Fortuna

Lian Ledang, Situs Purbakala yang Belum Dieksplorasi

“Di Kampung tua Wuwur ini ada bukti peninggalan berbagai  batu menhir (Mahe) dari berbagai suku termasuk tembikar dan peralatan purba lainnya yang  ditemukan warga dan tersimpan di rumah mereka”

Tim Percepatan Desa dan lintas komponen mengunjungi Lian Ledang belum lama ini. Foto : dok. Fortuna

Oleh : Bung Sila, Penggagas Team Percepatan  Pembangunan Desa (TPPD)

MAUMERE, fortuna.press – Lian Ledang adalah nama salah satu gua yang terletak di kampung Wuwur,  desa Kloangpopot kecamatan Doreng kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Gua ini belum dikenal publik jika dibandingkan dengan Liang Bua di Kabupaten Manggarai.

Kini Liang Bua Manggarai  menjadi Situs Purbakala abad 21 setelah  ditemukan kerangka manusia purba kerdil yang kemudian oleh para Arkeolog dinamai Homo Floreseinsis. Liang Bua awal mulanya ditemukan oleh Pater Theodore Verhoeven, SVD guru  Seminari Mataloko 1957. Padahal Pater Verhoeven juga pernah melakukan penggalian terkait peninggalan manusia purba di Lian Ledang pada tahun 1960.

“Ia  sempat membawa beberapa  bukti peninggalan manusia purba di Lian Ledang namun sayang Pater Verhoeven mengalami kecelakaan sehingga tidak sempat publikasikan hasil penelitiannya,” kata Leopoldus Maring tokoh sejarah dan budaya desa Kloangpopot.

Menurut Leopoldus Maring, ada tiga gua di kompleks kampung tua Wuwur, gua pertama disebut Lian Ledang artinya gua besar dan luas, tempat manusia tinggal. Gua kedua disebut Lian Lorun,  gua untuk tempat bertenun dan gua ketiga disebut Lian Widin, gua untuk tempat simpan hasil buruan.

Karena semakin berkembangnya jumlah manusia yang menghuni di Lian Ledang, mereka kemudian beranjak pindah ke atas pundak bukit. Mereka mulai bangun pondok masing-masing dan tinggal berjejeran di sekitar kompleks bukit, yang dalam bahasa krowe disebut dengan istilah ‘Teri Wuwu Wi’in”, artinya tinggal berjejeran, yang kemudian dikenal dengan nama kampung Wuwur saat ini.

Di Kampung tua Wuwur ini ada bukti peninggalan berbagai  batu menhir (Mahe) dari berbagai suku termasuk tembikar dan peralatan purba lainnya yang  ditemukan warga dan tersimpan di rumah mereka.

Salah satu satu warga kampung Wuwur, Viator Moa menceritakan kisah kehidupan dan  peperangan antara warga Wuwur melawan warga Kloangpopot. Dalam  serangan pertama warga Kloangpopot menang dan menguasai seluruh teritorial Wuwur dengan memasang janur kuning(hipat lepa bura). Kekalahan warga Wuwur tidak berarti mereka takluk. Tetua adat mulai mengatur strategi untuk merebut kembali wilayah mereka;  maka  diutuslah  beberapa serdadu untuk meminta bala bantuan dari Dobo Ian Tena. Kemudian laskar Dobo Ian Tena dibawa komandan Bajo datang ke Wuwur untuk mengatur stategi perang melawan Kloangpopot. 

Bajo perintahkan warga Wuwur mengumulkan batu dari segala arah untuk membangun benteng pertahanan, dalam bahasa setempat disebut kota watu. Benteng berbatu itu disusun lapis tiga. Selain itu mereka juga membangun tempat pengintaian (Teleng) untuk memantau musuh.

Usai benteng dibangun mereka memanggil musuh dengan membunyikan sebuah Gong. Gong ini menurut cerita tokoh lainnya Fransiskus Saverius jika sekali pukul bunyinya 7 irama/ritme. Hingga kini, bukti sejarah berupa Gong itu masih tersimpan di dalam tanah dekat pintu masuk benteng. Selain gong ada juga senjata dan peluru dari batu. Senjata-senjata tua inilah yang menjadi andalan untuk berperang lagi melawan warga Klaongpopot dan akhirnya perang kedua ini dimenangi warga Wuwur.

Batu iris, salah satu bukti sejarah yang masih tersimpan rapi oleh generasi Wuwur. Foto ; dok.Fortuna

Selain perang melawan Kloangpopot, warga Wuwur juga pernah melawan Krado ( wilayah desa Ipir) terkait klaim sungai yang membelah dua wilayah itu. Mereka pun melakukan sumpah jika sungai itu milik orang Krado, maka Orang Krado mencedok air dan isi dikeranjang (bakul) lalu bawa ke kampungnya. Jika air dalam bakul itu masih utuh berarti sungai itu milik orang Krado. Namun air yang dibawa orang Krado tidak sampai di kampung mereka, air itu sudah kering dalam perjalanan. Sebaliknya jika sungai itu milik orang Wuwur, maka orang Wuwur membuktikan dengan cara mengambil salah satu batu dalam sungai itu dan mengiris/membelahnya dengan pisau. Dan orang Wuwur pun membuktikan kesaktian mereka dengan membelah batu dengan pisau. Sehingga sungai itu menjadi milik orang Wuwur.  Kini batu irisan itu masih ada. Namun warga Wuwur yang mendiami benteng kota watu punah karena serangan wabah kolera. Akibatnya terputus cerita sejarah  kehidupan zaman batu tua. Dan warga Wuwur yang tinggal sekarang adalah pendatang dari Suku Sawu, Keytimu, Mana dan campuran.

Progres Penataan Lian Ledang

Sebagaimana misi kunjungan perdana Sabtu 15 Januari 2022 di kawasan Lian Ledang kampung Wuwur, desa Kloangpopot kecamatan Doreng kabupaten Sikka dan hasil simulasi  pertama design program pariwisata berbasis keunikan sebagai berikut;

Pertama, Kawasan Lian Ledang akan  disterilkan untuk kepentingan  pra riset para peneliti dari Arkeolog untuk mengetahui kehidupan manusia purba dan bukti-bukti peninggalan benda-benda bersejarah.

Kedua, Dokumentasi dan penggalian narasi sejarah asal-usul kampung tua (Kota) dan  Lian Ledang.

Ketiga, Warga kampung Wuwur sangat antusias  meresponnya. Hari Kamis kemarin 20 Januari 2022, mereka gelar pertemuan perdana  untuk membangun Balai/pondok, WC umum, lahan parkir, penataan taman dan akses ke Lian Ledang, Les bahasa Inggris, dan pemilihan tokoh masyarakat Viator Moa sebagai Ketua Tim Kerja.

Semangat ini sejatinya terus dipupuk, agar model program apapun warga harus menjadi pemilik dan penggerak  utama pembangunan. Menariknya, ketika mulai disoriti media social, tempat ini langsung mendapat kunjungan  perdana Ancis, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma Jogjakarta.

Pergerakan Bung Sila

Pergerakan seorang Bung Sila (Liberius Langsinus, red) tidak asing bagi publik baik daerah maupun nasional. Dia  adalah salah satu tokoh pemuda Doreng yang merintis Misi Pancasila Sakti Keliling Indonesia. Begitu pula kegigihan dia dalam memperjuangkan nasib rakyat kecil  yang tak bersuara  di seluruh tanah air, sehingga ia dijuluki pejuang kemanusiaan.

Kini Bung Sila kembali ke kampung halaman Kloangpopot dan menggagas Team Percepatan Pembangunan Desa( TPPD) yang beranggotakan para pemuda di kampung yang Ia rekrut dari rumah ke rumah. Kehadiran dan aksi TPPD  walau baru umur satu bulan kini mulai menggema, salah satunya pengembangan Lian Ledang sebagai destinasi baru untuk pariwisata.

Camat Doreng J.E. Satriawan dalam dialog singkatnya bersama warga kampung Wuwur, mengatakan siap mendukung penuh segala inisiatif yang bertujuan memajukan  kampung sesuai dengan potensinya. Begitu pula Lorens Lepo dari Bekraf Pariwisata dan Budaya Sikka siap merespon untuk dan berkolaborasi untuk menjadikan Lian Ledang sebagai destinasi pariwisata unggulan sesuai dengan konsep TPPD . (*

%d blogger menyukai ini: