Fortuna

Presiden Timor Leste : Jangan Menutup Pintu Untuk Warga Asing

“Ia menerima informasi bahwa ada beberapa orang yang menjauhkan diri dari kontrol Polisi dan keluar masuk perbatasan darat secara illegal”

Patung Kristus Raja, salah satu icon wisata rohani di Kota Dili, Timor Leste. Foto : Ist

Presiden Republic Demokratic Timor Leste (RDTL), Francisco Guterres Lu Olo menyerukan agar Timor-Leste jangan menutup pintu bagi warga asing. Kepada semua warga asing diminta harus mentaati protokol kesehatan dan peraturan yang telah ditetapkan dalam pemberlakuan Status Darurat (EE) di negara itu.

Seruan Presiden tersebut merupakan yang keenam kalinya selama masa pandemi covid-19 bagi para pelintas batas dan warga asing yang masuk ke negar itu

 “Timor-Leste jangan menutup pintu bagi orang lain, namun mereka yang ingin masuk ke TL harus taat akan upaya dan tindakan yang telah ditetapkan dalam EE oleh Pemerintah TL, jika orang tersebut datang dari negara mana saja dan memiliki sertifikat bebas Covid-19, tetapi mereka harus tetap di karantina”, jelas Presiden Lu Olo dalam rilis yang diterima www.fortuna.pres dari Kedubes RI RDTL di Dili, Selasa (7/10).

Informasi tersebut banhwa Presiden Lu Olo telah mengesahkan pemberlakuan penerapan EE untuk kali keenam, setelah Ia mendengarkan masukan dari Pemerintah, Dewan Negara (KE) dan Dewan Tertinggi Pertahanan dan Keamanan (KSDS)

Warga Indonesia menikmati wisata di Motaain, pintu masuk perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Foto : Majalah Fortuna

Keputusan presiden itu juga ditandatangani setelah  menerima ijin dan otorisasi dari Parlemen Nasional melalui sidang pleno yang dilakukan pada tanggal 3 Oktober 2020.

“Saya mengesahkan perpanjangan penerapan EE di seluruh wilayah TL dengan kompetensi Konstitusional yang diberikan untuk saya sebagai Kepala Negara, tindakan karantina ditetapkan untuk melindunggi rakyat kita dimana tempat karantina ditentukan oleh Pemerintah dan juga tempat yang dipilih sendiri oleh rakyat sendiri, namun Kementerian Kesehatan harus terlebih dahulu menyetujui sebelum mereka masuk ke wilayah TL”, jelas Lu Olo.

Presiden Lu Olo juga  prihatin terkait  informasi yang diterima bahwa banyak orang yang tidak taat karantina

Hal tersebut katanya menjadi perhatian masalah besar, bukan saja bagi lembaga tinggi Negara namun juga bagi seluruh rakyat, karena jika seseorang tidak taat akan  karantina dapat menularkan Covid-19 pada masyarakat dan menular bagi rakyat TL

Dampak ikutannya adalah dapat menyulitkan Kementerian Kesehatan dalam melakukan control dan hal tersebut dapat menyebabkan kebanyakan dari kita akan tertular dan mati.

Presiden mengatakan bahwa semua orang tidak ingin sakit dan mati karena Covid-19, karena virus tersebut tidak memandang bulu apakah kaya atau miskin, muda atau tua dewasa maupun balita, para pejabat atau rakyat.

Kontrol Perbatasan dan Denda US$250

Adapun Presiden Lu Olo menerima informasi bahwa ada beberapa orang yang menjauhkan diri dari kontrol Polisi dan keluar masuk perbatasan darat secara illegal

Beberapa orang dari mereka bahkan telah ditangkap namun lainnya tidak. Tidakan tersebut katanya dapat membahayakan masyarakat dalam negeri.

Presiden Lu Olo dalam pernyataannya juga mengungkap bahwa selama ini mereka data yang  masuk secara illegal ke wilayah TL sebanyak 146 orang. Mereka  ditangkap oleh PNTL dan saat ini sedang melakukan proses investigasi.

Oleh karena itu Pemerintah dalam rapat luar biasa di Dewan Menteri pada tanggal 3 Oktober 2020 telah menetapkan tindakan yang ketat dalam pemberlakuan EE bagi mereka yang keluar masuk dan tidak mematuhi peraturan EE maka akan dikenakan denda antara US$ 30 sampai US$ 250 dan mereka harus membayar sendiri karantina mereka.

Penikmati Wisata melintasi PLBN di Motaain sebelum Covid-19. Foto : Majalah Fortuna

Presiden Lu Olo juga mengatakan bahwa Lembaga Tinggi Negara sendiri saja tidak menjamin adanya kesuksesan terhadap perjuangan melawan Covid-19, setiap  orang harus menjaga diri mereka masing-masing dan juga melindunggi orang lain dengan cara menggunakan masker dan sering mencuci tangan dan social distancing  di tempat umum.

“Saya menghimbau kepada masyarakat yang tinggl dekat dengan perbatasan darat dan pesisir pantai untuk terus membantu PNTL, F-FDTL, petugas kesehatan dan mereka yang bertugas di garis depan dalam menjalankan tugas mereka dilapangan dengan cara menutup pintu masuk illegal,  karena dengan tugas tanpa pamri mereka  TL dapat mengontrol pandemi Covid-19 tidak dapat menular ke masyarakat sampai saat ini”, jelas Lu Olo.

Presiden Lu Olo juga menyatakan bahwa TL harus tetap menjadi contoh yang baik bagi seluruh masyarakat dan semua orang memiliki tanggung jawab untuk menjamin kesuksesan bagi perjuangan baru ini dan perpanjangan penerapan EE ini dimulai pada tanggal  5 Oktober sampai 3 November 2020. (Sumber : Data Salinan Kedubes RI di Dili)

%d blogger menyukai ini: