Fortuna

Lampu Gelap di Jalur 40 Kupang Sering Makan Korban, Tanggungjawab Siapa?

“Jalur 40 makin ramai lancar serta jadi pilihan karena dapat mengurai kemacetan lalu lintas warga menuju bandara, pelabuhan Bolok –Tenau tetapi malam harinya sangat seram karena gelap,” ujarnya

Petugas dari UPT Lampu DInas PUPR Kota Kupang sedang memperbaiki lampu di sekitar Kota Kupang, Foto : Ist

KUPANG,  fortuna.press– Derap nadi pembangunan lintas sektor di Kota Kupang sebagai ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur terus berjalan. Berbagai kebutuhan dasar warga, sarana hiburan dan fasilitas pendukung percepatan pelayanan kemasyarakatan kini telah dihadirkan pemerintah untuk warga Kota Kupang.

Kebutuhan dasar warga seperti jalan, listrik dan air bersih mulai dipenuhi pemerintah meski belum seluruhnya. Pun disana, ada sejumlah kebutuhan dasar warga yang masih diabaikan dan sering menuai masalah. Salah satu contoh paling nyata adalah gelapnya penerangan lampu jalan di jalur 40 yang menghubungkan wilayah Penfui, Petuk, BTN Kolhua, Sikumana hingga Manulai dan Alak.

Jalur jalan strategis alternatif sepanjang kurang lebih 10 kilometer ini nampaknya jauh dari sentuhan pemerintah ditengah program sejuta lampu jalan yang digalakan pemerintah Kota Kupang.

Padahal setiap hari ribuan warga dan kendaraan bermotor melintas dijalan itu. Hiruk pikuk warga yang melewat jalur ini terpantau ramai lancar bahkan boleh dikatakan aktif 24 jam non stop. Namun tak disangka buruknya penerangan jalan dimalam hari sering membawa petaka.

Fakta itu berakibat banyak masalah kerawanan sosial, gangguan Kantibmas bahkan kecelakan yang sering merenggut nyawa manusia terjadi dijalur ini. Konon kita mendapatkan kabar banyak aksi begal, pencurian, perampokan, kecelakaan lantas hingga warga bebas buang sampah sembarang di kawasan itu pada malam hari karena gelap.

Pantauan fortuna.press, hanya ada kurang lebih 27 mata lampu yang dipasang secara “suka-suka” dijalur 40 mulai Alak, Manulai, pertigaan Sikumana hingga BTN Kolhua dan Jembatan Petuk- Penfui.

Bahkan kawasan yang kini paling ramai Sikumana- BTN- Jembatan Petuk kini masih terpantau gelap dan tak terurus meski Jembatan Petuk menjadi salah satu Ikon wisata di Kota Kupang yang sering menjadi pusat keramaian serta titik kumpul bagi warga pada sore dan malam hari.

Dikawasan jembatan Petuk II misalnya, hanya terpasang 3 titik lampu terpusat di ujung jembatan. Itupun karena ada warga yang membuka usaha kuliner kecil “ditengah-tengah jalur” yang mestinya tidak diperbolehkan oleh aturan karena masuk daerah milik jalan.

Sementara di jembatan Petuk I yang gemerlap dengan lampu hias disisi kiri kanan jembatan itu hanya menyala sekitar 3 bulan saat jembatan itu diresmikan penggunaanya dan sudah lebih dari 2 tahun ini gelap alias tak terurus.

Beberapa tiang lampu solar cell yang dipasang ditengah lajur jembatan yang patah akibat badai seroja 1,5 tahun lalu hingga kini dibiarkan merana dan tetap gelap. Akibatnya kecelakaan lalu lintas pun terjadi diatas jembatan itu dan menimbulkan korban nyawa pekan kemarin.

Charles Banamtuan, salah seorang warga kelurahan Kolhua meminta pemerintah untuk segera memasang lampu penerbangan jalan umum (PJU) di kawasan jembatan Petuk dan sepanjang jalur 40. Alasannya kawasan itu sudah jadi pilihan warga untuk bepergian siang maupun malam.

Selain dapat mengurai kemacetan lalu lintas dijalan protokol menuju bandara, rute jalur 40 itu juga dianggap jadi alternative terbaik bagi warga yang ingin bepergian ke bandara El Tari dan pelabuhan Bolok –Tenau.

Menurutnya, urusan  pemasangan mata lampu jalan dikota Kupang juga jangan terkesan ada diskriminasi apalagi hanya karena beda kewenagan pemerintah di setiap tingkatan. Hal ini karena jalur 40 masuk wilayah kota Kupang yang wajib diperhatikan sama seperti wilayah yang lain di pedalaman Fatukoa, Bello, Alak, Penfui dan sekitarnya.

“Ini jalan sudah sekian tahun pakai kok lampunya gelap terus, makin ramai makin gelap padahal pemerintah kota Kupang punya program “Kupang Bercahaya”. Memang banyak yang sudah terang tetapi jalur 40 yang strategis dan keren tetap gelap. Kita minta pemerintah segera benahi ini, jangan baku adu kewenangan dan tanggungjawab. Ini wilayah kota. Tinggal koordinasi,” tegasnya

Hal yang sama dikatakan Marcelis Wea. menurutnya jalur 40 itu sangat ramai lancar hari – hari tapi sayangnya gelap dan tidak nyaman bagi pelintas dimalam hari.

“Jalur 40 makin ramai, indah dan lancar serta dapat mengurai kemacetan lalu lintas menuju bandara El Tari, pelabuhan Bolok –Tenau tapi malam harinya sangat seram karena gelap,” ujar Marcelis

Anggota DPRD Kota Kupang Yosep Jemari Dogon meminta pemerintah khusunya Dinas PUPR yang punya tugas tersebut segera memenuhi permintaan warga soal kebutuhan penerangan di jalur 40 yang sifatnya segera.

Sebagai anggota DPRD Kota Kupang Dapil Maulafa, Yosep mengaku sering mendapat keluhan yang sama soal penerangan lampu jalan di jalur 40 sehingga dia berharap ini harus menjadi perhatian serius warga.

“Kita minta segera dibereskan. Jalur 40 itu ramai padat namun kalau gelap sangat beresiko, jangan sampai kerawanan sosial dan gangguan kantibmas terus terjadi dan membuat warga tidak nyaman. Saya sering juga mendapatkan keluhan ini saat reses,” ujarnya.

Dia mengaku sudah berkoordinasi langsung dengan Kepala UPT Lampu Dinas PUPR untuk mendapatkan solusi terkait masalah tersebut.

Tiang lampu solarcell dijembatan Petuk yang sempat roboh saat badai Seroja dan membuat kawasan itu gelap hingga kini. Foto : ist

 Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN)  X Kupang, Agustinus Junianto mengatakan pihaknya belum mempunyai program untuk menambah pemasangan lampu penerangan jalan dikawasan jalur 40.

Dia berharap kedepan fasilitas penerangan dijalur jalan utama yang dikerjakan BPJN dikawasan tersebut diperhatikan sehingga dapat mendukung aktivitas masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya.

 “Soal Penerangan di Jalur 40 belum ada penambahan atau pemasangan tambahan penerangan jalan. Kedepan nanti kita perhatikan,” ujarnya singkat kepada fortuna.press, kemarin

Plt. Kepala Dinas PUPR KotaKupang, Maxi Dethan mengatakan pihaknya akan berkomunikasi dengan  BPJN untuk mencari solusi bersama sehingga wilayah tersebut bisa terang pada malam hari.

“Lokasi dimaksud akan jadi perhatian kita. Kami  coba komunikasi dengan pihak BPJN untuk bersama mencari solusinya karena dilokasi itu kalau tidak salah lampu Solar Chell milik Balai sudah dipasang,“ujar Maxi melalui Kepala UPT Lampu Elvis Galoni.

Dijelaskan Elvis Galoni, saat ini UPT Lampu Dinas PUPR Kota Kupang sudah tidak memiliki stok untuk pemeliharaan Solarchell sehingga untuk mengatasi penerangan di jalur 40 diupayakan pengalihan ke jaringan listrik, kalau dilokasi dimaksud tersedia jaringan listrik PLN.

Elvis mengatakan pihaknya segera berkoordinasi dengan tim teknis guna mengecek lokasi dan mencari solusi bersama demi kenyamanan dan kelancaran aktivitas warga kota Kupang yang melintas di kawasan jalur 40 dan sekitarnya.

Adapun ketersediaan akan lampu penerangan jalan umum menjadi kebutuhan utama warga kota karena dengan akses penerangan yang cukup maka geliat ekonomi dan UMKM dapat terus tumbuh.

Saat ini melalui UPT Lampus Dinas PUPR Kota Kupang, pemerintah terus melakukan survei dan pemetaan titik-titik strategis, jalur utama, jalan lingkungan hingga perkampungan warga dipasang lampu jalan. Di kelurahan-keluraha pinggiran kota sudah dialiri oleh ribuan mata lampu yang terus kendalikan pemerintah. (tim/42na)

Kantor Pusat Kopdit Pintu Air. Foto : Fortuna

%d blogger menyukai ini: