Fortuna

Strategis, Presiden Jokowi Diminta Optimalkan Bandara Frans Seda Maumere

“Bandara Frans Seda itu letaknya sangat strategis dalam konteks percepatan ekonomi, pariwisata, jadi jembatan penyangga bencana selain bersejarah sejak zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia”

Anggota DPRD NTT,Emanuel Kolfidus, S.Pd. Foto : Majalah Fortuna

Adalah sebuah kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, bahwa hampir dalam satu bulan, Presiden RI, Joko Widodo menginjakan kaki di Bandara Frans Seda Maumere untuk melakukan serangkaian kunjungan kerja.

Kunjungan Jokowi pertama pada tanggal  23 Februari 2021 untuk meresmikan bendungan Napung Gete dan rencananya kunjungan kerja ke-2 pada Jumat, (9/4) guna melihat dari dekat kondisi warga- para korban bencana siklon tropis Seroja di Adonara dan Lembata yang menelan ratusan nyawa manusia.  

Adapun dalam dua kegiatan kenegaraan ini, Jokowi memilih untuk masuk Flores melalui Bandara Frans Seda Maumere, sebuah bandara tua di provinsi NTT yang tentu strategis dan produktif melayani warga pulau Flores dan propinsi NTT secara umum sejak dahulu kala

Kurang elok memang membaca kehadiran Presiden Jokowi ke Flores kali ini dalam konteks percepatan infrastruktur karena perhatian beliau tentu fokus untuk urusan kemanusiaan “kebencanaan”.

Namun banyak kalangan melihat pilihan Jokowi untuk mendaratkan “Indonesian Air Force One” di bandara Frans Seda Maumere adalah “peluang”. Ya peluang yang haruslah memberi nilai lebih, efek positif dan atau manfaat ganda bagi kepentingan pengembangan Bandara Frans Seda baik dari sisi fisik maupun kualitas pelayanan

Tidak segan-segan, anggota DPRD Provinsi NTT, Emanuel Kolfidus meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan status Bandara Frans Seda Maumere menjadi Bandara utama di Flores dan kepulauan sekitarnya

Permintaan Politisi PDI Perjuangan dari Dapil Sikka  ini tentu sangat mendasar karena letak Bandara Frans Seda yang sangat strategis, produktif dalam konteks percepatan ekonomi, jadi jembatan penyangga bencana selain bersejarah sejak zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Kita minta Bapak Presiden Jokowi  tentu melalui Menteri Perhubungan dan para pihak yang mendampingi kunjungan bapak Presiden kali ini dapat merespon keinginan kuat Bapak Presiden untuk membangun wilayah Timur dan Selatan Indonesia yang memang sebelumnya cukup tertinggal dengan membenahi bandara Frans Seda,” pintanya

Baginya,  kehadiran Presiden 2 kali dalam waktu yang hampir bersamaan melalui pengresmian bendungan Napun Gete dan urusan kemanusian “bencana banjir” harus dilihat sebagai mata rantai yang saling menguatkan antara urusan dukungan infrastruktur percepatan ekonomi dan pariwisata tetapi juga menghadirkan sebuah fasilitas bandara yang representatif sebagai jembatan penyangga dalam konteks tanggap darurat “emergensi”

Hadirnya bandara yang memadai mampu memobilisasi urusan distribusi logistik selain karena untuk kepentingan pertahanan dan keamanan disisi lain.

“Diresmikannya bendungan raksasa Napun Gete oleh Bapak Presiden saya kira sangat layak kalau disandingkan dengan upaya peningkatan kapasitas dan kualitas Bandara Frans Seda, sebagai mata rantai kekuatan baru ekonomi dan pariwisata bangsa,” ujar Emanuel.

Meskapai Penerbangan Lion Air Boeing 737 seri 900ER landing mulus di bandara Frans Seda Maumere, 6/9/2015. Foto : Ist/Fortuna

Ia juga menyentil alasan peningkatan status Bandara Frans Seda juga karena nama bandara itu memiliki catatan historis yang kuat dimana Bapak Frans Seda (alm) sebagai tokoh bangsa dan tokoh nasional

Untuk itulah maka anggota Komisi V DPRD NTT itu meminta Presiden Jokowi dan jajaran pemerintah pusat agar segera menata fisik, membenahi SDM, pengorganisasian dan manajemen pelayanan sehingga penampilan Bandara Frans Seda harus tidak boleh kalah dengan bandara lainnya.

Adapun Bandara Frans Seda sejatinya adalah akses utama ke Flores dan bandara terbesar kedua di Propinsi NTT setelah bandara El Tari di Kupang. Belakangan sudah ada lagi bandara Komodo, di Labuan Bajo Flores Barat yang”premium itu.

Bandara Frans Seda sudah hadir sejak dahulu sekitar tahun 1950-an dengan sebutan Bandara Waioti, saat dimana NTT masih menjadi salah satu daerah paling belakang, terisoloasi dan belum banyak dikenal karena akses darat, laut apalagi udara yang paling minim.

Bandara Frans Seda telah berkontribusi besar untuk kemajuan Flores. Orang mau naik pesawat Twin Otter atau Fokker 27, Fokker 28 punyanya Bouraq, Merpati, Simpati, Pelita Air ke Flores pasti melewati Bandara ini

Bandara Waioti saat itu dirintis oleh Mantan Menteri Perhubungan RI, Moat Alm.Frans Seda. Ia adalah politisi kawakan lintas zaman, putra Lekebai, Maumere, Flores yang saat itu sempat dipercaya Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto menduduki posisi strategis sebagai Menteri Pertanian/Perkebunan, Menteri Keuangan dan juga Menteri Perhubungan RI.

Dengan alasan terisolasinya Flores dan Provinsi NTT, Frans Seda memainkan perannya dengan menghadirkan Bandara Waioti yang baru dalam beberapa tahun terakhir diganti namanya menjadi Bandara Frans Seda. Bandara itu kemudian terus dibenahi baik dari sisi teknis maupun manajemen pengorganisasian

Kini bandara Frans Seda tidak hanya rutin didarati pesawat sekelas Fokker atau kini sebuatan sejenis pesawat type ATR72-500/600 milik Meskapai Garuda Indonesia, TransNusa dan Wings Air tapi juga pesawat Boeing 737-500 milik Meskapai NAM AIR (Sriwijaya Group). Frekuensi penerbangan yang melayani rute dari dan ke bandara ini terpantau membaik meski covid-19 melanda nusantara

Bandara Frans Seda, salah satu Mintu Pasuk Pariwisata ke Flores. Foto : Majalah Fortuna

Data dari Dephub.go.id menujukan bahwa kondisi eksisting Bandara Frans Seda Maumere kini terus ditata meski belum optimal dari sisi teknis, ketersediaan fasilitas maupun kualitas pelayanan. Landasan pacu atau run way bandara ini terpantau sudah mencapai 2.250 meter, lebar 45 meter dengan kapasitas apron yang masih terbatas karena hanya bisa menampung 2 pesawat Boeing 737-500 dan 2 ATR dalam sekali parkir

Bandara Frans Seda juga sudah bisa didarati pesawat tidak hanya Boeing 737-seri 500 NAM Air tapi juga Boeing 737-900ER milik Meskapai Lion Air selama Kongres GMNI di Maumere tahun 2015 bahkan pesawat Kepresidenan Air Force One Indonesia, yang membawa Presiden Joko Widodo ke Maumere, 23 Maret 2021.

Meski demikian, harus diakui terminal penumpang Bandara Frans Seda belum cukup memadai karena terpantau hanya bisa menampung penumpang dengan kapasitas 1 pesawat Boeing, (140 orang,red). Ruang tunggu lantai 2 nampak belum dioptimalkan. Hal lain yakni frekuensi penerbangan dari dan ke bandara Frans Seda juga masih terpantau sepi meski rute dari Kupang, Makassar, Labuan Bajo dan Denpasar tujuan Maumere sudah dibuka.

Kepala UPBU Kelas II Maumere, Poltak Gordon,MT, beberapa waktu lalu mengatakan bahwa fasilitas bandara itu secara teknis sudah memadai bahkan sudah bisa melayani penerbangan malam hari namun keterbatasan SDM menjadi pemicu utamanya sehingga rencana penerbangan malam belum dibuka kecuali dalam kondisi emergency

Data yang dihimpun www.fortuna.press menunjukan bahwa sekian dekade, Frans Seda menjadi salah satu bandara penyangga di Flores. Beberapa periode kepemimpinan Sikka mulai dari Bupati Paulus Moa, Bupati Aleks Longginus, Sosimus Mitang,Yosep Ansar Rera hingga Roby Idong berencana mengembangkan Frans Seda menjadi Bandara besar yang bisa didarati pesawat berbadan lebar hingga Airbus320. Runway bandara itu juga ingin diperpanjang sampai ke laut mencapai 2.500meter dengan konstruksi terowongan namun cita-cita itu masih sebatas wacana.

Mudahan kehadiran Bapak Presiden Joko Widodo untuk kedua kalinya di Maumere, Jumat, (9/4) bisa menjadi angin segar untuk pengembangan secara massif bandara Frans Seda. Hadirnya fasilitas ini tentu efektif dalam mendukung program percepatan ekonomi, pariwisata dan tentunya untuk sebuah misi kemanusian yang adil dan beradab. (tim/42na)

S

%d blogger menyukai ini: