Fortuna

Ritual Adat Tali Manu Dab’ba di Kabupaten Sabu Raijua, NTT

“Satu ritus penting dalam kegiatan Dab’ba adalah acara sabung ayam secara adat dari beberapa kelompok suku yang dalam bahasa Sabu disebut ADA”

Jefrison Hariyanto Fernando, S.IP. Foto : Ist

Kabupaten Sabu Raijua di Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki begitu banyak ritus seni dan budaya. Salah satu ritus yang biasanya digelar pada bulan purnama atau pada setiap bulan Februari dalam kalender masehi adalah Dab’ba.

Ritual adat Dab’ba merupakan salah satu event yang sangat ditunggu- tunggu dikalangan masyarakat Sabu Raijua karena selain punya makna histroris, Dab’ba syarat dengan pesan persaudaraan.

Ritual inipun menjadi populer karena menampilkan nilai-nilai budaya yang sangat sakral serta memiliki daya tarik yang kuat bagi masyarakat Sabu Raijua untuk mengikuti karena hanya dilakukan dua hari sekali dalam setahun.

Satu ritus penting dalam kegiatan Dab’ba adalah acara sabung ayam secara adat dari beberapa kelompok yang dalam bahasa Sabu disebut ADA sebagi representasi dari suku-suku yang ada di Kabupaten Sabu Raijua.

Nah ritual adat Dab’ba biasanya dilakukan dimasing-masing wilayah adat sesuai dengan perhitungan kelender adat, dimana Sabu Raijua terbagi dalam 5 wilayah adat yaitu Wilayah Adat Raijua, Wilayah Adat Liae, Wilayah Adat Seba , Wilayah Adat Mehara dan Wilayah Adat Dimu.

Adapun pelaksanaan ritual adat Dab’ba dilaksanakan didua tempat yang berbeda selama dua hari dengan perhitungan adat pula. Menariknya, pelaksanaan hari pertama akan dilaksanakan pada besok hari setelah bulan purnama yang dalam bahasa kelender adat Sabu Raijua di sebut Hepe Hape

Menurut kepercayaan masyarakat adat Sabu Raijua, dalam perhitungan kelender masehi jatuh pada tanggal 16 bulan berjalan sedangkan hari ke dua akan dilaksanakan pada hari ke dua setelah bulan purnama yang dalam bahasa kelender Adat Sabu dikenal dengan Due Pehape, atau tanggal 17 kelender masehi.

Tidak hanya itu, penentuan tempat yang akan dijadikan arena Sabung ayam Dab”ba juga tidak sembarangan. Haruslah tempat yang skaral atau dengan istilah Dara Nada.

Nah kegiatan hari pertama biasanya dilaksanakan ditempat yang namanya Kolo Gopo. Ini adalah salah satu kompleks perkampungan adat yang terletak di Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae.

Sementara kegiatan Sabung ayam Dab’ba hari kedua dilaksanakan di Dara Nada Kolo Rame, sebuah arena sabung ayam yang berada tak jauh dari Kolo Gopo di Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae.

Mengapa Ada Dab’ba

Upacara Adat Dab’ba lahir setelah masyarakat Sabu Raijua sadar akan pentingnya Hak Asasi Manusia. Konon di Sabu Raijua selalu terjadi perang antar Suku serta perang tanding antara masyarakat wilayah Adat yang satu dengan Masyarakat Wilayah Adat yang lainnya.

Pada zaman dulu di wilayah adat Liae hiduplah dua orang tokoh sakti yang bernama Nangngi Lay dan Hari Djuda, mereka berdua menjadi orang yang disegani di suku masing-masing. Kedua tokoh ini mulai sadar manakala suku-suku terus menerus berperang maka semakin hari generasi mereka akan punah karna banyak yang gugur di medan pertempuran

Oleh karena itu suatu hari, seluruh anak suku dikumpulkan untuk berdiskusi dan memutuskan untuk mengakhiri perang antara manusia dengan manusia dan menggantikannya dengan perang antar binatang dalam hal ini ayam.

Keputusan untuk mengakhiri perang antar manusia dan sejak kesepakatan itupula menjadi awal mula terciptanya ritual adat DAB”BA berupa Sabung ayam Adat di Kabupaten Sabu Raijua

Sebagai bentuk dari perwakilan suku-suku yang berperang maka disepakati pula dalam kegiatan DAB’BA untuk membentuk dua kubu yaitu kubu atas yang disponsori oleh Hari Djuda dan kubu bawah yang disponsori oleh Nangngi Lay.

Tidak hanya itu, adapula sebultan kubu atas terdiri dari beberapa kelompok dalam bahasa sabu di sebut dengan ADA sebagai representasi dari beberapa suku yang berperang, begitu pula sebaliknya pada kubu bawah.

Kelompok atau ADA yang termasuk dalam kubu atas antara lain ADA DAB’BA, ADA GOPO, ADA KOTA HAWU, dan ADA RAE KEWORE, sedangkan kubu bawah diwakili oleh kelompok atau ADA EIKO, ADA RAJA MARA, ADA RAE WIU, ADA HULUI dan ADA EI TEDE. (Penulis : Jefrison Hariyanto Fernando, S.Ip /42na)

%d blogger menyukai ini: