Fortuna

TPK Tamu Mancanegara Pada Bulan Juli 2020 Sebesar 27,15%

Dari jumlah itu, inilah 4 Bandara penyumbang tamu terbesar yakni, 1). Bandara El Tari- Kota Kupang. 2). Bandara Komodo- Manggarai Barat. 3). Bandara Frans Seda- Maumere. 4). Bandara H. H. Aroeboesman- Ende.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Darwis Sitorus mengatakan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang di Provinsi NTT pada bulan Juli 2020 sebesar 27,15%, atau naik 7,46 poin dibanding TPK di bulan Juni sebesar 19,69%.

Meski demikian dibandingkan dengan tahun 2019, capaian ini lebih rendah 25,97 poin dari Juli 2019 lalu sebesar 53,12%. Ia menjelaskan rerata lama tamu menginap pada hotel bintang di NTT selama bulan Juli 2020 adalah 1,52 hari atau lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pada bulan Juni 2020 yakni selama 1,54 hari.

“Pada bulan Juli 2020 rata-rata lama menginap tamu mancanegara naik menjadi 4,25 hari dibandingkan pada bulan Juni selama 2,35 hari” papar Darwis Sitorus didampingi Kepala BPS Kota Kupang Ramly Kurniawan Tirtokusumo dan Kabid Distribusi Demarce Sabuna dalam Konferensi Pers di kantor BPS Provinsi NTT, Selasa (1/9/20).

Adapun rata-rata lama menginap tamu nusantara pada bulan Juli 2020 tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan bulan Juni yaitu selama 1,52 hari. Sedangkan terkait perkembangan angkutan udara sipil NTT pada Juli 2020, Ia mengatakan, penumpang yang datang ke NTT sebanyak 52.230 orang dan penumpang yang berangkat sebanyak 50.712 orang.

Baginya, dari jumlah itu terdapat empat bandara sipil dengan jumlah penumpang datang dan berangkat terbanyak adalah Bandara El Tari di Kota Kupang sebanyak 31,42%, disusul Bandara Komodo Manggarai Barat 15,07%, kemudian Bandara Frans Seda Maumere 9,20% dan Bandara H. H. Aroeboesman Ende sebanyak 8,67%

Kota Kupang Mengalami Deflasi Terbesar Secara Nasional

Darwis mengatakan, pada Agustus 2020, NTT mengalami Deflasi sebesar 0,71% dan Kota Kupang mengalami deflasi terbesar secara nasional
Terdapat 3 Kota di provinsi NTT mengalami Deflasi sebesar 0,71% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 102,82.

Tiga Kota itu antara lain, Kota Kupang sebesar 0,92%, sedangkan Kota Maumere mengalami Inflasi sebesar 0,71% dan Kota Waingapu mengalami Deflasi sebesar 0,48

Adapun Deflasi itu terjadi karena, adanya penurunan indeks harga pada 7 dari 11 kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga terbesar adalah, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik sebesar 2,19%

Sedangkan secara Nasional, dari 90 Kota terdapat 37 Kota mengalami inflasi dan 53 Kota mengalami deflasi. Kota yang mengalami inflasi tertinggi terjadi di Kota Meulaboh sebesar 0,88% dan inflasi terendah terjadi di Kota Batam, Kediri dan Kotamobagu sebesar 0,02%.

Deflasi terbesar terjadi di Kota Kupang sebesar 0,92% dan deflasi terendah terjadi di Kota Banyuwangi, Bekasi, Tembilahan dan Sibolga yakni sebesar 0,01%. (wilfrid/42na)

%d blogger menyukai ini: