Fortuna

Punya Magnet Wisata Mendunia, Kades Magepanda dan Anggota DPRD Sikka Ini Dorong Warga Giatkan Pariwisata

“Magepanda itu punya destinasi wisata yang komplit dan bernilai jual internasional. Kita ingin dorong supaya potensi ini seirama dengan pola pikir pariwisata warga kita,” Dicky Radja

Anggota DPRD Sikka, Benediktus Lukas Raja,SE

Tak disangkal, kawasan sepanjang Tanjung Kajuwulu hingga  daerah pemukiman warga Desa Magepanda di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur menawarkan pesona wisata yang menawan.

Menuju desa yang satu ini anda dipastikan menikmati sajian perjalanan wisata yang paling menyenangkan. Menakjubkan, bukan saja karena pesona alamnya tapi juga karena panorama pesisir pantura dan lautnya yang menggoda

Keindahan ini mulai anda rasakan ketika memasuki kawasan Kolisia dari kota Maumere. Anda pasti disuguhi areal persawahan dan pantai pasir putih yang keren.

Kelokan-kelokan dengan bongkahan batu cadas yang menawan dari balik pecahan ombak Waturia akan menghantar anda memasuki kawasan perbukitan Kajuwulu dan cekungan panorama Tanjung nan cantik itu.

Tidak hanya itu, para pelintas dan penikmat wisata juga dipastikan menikmati sajian areal persawahan yang luas dan memanjakan mata hingga memasuki Desa Magepanda.

Tak heran, pesona wisata nan elok itu memantik Kepala Desa Magepanda, Servasius Martinus Mau untuk mendorong warganya giat mengembangkan sektor pariwisata.

Saat ini sejumlah pemuda Desa Magepanda  telah mewadah diri dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), ada yang membangun tambak ikan, terlibat dalam sanggar-sangar seni budaya serta bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka menata dan mengoptimalkan pemanfaatan kawasan wisata Tanjung Kajuwulu.

“Belum gencar tapi saat ini kami sudah dorong warga desa khususnya para pemuda untuk mengelola semua sumber daya lokal yang bersentuhan dengan sektor pariwisata. Kita percaya pariwisata bisa menjadi sumber ekonomi baru yang menjanjikan,” papar Kades Servasius Martinus kepada www.fortuna.press, Jumad,(22/1) di Kantor Desa setempat

Para pemuda juga nampaknya mulai menyadari manfaat segmen ini dengan berwadah diri dalam Pokdarwis.

Tujuannya jelas yakni bersama-sama mempromosikan sumber daya alam persawahan, pegunungan, pantai dan bawa laut juga mangrove tour yang letaknya tak jauh dari Desa Magepanda ke mata wisatawan domestik dan mancanegara melalui berbagai cara

Mereka sadar betul manakala potensi wisata itu dikenal luas maka dapat memicu peningkatan jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara yang pada akhirnya strategis dalam meningkatkan pendapatan mereka.

Panorama Menuju Desa Magepanda. Foto : Majalah Fortuna

Tidak hanya itu, melalui sanggar-sanggar seni budaya dan tenun ikat, warga Magepanda juga mulai “menjual” seni budaya daerah berupa musik suling bambu, gong waning dan juga tenun ikat yang dimiliki warga disetiap rumah.

“Untuk mengoptimalkan pemanfaatan seni budaya lokal. Kita punya sanggar seni budaya “Pepa Wawo” dengan daya tarik utama Musik Suling Tradisional dan juga Sanggar budaya yang siap mempopulerkan musik Gong Waning,” ujar Kades Servas

Melalui sanggar kata dia, para pemuda desa giat menggerakan ekonomi desa berbasis pariwisata bersama Pokdarwis. Sementara warga desa yang mengembangkan bisnis tambak ikan, membidik segmen penikmat wisata dan para mancing mania.

Tambak ikan tersebut kini sedang ditata menjadi sebuah destinasi  wisata yang menggoda dengan bangunan lopo-lopo di kawasan sekitarnya.

Sementara untuk mengembangkan industry kreatif warga berbasis keunggulan komparatif desa, pemerintah desa juga mendorong produksi tenun ikat yang langsung bisa disaksikan disetiap rumah warga. Katakan kalau ada tamu yang ingin tahu tentang tenun ikat, maka langsung berkunjung kerumah warga,”ujarnya

Kepala Desa Magepanda, Servasius Martinus Mau. Foto : Majalah Fortuna

Diakui Servasius, meski Pos Anggaran dari Dana Desa untuk pengembangan pariwisata belum ada namun dukungan untuk pengembangan aksesibilitas ke destinasi wisata setempat sudah membaik seiring dengan pembangunan fisik seperti jalan, rumah layak huni dan sebagainya

Sementara dari pos BUMDES saat ini sudah dialokasi dana sebesar Rp 100 juta untuk usaha pengadaan pupuk bagi masyarakat.

Kelola Bersama Tanjung Kajuwulu

Kedepan kata Servasius, melalui Bumdes Pemerintah Desa Magepanda akan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Sikka untuk mengelola kawasan wisata Tanjung Kajuwulu dengan prosentase pembagian hasil yakni Dinas Pariwisata 50% dan Bumdes 50%.

Adapun kawasan wisata Tanjung Kajuwulu kini telah dibangun Dinas Pariwisata dan rencananya akan diserahkan kepada pemerintah desa untuk mengelolanya.

Kawasan itu telah ditata dan dilengkapi sejumlah fasilitas dan menjadi salah satu spot wisata terbaik yang kini paling diminati warga terutama diakhir pekan juga hari libur.

Fasilitas dimaskud antara lain bangunan lopo, kios cendramata, menara pandang, pagar pengaman, galeri kuliner, lampu taman, pos jaga juga fasilitas MCK.  Saat ini instalasi listrik dan air bersih juga sudah dipasang hingga setiap pos,” katanya

Kawasan Persawahan yang bisa anda jumpai disepanjang perjalanan menuju Desa Magepanda. Foto ; Fortuna

Dukungan DPRD Sikka

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Daerah Pemilihan Magepanda, Benediktus Lukas Raja,SE mengatakan Kecamatan Magepanda menyimpan sejumlah spot wisata yang berdaya tarik regional bahkan internasional.

“Magepanda itu punya destinasi wisata yang komplit dan bernilai jual internasional. Alam, budaya, bahari hingga bawah lautnya keren. Kita ingin dorong supaya warga punya pola pikir pariwisata,” ujar pria yang akrab disapa Dicky Raja itu

Ia meminta pemerintah kabupaten Sikka dan juga pemerintah desa Magepanda untuk segera menata kawasan wisata mulai dari Tanjung Kajuwulu hingga lembah Desa Magepanda menjadi sebuah kawasan pariwisata baru yang terintegrasi.

Kerja gotong royong pemerintah desa, pemerintah kabupaten dan masyarakat katanya sangat dibutuhkan guna menjadikan kawasan eksotis Tanjung Kajuwuu hingga pusat pemukiman desa Magepanda menjadi lokus ekonomi baru bagi rakyat

Menurutnya, dengan bergairahnya sektor pariwisata maka semua elemen terutama pemuda yang kini terlibat dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bisa memiliki lapangan kerja baru berbasis wisata.

Pemuda Desa bisa mengelola kawasan Tanjung Kajuwulu bersama Dinas Pariwisata secara profesional, menata usaha jasa pariwisata baru semisal sanggar seni budaya, usaha kuliner lokal dan lainnya serta mendorong Magepanda sebagai sebuah desa wisata yang tidak saja beken tapi produktif.

Dicky Raja juga mendesak pemerintah kabupaten Sikka untuk bergandengan tangan dengan pihak ketiga guna menata semua kawasan pariwisata sebagai sumber ekonomi baru bagi warga tanpa harus mengantungkan diri pada pos APBD Sikka yang sangat terbatas itu.

“Polah pikir pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata tidak boleh lagi berorentasi proyek. Kalau mau menata pariwisata hanya mengandalkan sepenuhnya dana dari pemerintah daerah maka tidak cukup,” ujar anggota Banggar DPRD Sikka ini

Kedepan katanya, Dinas Pariwisata harus  menjadi mediator dan fasilitator dalam mengelola semua potensi dan sumber daya pariwisata di Kabupaten Sikka menjadi lebih bergairah sejalan dengan RIPARDA.

Kota Maumere,Kabupaten Sikka dengan keunggulan komparatif pariwisata dan daya dukung geografis katanya, harus diproyeksikan sebagai klaster wisata premium baru di Flores bagian Timur

“Kita punya destinasi wisata yang sangat banyak  dan komplit dengan dukungan infrastruktur laut, darat dan udara yang sangat memadai. Jangan mau kalah sama Labuan Bajo, Maumere dengan segala keunggulan komparatif wisatanya juga harus diperjuangkan jadi klaster wisata premium di Flores bagian Timur,” tegas politisi PDI Perjuangan itu.

Untuk itulah katanya, urusan promosi dengan berbagai pola harus digalakan dengan tujuan memicu investasi selain meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Siapapun yang punya kepentingan yang sama dan mau berinvestasi disini, yah mari kita kerja bersama tentu dengan mengikuti aturan mainnya.

Areal persawahan yang keren memasuki Desa Magepanda. Foto : Majalah Fortuna

Adapun Desa Magepanda merupakan sebuah desa otonom yang memiliki jumlah penduduk kurang lebih 4000 orang dengan mayoritas warganya adalah petani.

Desa ini berada di jalur trans Utara Flores sekitar 20km arah utara Kota Maumere dengan lama tempuh sekitar 35 menit. Akses ke kawasan ini sangat memadai dan anda akan disuguhi pesona wisata yang keren dan eksotik. (tim42na)

%d blogger menyukai ini: