Fortuna

Penerapan CHSE, Optimisme Ditengah Tak Berdayanya Pelaku Wisata di Kabupaten Ende

“Pariwisata di Kabupaten Ende sudah mati dan butuh waktu yang lama untuk bangkit kembali. Kita hanya berusaha untuk bertahan hidup saja,”

Para wisatawan berbondong-bondong mengunjungi Kabupaten Ende sebelum covid-19. Foto : PolceAmalo/ LintasNTT

ENDE- Fortuna; Pemerintah Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur berkomitmen untuk menerapkan standar naasional Cleanliness, Hygiene, Safety, Environment (CHSE) bagi masyarakat dan pelaku wisata di setiap destinasi wisata

Kebijakan ini diambil dalam rangka penerapan standar operasional prosedur dan kebijakan baru (new normal) serta mencegah terjadinya episenter atau klaster baru selama masa pandemic covid 19 di Kabupaten Ende.

Bupati Ende, Drs. H. Djafar.H.Achamad,MM dalam Surat Edarannya bernomor: BU.440/Par.01/137/2021 tertanggal (24/2/21) menghimbau para pelaku usaha jasa pariwisata, hotel, pengeloa homestay dan restoran/rumah makan serta travel agent termasuk Kepala Desa yang memiliki Desa Wisata untuk mengimplementasikan CHSE

Adapun implementasi CHSE difokuskan ke obyek-obyek wisata, Rest Area Usaha pariwisata, desa wisata  dan fasilitas umum

Penerapkan CHSE yang dimaksut antara lain untuk menerapkan kebersihan (Cleanliness) seperti mencuci tangan pakai sabun/handsanitizer juga ketersediaan sarana cuci tangan pakai sabun.

Selain itu pembersihan ruang dan barang publik dengan disfektan/cairan pembersih yang aman dan sesuai, bebas vector dan binatang pembawa penyakit juga memperhatikan kelengkapan dan toilet bersih.

Para pelaku usaha jasa pariwisata juga dihimbau menerapkan kesehatan (Hygiene) seperti menghindari kontak fisik, pengaturan jarak aman, mencegah kerumunan bagi masyarakat ditempat dan fasilitas umum.

Ruang public dan ruang kerja dengan sirkulasi udara yang baik serta penanganan bagi pengunjung dengan gangguan kesehatan ketika beraktivitas dilokasi.

Untuk aspek keselamatan (Safety) Bupati Djafar juga menghimbau  untuk menerapkan prosedur penyelamatan diri dari bencana dan ketersediaan kotak P3K hal lain yakni memastikan alat elektronik dalam kondisi mati ketika meninggalkan ruangan serta menyiapkan media dan mekanisme komunikasi penanganan kondisi darurat

Sementara untuk aspek Ramah Lingkungan (Envinronment)  Pemkab Ende menyarankan penggunaan perlengkapan dan bahan ramah lingkungan.

Masih dalam konteks ini, diperlukan juga pemanfaatan air dan sumberdaya energy secara efisien, sehat dan menjaga keseimbangan ekosistem serta Pengolahan sampah dan limbah air dilakukan secara tuntas dan cermat.

Dengan penerapan standar CHSE ini maka Bupati Djafar yakin pariwisata Ende akan tetap bangkit meski ditengah pandemi covid yang melanda Indonesia termasuk di Kabupaten Ende.

Penerapan CHSE yang diinisiasi pemerinth kabupaten Ende ini mendapat tanggap miris dari para pelaku usaha jasa pariwisata di wilayah itu.

Yanto Wangge, salah seorang pelaku wisata dikawasan Moni Koanara, mengeluhkan minimnya angka kunjungan wisata di Kabupaten Ende selama pandemic covid-19.  Ia bahkan dengan tegas menyatakan pariwisata Ende sudah tak berdaya atau mati.

“Pariwisata di Kabupaten Ende sudah mati dan butuh waktu yang lama untuk bangkit kembali. Kita hanya berusaha untuk bertahan hidup saja,” ujarnya sebagaimana dilansir dari postingannya di laman Fortuna Media Group, Rabu, (10/3).

Yanto lalu mengisahkan pengalaman waktu gempa Flores tahun 1992, sector pariwisata  butuh waktu 2 tahun untuk kembali normal. Apalagi ini bencana nasional pasti membutuhkan waktu yang lama untuk pulih

Meski menilai penerapan CHSE belum begitu mendesak namun ia tetap yakin penerapan langkah kunci itu tetap efektif manakala industri kepariwisataan kembali membaik dan atau pulih

Atraksi Seni Pertunjukan Lokal yang dilakoni pemuda-pemudi Kecamatan Kelimutu, dalam sebuah Festival Budaya di Ende belum lama ini. Foto : Humas/Ende

Sementara Kadis Pariwisata Kabupaten Ende, Martinus Satban mengatakan untuk menghadapai kenormalan baru maka banyak penyesuaian-penyesuaian baru terutama dalam penerapan standar pelayanan usaha jasa kepariwisataan.

Dia terus memotivasi para pengusaha jasa pariwisata untuk tetap giat, kreatif serta optimis mengembangkan usaha ditengah situasi nasional dan dunia yang tidak menentu akibat covid-19

“Jangan putus asa berharaplah selalu. Semua ini akan dilewati.  Kita akan kembali beraktivitas.  Kita berupaya bersama dengan mulai menerapkan kebiasaan baru yang harus dilaksanakan dimasa yang akan datang, ‘ujar Satban sebagaimana dikutip dari postinganya di lama Fortuna Media Group,Rabu, (10/3) .

Satban mengaku mengikuti perkembangan pariwisata dunia di beberapa kawasan mulai bergeliat pasca pelaksanaan vaksinasi. Penerapan CHSE syarat mutlak,” katanya.

Ia optimis pariwisata Ende tidak akan mati. Kalo bule tidak datang tidak berarti pariwisata  mati.  Antar kita sedang berwisata di kawasan obyek destinasi kreatif kita,’ujarnya. (tim/42na)

%d blogger menyukai ini: