Fortuna

Menggagas Bersama Akses Wisata Internasional Flores, Timor, Alor Hingga Timor Leste

“Jika gagasan ini nantinya terwujud, maka dapat menjawab Peta Overland Flores hingga ujung timur Alor (Maritaing) bahkan rute internasional ke Timor Leste,” Isyak Nuka

Salah Satu Spot Wisata di Tanjung Bastian, batas Indonesia dan Oeccuse Timor Leste. Foto : Desy Arsiani/Fortuna

Pemerintah terus mendorong koneksi international yang menghubungkan beberapa daerah di propinsi Nusa Tenggara Timur dengan Distrik Oeccusi dan Kota Dili di negara Timor Leste.

Selain pariwisata Flores yang seksi pasca penetapan Labuan Bajo sebagai satu dari lima destinasi wisata prioritas nasional dan terbentuknya Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF), destinasi wisata di Alor, Timor, Rote dan Sabu kian digenjot melalui percepatan infrastruktur.

Saat ini pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan RI sedang melaksanakan Studi Kelayakan (FS) Pembangunan Pelabuhan Penyeberangan Maritaing (Alor) sebagai antisipasi kemungkinan adanya pembukaan Jalur Penyeberangan Internasional Maritaing – Dili (Timor Leste).

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Isyak Nuka,ST,MT mengatakan pembicaraan terkait adanya jalur penyeberangan internasional ini sudah digagas sejak 2019 dan beberapa kali telah dilakukan Rakor bersama baik di Jakarta maupun di Kupang juga di Maritaing (Alor) yang melibatkan semua unsur terkait baik pusat maupun daerah provinsi NTT dan kabupaten Alor.

Pihak PT. ASDP (Persero) katanya sangat menyambut baik gagasan ini dan siap berkontribusi aktif dalam hal penyiapan sarana kapal ferry pada lintasan tersebut.

Jika gagasan ini nantinya terwujud, maka sudah dapat menjawab Peta Overland Flores hingga ujung timur Alor (Maritaing) bahkan internasional di Timor Leste (Dili, Oeccusi, dan wilayah-wilayah sekitarnya),” ujar Nuka

Bagi Isyak, kekuatan wisata itu ada pada ikatan budaya/religi antara warga Timor Leste dengan saudara-sudaranya di Alor maupun Larantuka (Prosesi religi Semana Santa).

Ini tentunya sangat menarik untuk dikaji lebih dalam dan didorong menjadi jalur wisata khusus yang perlu didukung dengan koneksi infrastruktur laut.

Sementara Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF), Shana Fatina mengaku bersyukur atas rencana tersebut karena dengan pembukaan rute itu maka kedepan pariwisata Nusa Tenggara Timur bisa terkoneksi luas, tidak hanya Flores Lembata Alor tetapi juga pulau-pulau disekitarnya hingga Timor Leste

“Kita siap kerja bareng mewujudkannya memperluas koneksi antar kota di NTT hingga memungkinkan kesana (Timor Leste,red),” papar Shana Fatina dalam diskusi santai dengan stakeholders Pariwisata melalui layanan whatssapp Fortuna Media Group, Jumat,(19/2)

Hal senada dikatakan Anggota DPRD NTT, Emanuel Kolfidus. Eman bahkan mendorong penguatan spot wisata sejarah “peta ekspedisi Cendana” sebagai bagian dari wisata tematik yang menghubungkan Flores Timur, Rote dan  Sabu Raijua

“Sejak abad ke 14, NTT sudah ramai didatangi pedagang dari Cina, Makasar dan Jawa, disusul Spanyol dan Portugis. Portugis pertama kali ke pulau Solor Flotim, karena kaya akan kayu Cendana (Sandlewood),” tulis anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD NTT ini dalam diskusi tersebut

Dia berharap Peta Ekspedisi Cendana juga menjadi magnet literasi yang bisa digali dan dikenalkan sebagai wisata tematik bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Flotim dan sekitarnya

Dijelaskan, tidak hanya Flotim, ekspedisi tersebut berlanjut ke Kupang, terus menuju Rote melewati selat Pukuafu, salah satu kapal dihantam gelombang (sepertinya bukti jangkar kapal itu ada di Rote), sedangkan satu kapalnya lolos menuju Sabu selanjutnya menuju Tanjung Harapan Afrika dan pulang kampung ke Eropa

Dubes RI untuk Timor Leste, Sahat Sitorus memperkenalkan Durian salah satu komoditi pertanian Timor Leste di Kawasan Wisata Patung Kristus Raja, Dili. Foto : Sahat/Fortuna

Sementara Dubes RI untuk Timor Leste, Sahat Sitorus yang nimbrung dalam diskusi tersebut berharap rencana pembukaan rute laut internasional yang menghubungkan Indonesia dan Timor Leste melalui Maritaing dan Oeccusi segera dibahas serius

“Saya berharap Pak Kadis Perbubungan NTT serius dan kita siap dukung. Mohon ijin besok staff saya akan hubungi Bapak tentang ajuan buka jalur laut  Kupang- Oecusse untuk dukung logistik dll. Mhn bantuan dan kerjasamanya ya Pak,”pinta Dubes Sahat Sitorus.

Atas rencana itu, Kadishub NTT Isyak Nuka menyambut baik dan siap berdiskusi dengan staf dari KBRI di Dili.

Untuk diketahui bahwa Labuan Bajo boleh saja premium tapi dia tidak boleh sendirian, dia bagian dari kepulauan Flores, yang memanjang ke Timur hingga rangkaian pulau-pulau kecil di sana, seperti Solor, Lembata dan Adonara.

Apalagi kalau saja Kepulauan Alor disebelahnya dikoneksi dalam satu pengembangan yang terpadu akan menjadi lebih hebat.  Itu benar-benar surga yang jatuh ke bumi. 

Tambah sempurna lagi, kalau Sumba, dan Timor menjadi sebuah kemasan wisata yang terpadu. Kekayaan alam dan budaya NTT memang tak habis dilukiskan dengan kata-kata.

Presiden Joko Widodo tentu punya alasan sendiri untuk menjadikan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata Premium. Ia sudah jatuh hati dengan keindahan bumi Flobamora.

Kemurahan hati Jokowi ini tentu menjadi angin segar untuk membuka akses wisata NTT dan di Indonesia Timur seluas-luasnya sejalan dengan program strategis nasional. (tim/42na)

%d blogger menyukai ini: