaitu, ziarah dari kandungan Ibu menuju kandungan Bumi. Selama berziarah di dunia ini, kita mengalami kehidupan yang dibingkai dalam usia, bayi, anak, remaja, dewasa dan tua. Jika sudah mengalami usia senja, maka cepat atau lambat kita akan masuk dalam kandungan bumi untuk kembali bertemu dengan sang Pencipta – Tuhan.
Atas dasar pertimbangan inilah, penulis mengajak setiap pembaca untuk menyadari bahwa hidup ini termiliki – ada yang punya. Maka apapun warna hidup yang pembaca alami, perlu dimaknai dengan iman, bahwa Tuhan selalu berbicara kepada setiap orang melalui peristiwa-peristiwa harian yang dialaminya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Apapun warna hidup yang dialami, semuanya mengandung “daya didik” yang berarti bagi setiap orang untuk menjadi lebih berarti dalam hidupnya.
Pada BAGIAN WAHYU ILAHI, ada 89 Puisi dan Prosa. Pada bagian ini, penulis mengajak pembaca untuk “lebih serius” memaknai aneka peristiwa dalam perspektif sastra yaitu, Puisi dan Prosa. Bagi penulis tidak mudah untuk memaknai peristiwa yang ditulis dalam bentuk puisi dan prosa. Penulis memilih menulis kisah dalam bentuk puisi atau prosa berdasarkan pikiran Filsuf dan Penulis Besar Amerika, Ralp Waldo Emerson bahwa, “Puisi mengajar sebanyak mungkin dengan kata-kata sedikit mungkin.” Beranjak dari definsi tentang puisi ini, Fritz mengajak para pembaca untuk berani “bertolak lebih dalam” memandang dan memaknai aneka peristiwa dengan kaca mata puisi dan prosa. (Rilis/4n2a)



