
KUPANG, fortuna.press – Untuk kedua kalinya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan event internasional yang menyatukan sesama saudara dari samudera Asia Pasific.
NTT dan Indonesia berbangga karena dipandang strategis secara geopolitik bagi warga bangsa-bangsa di samudara Asia Pasific berkumpul. Inilah forum dunia untuk berbagi rasa, bercerita tentang kisah masa lalu yang produktif serta menampilkan keragaman budaya yang berbeda namun mempersatukan sebagai sesama orang Melanesia.
Dipilihnya NTT sebagai tuan rumah penyelenggaraan event internasional inipula syarat makna, terlebih karena sebagai daerah diprovinsi ini dihuni oleh warga bangsa dari ras Melanesia di Indonesia. Tidak hanya ada beberapa saudara dari provinsi Maluku dan Maluku Utara terbanyak di Papua
Melanesia adalah subkawasan di Oseania yang membentang dari wilayah timur Indonesia hingga Samudra Pasifik barat, yang secara harfiah berarti “pulau-pulau hitam” dalam bahasa Yunani, merujuk pada ciri fisik penduduk aslinya yang berkulit gelap.
Secara geografis, gugusan kepulauan Melanesia berbatasan dengan Indonesia di sebelah barat, Australia di selatan, Polinesia di timur laut, dan Mikronesia di utara.
Negara dan wilayah utama yang termasuk dalam Melanesia meliputi Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Fiji, Kaledonia Baru (wilayah seberang laut Prancis), Timor Leste dan beberapa provinsi di Indonesia Timur seperti Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Indonesia diakui sebagai anggota asosiasi dalam organisasi sub-regional Melanesian Spearhead Group (MSG) karena populasi Melanesia yang signifikan di wilayah timurnya.
Negara-neagara yang tergabung dalam kawasan Melanesia ini memiliki ciri- ciri fisik dan budaya yang hampir sama.

Ras Melanesia, atau Melanesoid, memiliki ciri-ciri fisik khas yang membedakannya dari ras lain, antara lain warna kulit cenderung gelap atau hitam, rambut keriting dan berwarna gelap, bibir relatif tebal, hidung lebar, postur tubuh tegap dengan tinggi rata-rata 160-170 cm.
Secara budaya, masyarakat melanesia sangat beragam, dengan ribuan bahasa dan dialek yang digunakan di seluruh wilayahnya. Budaya tradisionalnya dicirikan oleh sistem kekerabatan yang kuat, hubungan dengan tanah ulayat, dan berbagai ritual adat seperti pesta adat untuk mencari jodoh (emaida) atau mempererat keluarga (yibu).
Itulah sebabnya, ketika memberikan sambutan pada acara Dinner Indonesia Pasific Cultural Synergi (IPACS) di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT pada Selasa, (11/11/2025) malam, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa IPCS bukan sekadar pertemuan kebudayaan, tetapi peristiwa kebangsaan dan kemanusiaan. Ia menjadi wadah bagi kita semua untuk menemukan kembali arti sebuah budaya dan kearifan lokal.
Menurut Melki Laka Lena, NTT adalah wilayah yang penting secara geopolitik dan geokultural, yang menjadikannya salah satu alasan mengapa IPACS tahun ini diselenggarakan di Kupang.
Selain terhubung oleh geografi, NTT dan Pasifik memiliki jiwa dan akar budaya yang sama. Sejak berabad-abad, hubungan ini telah dijalin melalui jalur pelayaran tradisional dan pertukaran budaya.
“Kita sama-sama memiliki bahasa lokal yang beragam, sistem sosial yang komunal, keterampilan pertanian dan perikanan tradisional, serta kehidupan yang dibangun di atas nilai gotong royong, solidaritas, dan penghormatan pada alam dan leluhur”, ujar Melki.
Kedekatan ini, menurut Melki Laka Lena bukan kebetulan semata, melainkan sebuah bukti dari adanya DNA kultural yang menegaskan bahwa kita berasal dari rahim samudra yang sama.
“Ini merupakan modal diplomasi paling otentik. Diplomasi yang tidak lahir dari dokumen atau kepentingan, tetapi dari jiwa yang saling memahami dan saling menghormati”, tambahnya.
Mantan Anggota DPR RI ini menambahkan bahwa di tengah dunia yang retak oleh sekat-sekat politik, budaya adalah bahasa keheningan yang menyatukan dan bahwa di tengah percepatan globalisasi, kearifan lokal adalah jangkar kemanusiaan yang menjaga keseimbangan dunia.

Selama Datang di Kupang
Kepada seluruh Delegasi IPACS 2025, Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan selamat datang di Kota Kupang. Dirinya berharap agar forum ini memperat hubungan antar negara dan melahirkan gagasan-gagasan strategis, kolaborasi nyata, dan semangat baru untuk menatap masa depan kawasan ini dengan lebih baik.
Hadir dalam acara Welcome Dinner malam itu, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, Wakil Menteri Dalam Negeri RI, Ribka Haluk, para Delegasi IPACS 2025, Wakil Gubernur NTT, Johanis Asadoma, Ketua DPRD Provinsi NTT, Emelia J. Nomleni, Wali Kota Kupang, Christian Widodo, Jajaran Forkopimda Provinsi NTT, Pimpinan Perangkat Daerah Provinsi NTT, peserta residensi, curator serta insan pers.
Adapun acara Welcome Dinner ini dimeriahkan dengan penampilan tarian tradisional, musik tradisional dan persembahan lagu-lagu daerah NTT. Selain itu, kepada perwakilan delegasi dari masing-masing Negara, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT memberikan cindera mata khas NTT berupa kain tenun khas NTT.

Kupang, Panggung Persaudaraan Pasifik
Pandangan Gubernur Melki tentu benar karena NTT bukan sekadar tuan rumah, tetapi juga jembatan antara Indonesia dan Pasifik. Kita bukan hanya terhubung secara geografis, tapi juga oleh jiwa dan akar budaya yang sama — nilai gotong royong, musyawarah, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.
Dia sungguh percaya bahwa budaya adalah bahasa yang menyatukan dunia ketika politik dan ekonomi sering kali memisahkan. Di tengah derasnya arus globalisasi, kearifan lokal menjadi jangkar kemanusiaan yang menjaga keseimbangan dunia.
Kupang semalam menjadi panggung di mana roh persaudaraan Pasifik menari bersama. Melalui IPACS 2025. Diharapakan melalui event itu, lahir gagasan dan kolaborasi nyata lintas negara untuk membangun masa depan Pasifik yang berlandaskan kasih, keadilan, dan keberlanjutan.
Sebagai simbol persaudaraan, kami mengalungkan kain tenun khas NTT kepada para tamu kehormatan — tanda persahabatan yang lahir dari hati. Acara dilanjutkan dengan paduan suara, musik tradisional “Musik Kampung” dari Sikka, dari Timor Tengah Selatan, dan tarian kolaboratif oleh Jemmy Dance Academy.
Dari Kupang, bumi Flobamorata, Melki mengaja mari kita nyalakan cahaya persaudaraan yang menyatukan Indonesia dan Pasifik.
Diikuti 17 Negara
Untuk dikethaui, Indonesia Pacific Cultural Synergy (IPCS) 2025, sebuah acara temu budaya berskala internasional yang diselenggarakan di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia mulai 11-13 November 2025.
Kegiatan tersebut mempertemukan Indonesia dengan 16 negara lain didunia untuk mempererat hubungan budaya dan dibuka Menteri Kebudayaan RI Fadlizon hari ini di Harper Hotel Kupang.
Ada 17 negara yang hadir pada kegiatan itu antara lain negara Kepulauan Cook, Negara Federasi Mikronesia, Polinesia Prancis, Papua Nugini, dan Samoa. Kemudian ada juga Tonga, Kaledonia Baru, Fiji, Niue, Kiribati, Kepulauan Marshall, Nauru, Palau, Vanwatu, Kepulauan Salomon, Tuvalu, dan terakhir adalah Timor Leste. (tim/42na)



