Fortuna

Pasola, Perang Berkuda Tanpa Dendam

“Kuda Sumba semakin istimewa ketika penganut Marapu memperingati momen pergantian tahun yang lazim jatuh pada Februari dan Maret. Momen itu diisi dengan ajang Pasola”

Iring-iringan warga melintasi kampung adat setempat menuju arena Pasola. Foto : Ist

Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, dihuni warga yang suka memuja arwah. Pulau paling selatan di Indonesia ini juga adalah tanahnya para pecinta kuda. Mengagungkan roh nenek moyang dan menempatkan kuda sebagai hewan berharga menjadi ciri khas.

Bahkan bagi penganut Marapu, keyakinan sebagian besar masyarakat Sumba, kuda diyakini sebagai hewan tunggangan di alam kematian. Keberadaan kuda di tanah Sumba tercatat sejak pertengahan abad 18. Periode ini berlangsung jauh sebelum Belanda datang dan menetapkan Sumba sebagai pusat pembibitan sapi ongole pada 1914 lampau.

Ikatan historis itu membuat masyarakat Sumba dan kuda begitu lekat. Bocah-bocah Sumba menjadikan kuda sebagai teman sepermainan. Juga sebagai tunggangan keseharian.

Kuda Sumba semakin istimewa ketika penganut Marapu memperingati momen pergantian tahun, lazim jatuh pada Februari dan Maret. Momen itu diisi dengan ajang Pasola, tradisi melempar tongkat kayu lamtoro sambil memacu kuda dengan kecepatan tinggi.

Pasola adalah warisan leluhur tanah Sumba yang hidup ribuan tahun lampau. Tradisi ini tak mudah menggabungkan keterampilan berkuda seraya melempar lembing ke arah lawan. Karena pasola, berasal dari kata sola atau hola, bermakna sejenis lembing yang dilempar sambil menunggang kuda dengan kencang.

Tak jelas sejak kapan tradisi ini bermula. Masyarakat Sumba percaya, tradisi ini diilhami cerita rakyat yang sudah melegenda. Legenda permusuhan antara dua kampung Waiwuang dan Kodi.

Permusuhan dipicu aksi kawin lari antara Rabu Kaba, perempuan asal Waiwuang dan pemuda dari Kodi bernama Teda Gaiparona. Rabu Kaba adalah istri dari Umbu Dulla, pemimpin Kampung Waiwuang.

Umbu Dulla sedih lantaran sang istri pindah ke lain hati. Ia pada akhirnya menggelar pesta nyale dan pasola untuk melupakan kesedihan.

Jelang pergelaran pasola, sejumlah kabisu dari beberapa desa berpencar. Ini menegaskan jarak agar tercipta garis yang jelas antara kawan dan lawan.

Pasola bisa berlangsung seharian atau hanya beberapa jam. Semua tergantung rato, pemimpin adat, yang berwenang menentukan awal dan akhir pasola.

Maka ketika Rato masuk, pasola pun selesai. Dua kubu yang bertikai pun berhenti memacu kuda. Masing-masing kubu menyimpan lembing dan dendam pada pasola mendatang.(tim/liputan6.com)

%d blogger menyukai ini: