Fortuna

Re-Imagine Bikon Blewut, Wajah Flores Dalam Koleksi dan Arsip Museum

“Pengetahuan yang tercermin dan beririsan dengan koleksi-koleksi museum Bikon Blewut perlu terus menerus diberikan konteks agar berdaya sebagai sumber informasi yang hidup”

Seminar Re-Imagine Bikon Blewut (R-IBB) di Aula Santo Thomas STFK Ledalero. Foto : Istimewa

MAUMERE, fortuna.press – Komunitas KAHE bekerja sama dengan Museum Bikon Blewut dan Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STFK) Ledalero menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk Re-Imagine Bikon Blewut (R-IBB).

Berdasarkan rilis pers yang diterima media ini dari penyelenggara, kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari rangkaian Docking Program Biennale Jogja XVI Equator #6, sebuah pameran seni rupa yang telah dikenal luas baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Re-Imagine Bikon Blewut (R-IBB) menampilkan koleksi dan arsip Museum Bikon Blewut yang didialogkan dengan arsip sejarah Gereja di Flores.

R-IBB membawa visi refleksi dan diseminasi pengetahuan tentang Museum Bikon Blewut beserta segala produksi pengetahuan yang berlangsung di dalamnya.

Pada saat yang sama, R-IBB dimaksudkan untuk membuka cakrawala pembacaan dan pemaknaan atas sejarah kolonialisme dan modernisme di Flores.

R-IBB dimulai dengan sejumlah riset intensif yang dilakukan oleh tim riset Komunitas Kahe. Riset ini dimaksudkan untuk mengetahui dan memahami persilangan kebudayaan Flores dan modernisme yang turut hadir bersamaan dengan kolonialisme dan evangelisasi yang dipelopori oleh para misionaris Gereja Katolik.

Dalam pelaksanaannya, R-IBB menyelenggarakan tour dan literasi, seminar, pemutaran dan diskusi film, bincang proses kreatif, dan beragam pertunjukan seni.

Rangkaian kegiatan ini berlangsung selama seminggu yang dibuka dengan seminar bertema ‘Gereja, Kolonialisme, dan Modernisme’ pada Sabtu (18/9/2021), dan diakhiri atau ditutup dengan acara pentas seni pada Jumat (24/9/2021).

Pameran seni rupa R-IBB ini dipusatkan di Musem Bikon Blewut yang terletak di dalam kawasan kampus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero.

Museum Bikon Blewut adalah sebuah pusat informasi sejarah budaya milik Societas Verbi Divini (SVD), sebuah kongregasi religius-misioner yang hadir setelah kedatangan Ordo Dominikan serta Serikat Jesuit dan dalam banyak aspek menjadi peletak dasar pendidikan, pembangunan, dan kemajuan kebudayaan di Flores dan sekitarnya.

Menurut Ketua Komunitas KAHE, Eka Putra Nggalu, membayangkan kembali (re-imagine) Bikon Blewut sekurang-kurangnya membawa tiga tahapan penting.

Pertama, mengusahakan diseminasi pengetahuan seputar Museum Bikon Blewut dan rangkaian konteks (agama, budaya, dan tradisi) yang turut hadir di dalam dan di balik berdirinya museum tersebut dalam dialektikanya dengan isu-isu sekarang ini.

Kedua, membaca kembali Museum Bikon Blewut sebagai situs wisata budaya. Untuk menunjang tujuan ini, dilakukan penataan manajemen pameran, strategi publikasi, dan dokumentasi agar lebih relevan dengan dinamika dan perkembangan aktual dalam dunia seni rupa.

Ketiga, dalam kerangka estetika yang kontekstual dengan seni rupa, R-IBB menjadi semacam ‘dekonstruksi’ konsep galeri yang mapan tetapi sekaligus semu dan stagnan.

Untuk mewujudkan proses ketiga ini, Komunitas Kahe menggalang partisipasi dan kontribusi dari sejumlah seniman rupa di sekitar Maumere. Kehadiran mereka tidak hanya berhenti pada pentas seni, tetapi untuk merespons ruang, narasi sejarah, dan koleksi-koleksi yang terdapat di dalam Museum Bikon Blewut.

Dalam risetnya, Komunitas KAHE menemukan dua sisi tilik yang menandai berdirinya Museum Bikon Blewut. Di satu sisi, Bikon Blewut mulai eksis sejak proses penemuan, penggalian, dan pengumpulan koleksi yang dilakukan oleh Dr. Th. Verhoeven pada tahun 1965 di Todabelu, Mataloko, Flores.

Namun, kedua sisi tilik tersebut tidak dimaksudkan untuk menempatkan Bikon Blewut dalam dua proses historis yang terpisah.

Justru, keduanya saling terkait dan mengandaikan satu terhadap yang lain. Museum Bikon Blewut lahir dari kerja-kerja geologi, antropologi, dan etnologi yang dikembangkan dalam beberapa periode ekspedisi.

Periode pertama dimotori oleh para misionaris asing yang turut memberi warna pada perkembangan teori-teori kebudayaan, mulai dari Dr. Th. Verhoeven, SVD; Paul Arndt, SVD; W. Koppers, SVD; M. Guisinde, SVD; W. Van Bekum, SVD; dan P. Mommersteeg, SVD. Beberapa dari antara mereka adalah murid-murid awal Wilhem Schmidt (1868-1954), seorang pencetus teori difusi kebudayaan dengan salah satu publikasi terkenal berjudul Der Usprung Der Gottesdee.

Tahapan pertama ini berlangsung pada 1965 di Todabelu, Mataloko, Flores. Pada periode berikutnya mulai terlibat beberapa misionaris lokal, di antaranya Darius Nggawa, SVD; Piet Petu, SVD; Frans Nurak, SVD; dan Rokus Due Awe SVD.

Pada perkembangannya, Piet Petu, SVD kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam pendirian Museum Bikon Blewut. Sebagai sebuah museum yang mendekati standar museum modern, Bikon Blewut baru mulai beroperasi dan dikenal sebagai museum berkat direksi dan kurasi Piet Petu, SVD, sejak tahun 1983 di Ledalero, Maumere, Flores. Bikon Blewut mengoleksi artefak-artefak yang merepresentasikan kehidupan dan kebudayaan Flores dalam dialektika sejarah.

Pengetahuan yang tercermin dan beririsan dengan koleksi-koleksi museum Bikon Blewut perlu terus menerus diberikan konteks agar berdaya sebagai sumber informasi yang hidup.

Peserta seminar Re-Imagine Bikon Blewut (R-IBB) di Aula Santo Thomas STFK Ledalero. Foto : Istimewa

Namun, perlu juga ditekankan bahwa museum Bikon Blewut sendiri adalah sebuah artefak. Sejarah kehadirannya beririsan langsung dengan sejarah misi dan modernisasi yang dimotori oleh Gereja, bias-biasnya, tegangan-tegangan di sekitar kolonialisme dan evangelisasi, pemberdayaan dan alienasi budaya, pemberdayaan dan kapitalisasi pengetahuan yang berlangsung di sekitar itu.

Dengan R-IBB ini, Komunitas KAHE berusaha menghadirkan wacana seni budaya ke ruang publik agar dengan cara demikian publik menjadi semakin akrab dengan identitas kebudayaannya yang secara historis merupakan hasil persilangan dari berbagai konteks. R-IBB juga diharapkan mampu menstimulasi metode pengelolaan Museum Bikon Blewut agar semakin relevan dengan masyarakat.

Ada Fosil Manusia Purba Flores dan Gajah Purba Flores

Puluhan jenis benda bersejarah dipajang pada acara Re-Imagine Bikon Blewut (R-IBB) yang diselenggarakan oleh Komunitas KAHE yang bekerja sama dengan Museum Bikon Blewut, dan Senat Mahasiswa STFK Ledalero, Sabtu (18/9/2021). 

Dua fosil yang paling menarik dalam acara Re-Imagine Bikon Blewut (R-IBB) itu adalah fosil Manusia Purba Flores dan Fosil Gajah Purba Flores yang dipajangkan serta aneka temuan bersejarah lain.

Fosil Manusia Purba Flores yang ditemukan di Liang Bua, Kabupaten Manggarai itu berupa dua tengkorak kepala Manusia Purba Flores yang hidup sekitar 300.000 hingga 100.000 tahun yang lalu. Selain dua tengkorak kepala manusia purba, dipajangkan juga 3 tengkorak kepala monyet.

Selain itu dipajangkan juga Fosil Gajah Purba Flores berupa bagian fosil gajah yang ditampilkan seperti gigi, tulang, gading, dan bagian gajah lainnya yang ditemukan di beberapa lokasi di Kabupaten Ngada di antaranya Boaleza dan Mangeruda Kabupaten Ngada. Fosil Gajah Purba Flores ini diduga hidup sekitar 300.000 tahun yang lampu.

Selain fosil-fosil itu, ekshibisi itupun menampilkan aneka benda bernilai sejarah lainnya, seperti aneka peralatan batu dari zaman paleolitikum, zaman batu mesolitikum, dan zaman batu neolitikum seperti tembikar, mahe atau tempat persembahan kepada para leluhur terbuat dari batu ceper untuk menaruh persembahan yang menyimbolkan kekuatan bumi. Ada juga batu yang agak tinggi yang menyimbolkan kekuatan langit, gading, tembakau, sirih pinang, dan aneka bahan persembahan seperti daging.

Museum Blikon Blewut Koleksi 85.000 Benda Bersejarah

Museum Blikon Blewut sendiri memiliki 85 ribu koleksi benda-benda bersejarah di antaranya Fosil Manusia Purba Flores dan Fosil Gajah Purba Flores.

Staf Curator Museum Bikon Blewut Endi Padji, mengatakan, dalam pameran R-IBB hanya dipajangkan beberapa benda bersejarah di antaranya dua Fosil Manusia Purba Flores, Fosil Manusia Purba Flores, aneka peralatan batu dari zaman paleolitikum, zaman batu mesolitikum,  dan zaman batu neolitikum, tembikar, mahe atau tempat persembahan kepada para leluhur, dan beberapa benda bersejarah lainnya.

 “Tinggi Manusia Purba Flores itu sekitar 1 meter,” kata Endi

Pameran di Museum Bikon Blewut Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka berlangsung sejak Sabtu (18/9/2021) dan akan berakhir pada Jumat (24/9/2021). (Albert Aquinaldo/42na)

%d blogger menyukai ini: