
JOGJAKARTA, fortuna.press – Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, S.T., M.T menghadiri Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indondesia (JKPI) dan Seminar Internasional di Kota Jogjakarta pada 5 – 9 Agustus 2025.
Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) adalah organisasi yang dibentuk pada tahun 2008 untuk menghubungkan kota-kota di Indonesia yang memiliki nilai sejarah dan warisan budaya. Tujuannya adalah untuk melestarikan pusaka dan situs bersejarah, serta memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengalaman antar kota anggota.
JKPI diprakarsai oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu, Ir. Jero Wacik, bersama dengan 12 Walikota dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Solo, Yogyakarta, dan Sawahlunto.
Awalnya Jaringan Kota Pusaka Indonesia beranggotakan 33 kota di Indonesia. Jaringan ini didirikan dengan tujuan menjaga kelestarian benda cagar budaya (BCB) peninggalan sejarah di Indonesia.
Selain itu, menurut Menbudpar waktu itu saat deklarasi, bahwa Jaringan Kota Pusaka Indonesia sangat penting dalam upaya sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang perlindungan benda cagar budaya (BCB).
JKPI didirikan untuk mewadahi pemerintah kota/kabupaten dalam melestarikan pusaka alam dan budaya, baik yang bersifat tangible (berwujud) maupun intangible (tidak berwujud).
Seiring waktu, JKPI telah berkembang menjadi organisasi yang beranggotakan 75 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dimana pada Tahun 2019, Kabupaten Sumba Timur masuk dalam JKPI menjadi anggota ke-76 yang diprakarsai oleh Umbu Lili Pekuwali, S.T., M.T ketika menduduki jabatan sebagai Wakil Bupati Sumba Timur.
Peran dan Kegiatan JKPI
Adapun JKPI berperan aktif dalam menjaga dan merawat warisan budaya serta situs bersejarah di kota-kota anggotanya dimana JKPI menjadi wadah bagi kota-kota anggota untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait pelestarian pusaka.
JKPI juga menyelenggarakan penghargaan tahunan untuk kota, tokoh, atau komunitas yang berkontribusi besar terhadap pelestarian pusaka. Kota-kota anggota JKPI secara bergantian menjadi tuan rumah berbagai acara, seperti kongres, Rakernas, dan festival budaya, untuk mempromosikan pusaka daerah masing-masing.
Kota-kota pusaka menghadapi berbagai tantangan dalam pelestarian, termasuk kurangnya kesadaran masyarakat, keterbatasan kelembagaan, dan tekanan pembangunan.
Melalui JKPI, diharapkan dapat terus menjadi wadah bagi kota-kota pusaka untuk berkolaborasi, berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas tantangan pelestarian yang dihadapi dimana Pelestarian Pusaka tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif dari masyarakat dalam menjaga dan merawat warisan budaya.
Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, S.T., M.T (yang juga adalah Alumi Jogja) pada 6 Agustus 2025 pra rekernas JKPI berharap melalui Rakernas ke-11 (sebelas) JKPI 2025, semakin menggugah dan terinspirasi masyarakat dan kota/kabupaten untuk terus peduli terhadap warisan pusaka alam dan warisan pusaka budaya yang kita miliki.
Hal itu penting karena menurut Bupati Pekuali, semua daerah di Indonesia pasti memiliki kekayaan dan warisan seni budaya daerah yang berharga dan bisa diwarisan kepada generasi mendatang.
“Karena setiap kota adalah cerita dan setiap cerita adalah warisan berharga yang harus kita jaga karena warisan budaya bukan saja milik kita, namun juga milik generasi mendatang, katanya
Adapun tema yang diusung Pemerintah Kota Yogyakarta dalam kegiatan ini adalah ‘Resiliensi Kawasan Cagar Budaya (KCB) Guna Mendorong Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan”. Dalam event ini, Pemerintah dan warga kota Yogyakarta akan menyuguhkan seluruh potensi dan keragaman serta ciri khas warisan budaya yang tersebar di KCB Kraton, KCB Pakualaman, KCB Kotagede, dan KCB Kotabaru.
Harapan kedepan, kiranya Kabupaten Sumba Timur dengan Kota Heritage Waingapu, akan menjadi tempat diadakannya Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia berikutnya. (Sumber : Yudi Umbu T. T. Rawambaku, S.E)



