Fortuna

Patricia Menge, S.Pd: Menulis, Relaksasi Pikiran dan Fisik

Oleh : Simon K. Seran, alumni SMAN Lewoleba

“Menulis itu upaya meneropong setiap persoalan dalam realitas kehidupan masyarakat, lalu membahas dalam sudut pandang penulis serta memberikan solusi”

Patricia Menge dalam aktivitas literasi hariannya di sekolah dan sejumlah lokasi. Foto : dok.Fortuna

LEWOLEBA – fortuna.press – Menulis merupakan relaksasi pikiran dan fisik sehingga membuat tubuh menjadi sehat. Hal ini dikatakan oleh Ibu Guru Patricia Menge, S.Pd, Guru pada SMAN I Nubatukan Lewoleba melalui obrolan messenger belum lama ini.

Dalam obrolan singkat itu, Patricia menuturkan, pilihan menulis merupakan relaksasi pikiran dan fisik, sehingga membuat tubuh menjadi sehat. Menulis  bagi Patricia adalah suatu hiburan, olah pikiran dan otak  agar pikiran selalu sehat.

Dengan menulis,  ada upaya meneropong setiap persoalan dalam realitas kehidupan masyarakat, lalu membahas dalam sudut pandang penulis serta memberikan solusi.

Dengan demikian, menulis dan segala aktifitasnya, tentu selalu menghadirkan pikiran yang positip, memberikan edukasi kepada masyarakat yang tentu diselimuti hati yang bening dan nurani  yang tulus, untuk menghasilkan karya tulis yang bermakna bagi orang lain. Tidak mungkin, menulis dalam suasana batin bergelorah dendam, kebencian, namun pasti memuat hal-hal positip untuk disumbangkan bagi khalayak pembaca, sehingga  pikiran tetap jernih dan  jiwa raga tetap sehat.

Di tengah-tengah kesibukan menjalankan  tugas profesi guru pengampuh mata pelajaran Bahasa Inggris dan Jerman pada SMAN 1 Nubatukan Lewoleba Lembata ini, Patricia Menge, selalu menyisihkan waktu untuk menulis, baik puisi (dalam bahasa Indonesia dan bahasa Lamaholot/Puisi Koda Kiwan Lamahalot), artikel untuk diterbitkan di media on line, menulis novel dan buku ber-ISBN.

Semua goresan penanya, telah menghasilkan empat belas judul buku, baik karya fiksi maupun non fiksi, baik karya solo (ditulis sendiri) ataupun bersama teman dalam bentuk bunga rampai.

Dalam bidang literasi, Patricia,  mantan Kepala Sekolah SMAN 1 Ile Ape Timur juga menjadi Ketua Komunitas Guru Belajar Nusantara Kabupaten Lembata dan membimbing  siswa  binaan mulai  dari PAUD sampai  tingkat SMK/SMA. Selain itu, menjadi  aktivis di forum literasi NTT, pegiat literasi dan masih banyak kegiatan ekstra lainnya di masyarakat.

“Sekarang ini bersama beberapa teman lagi kepung menulis buku dalam dwibahasa (bahasa Indonesia dan daerah) berupa opini untuk diterbitkan  buku ber-ISBN. Buku ditulis dalam Bahasa Indonesia,  Lamaholot dan Bahasa Kedang,  berdialek masing-masing Kecamatan di Kabupeten Lembata  dengan dua tulisan”,  jelas Patrcia yang menamatkan SMA St. Darius Larantuka. 

Di sela-sela kesibukan profesi publik/guru, juga domestik sebagai ibu rumah  tangga,  sekarang ini Patricia bersama teman guru lainnya lagi menggarap buku  dwibahasa untuk rencana penerbitan berikutnya.

Karya buku ini bekerja sama dengan Kantor Perpustakaan Daerah  Kabupaten Lembata. Patricia menggarap tema, perempuan Lembata hebat. Topik ini mengisahkan perempuan Lamaholot (khususnya Lembata),  memiliki rahim bejana tanah liat yang tidak dimiliki  laki-laki.  Secara kodrati, perempuan mengandung dan melahirkan kehidupan, tetapi masih ada lagi tugas di rumah, mengurus suami dan anak-anak untuk memenuhi kebutuhan hidup harian, juga  membantu suami di ladang.

Maklum, masyarakat Lembata, dominasi berprofesi petani ladang. Ketika sore menjemput, suami istri pulang dari kebun berjalan kaki. Bapak-bapak (hanya) pikul parang, syukur kalau Bapa membantu memikul barang lainnya, sedangkan mama-mama gendong anak, junjung bakul berisi bahan makanan atau kayu bakar dan seraya menjinjing barang lain. Hal ini menjadi inspirasi bagi Patricia untuk menggarap tema ini.

Dengan seabrek prestasi dan aktifitas bidang literasi ini, Patricia mendapat penghargaan sebagai Kepala Sekolah Berprestasi di Bidang Literasi dari lembaga  GMB-Indonesia, GSMB Nasional.

Penghargaan itu diberikan karena atas prestasi, dedikasi dan partisipasinya mengikutsertakan siswa dalam program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional yang diselenggarakan oleh GMB-Indonesia.

Selain itu, Patricia juga terpilih sebagai salah satu promotor literasi internasional. Dalam program ini,  pada bulan Maret 2024, peserta mengikuti kegiatan literasi di tiga negara yaitu Thailand, Malaysia dan Singapura. Di Negara Asia tersebut, Patricia bersama teman lainnya dari  Indonesia akan belajar, berkolaborasi, studi banding terkait kehidupan sosial budaya masyarakat setempat dan belajar  digitalisasi serta materi lainnya. Setelah belajar beberapa waktu lama, dan kembali untuk dipromosikan ke wilayah Indonesia lainnya.

“Saya merasa bangga dan bersyukur kepada Tuhan, karena dari banyak perserta yang mengikuti seleksi, saya juga terpilih” ungkap Patricia kepada penulis melalui jejaring media sosial messenger.

Menurut Patricia yang aktif juga di bidang Pramuka, salah satu persyaratan terpilih menjadi promotor literasi internasional adalah mengirimkan tulisan esay atau artikel untuk dinilai oleh panitia.

“Kalau menulis esay untuk seleksi ke luar negeri ini sebagai  syarat menjadi  writervator”, tutur Patricia.

Lebih jauh, Ibu Nandy, demikan sapaan keluarganya menjelaskan,  di laur negeri, peserta dari Indonesia belajar tentang pendidikan karakter, kesehatan, pelatihan public speaking dan sosialisasi. Materi-materi tersebut, dipelajari di sekolah juga di masyarakat dan akan disosialisasikan juga di Indonesia.

“Berarti ada keunggulan-keunggulan  di Negara luar, kita  bisa adopsi dan diterapkan di Indonesia demi kemajuan masyarakat secara umum atau kemajuan literasi khususnya”, tutur Paricia, Alumni FKIP Bahasa Inggris Undana Kupang ini.

Pada bagian lain, Patricia juga mengungkapkan, dari empat belas karya buku yang sudah diterbitkan, salah satu berjudul ‘Kebarek Ata Lembata’. Karya ini berupa novel yang berarti Nona Orang Lembata. Lantas bagaimana tipe nona Lembata? “Nona Lembata, bukan untuk ditakuti, namun disegani”, tulisnya singkat.

Ketika diminta apa pesan kepada generasi milenial, Patricia yang lahir di Toko Jaeng, Desa Lamatokan Kecamatan Ile Ape Timur Lembata, menyatakan, “Pesan buat  milenial yang adalah generasi ending Z-generation agar lebih jeli dalam menanggapi perkembangan jaman yang mesti memiliki kesiapan diri dalam hal karakternya harus kuat karena didukung  dengan pendidikan budaya yang telah diwariskan nenek moyang”. 

(Patricia Menge, S.Pd, Guru SMAN 1 Nubatukan Lembata, pegiat Literasi).

Kantor Pusat Kopdit Pintu Air. Foto : Fortuna

%d blogger menyukai ini: