Fortuna

Kreativitas Perangkat Desa Teka Iku, Sikka, Olah Bambu Jadi Perabot dan Furniture

“Kerja keras mengalahkan bakat, ketika bakat tidak bekerja keras.”

Fransiskus Inosensius, Perangkat Desa Teka Iku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT. Foto : Ist

Ketika bekerja keras, niscaya akan mampu mengalahkan talenta karena talenta tidak bekerja keras. Artinya, mustahil kesuksesan menghampiri kita tanpa ada usaha dan pengorbanan untuk menggapainya.

Pepatah ini mungkin cocok ditujukan kepada  Fransiskus Inosensius, seorang perangkat desa di Desa Teka Iku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT yang mengembangkan usaha kerajinan bambu sejak awal masa pandemic COVID-19, sekitar bulan Maret tahun 2020 lalu.

Berkat keuletan serta kerja kerasnya mengembangkan usaha kerajinan bambu, Fransiskus Inosensius, kemudian membentuk sebuah kelompok pengrajin bambu berjumlah 5 orang yang 3 orang diantaranya merupakan kaum difabel.

“Untuk anggotanya 3 orang difabel; 2 orang cacat kaki kanan bekas kecelakaan dan 1 orang cacat tangan kiri dari lahir, 1 orang latar belakangnya tukang ojek dan 1 orang lagi remaja yang masih SMP. Saya juga sudah kasih pelatihan buat mereka selama satu minggu mulai dari tanggal 8 sampai 13 Februari 2021,” ungkap pria yang kesehariannya bekerja sebagai perangkat desa di Desa Teka Iku kepada florespedia pada Sabtu (20/2/2021).

Lampu hias dengan bahan dasar bambu, hasil karya Fransiskus Inosensius. Foto : Istimewa

Usaha kerajinan bambu terinspirasi saat dirinya keranjingan menonton video tutorial kreatifitas bambu yang banyak beredar di channel-channel YouTube.

Selain itu, dengan melihat potensi sumber daya alam yang ada di kampungnya, Ino, panggilan akrab suami dari Magdalena Herlina Afriani Mirong ini mulai mengolah bambu menjadi berbagai macam kerajinan seperti kursi, meja, lampu hias, vas bunga, asbak rokok, lemari, tas, miniatur, rak TV, tempat tidur, tirai bambu dan lain-lain.

“Saya melihat potensi bambu yang ada di Desa Teka Iku sangat banyak dan hampir tersebar disetiap kebun warga masyarakat tapi tidak dikelola secara baik dan dibiarkan terbengkalai begitu saja. Hanya sebagian kecil warga yang mengolah menjadi pelupu untuk dijual atau mereka menjualnya hanya dalam bentuk bambu gelondongan saja,” ujarnya

Ia yakin apabila dikelola secara baik akan mendatangkan penghasilan yang lumayan baik pula. Apalagi, menurut Ino, bambu mempunyai nilai seni yang sangat bagus dan bisa dikreasikan dalam berbagai macam bentuk furniture rumah tangga.

“Selain itu, karena faktor ekonomi rumah tangga, sehingga saya sangat termotivasi dan mulai menekuni kerajinan bambu ini,” ungkap Ino.

Harga jual tiap produk yang dipatok pria itam manis ini pun bervariasi tergantung dari model, jenis dan ukuran.

Untuk 1 buah meja bambu dipatok dengan harga Rp.150.000 hingga Rp.500.000, tergantung ukuran dan modelnya. Satu kursi bambu dari harga Rp.150.000 hingga Rp.300.000, tergantung ukuran dan modelnya.

“Kalau kursi dan meja 1 set harganya dari Rp.500.000 sampai dengan Rp.2.500.000, tergantung model, ukurannya dan dudukan serta sandarannya pakai spon atau tidak pake spon,” ungkap Ino.

Untuk lampu hias dari bambu, dipatok dengan harga Rp.150.000 hingga Rp. 200.000. Vas bunga dari harga Rp 50.000 hingga Rp.200.000.

Ino juga membuat berbagai macam miniatur seperti sepeda, mobil dan lainnya yang dijual seharga Rp. 85.000 hingga Rp. 300.000, tergantung jenis miniaturnya dan tingkat kesulitannya.

Sedangkan untuk asbak rokok dijual seharga Rp. 50.000. Adapun lemari bambu dari harga Rp. 350.000 hingga Rp. 1.500.000, tergantung model dan ukuran. Tas samping dan tas tangan dari bambu dijual dengan harga Rp. 150.000 hingga Rp. 350.000, tergantung model dan variasinya. 

Tersedia juga rak TV bamboo dengan harga mulai dari Rp. 350.000 hingga Rp. 1.000.000. Tempat tidur bambu dari harga Rp. 750.000 hingga Rp.1.500.000, tergantung ukuran dan model. Tirai bambu dijual dengan harga dari Rp. 200.000 hingga Rp 300.000 per lembar.

Tas tangan cantik dengan bahan dasar bambu, hasil karya Fransiskus Inosensius. Foto : Istimewa

Untuk media promosi, Inosensius mengaku untuk saat ini dirinya melakukan promosi melalui akun media sosialnya yakni Facebook pribadinya (Deddhe Inho) dan melalui WhatsApp Grup.

“Kedepannya saya rencanakan akan mendaftarkan diri menjadi anggota member di AKUSIKKA,” ujarnya

Ditanya terkait tantangan yang dihadapi saat menekuni usaha tersebut, Ino mengaku bahwa proses pemasaran hasil karyanya yang belum maksimal.

Selain itu, media atau alat pengawetan (perendaman bambu) yang masih tradisional dan masih menggunakan ember bak dan drom bekas. Hal tersebut menyebabkan proses pembuatan kerajinan bambu menjadi agak lama karena tidak bisa direndam dalam volume yang banyak.

“Kalau untuk bahan baku bambunya sebagian saya ambil dari kebun sendiri dan ada juga sebagian yang saya beli dari pemilik bambu lain, untuk sementara saya masih bekerja sendiri dan dibantu oleh istri,” ujar pria yang mengaku memiliki hobi musik dan olahraga ini.

Satu set kursi dan meja bambu, hasil karya Fransiskus Inosensius. Foto : Istimewa

Butuh Sentuhan Pemerintah

Fransiskus Inosensius mengaku, usaha yang Ia kembangkan saat ini ia dimulai dari nol dengan peralatan seadanya dan modal pribadi. Hingga kini, belum ada intervensi anggaran dari pemerintah untuk mengembangkan usaha kecil menengah seperti yang dikembangkan oleh Inosensius.

Nah sebagai perangkat desa, Inosensius harus pandai mengatur waktu kerja antara pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan sebagai pengrajin bambu.

“Kalau untuk waktu kerjanya sangat terbatas karena pekerjaan pokok saya sebagai seorang  perangkat desa jadi saya harus mengatur waktu kerja saya dengan baik. Sekitar jam 5 pagi sampai jam 8 pagi saya sudah mulai bekerja, setelah pulang dari jam kantor sekitar jam 4 atau jam  5 sore baru mulai bekerja lagi sampai jam 9 atau jam 10 malam,” kata Ino.

Meskipun sebagai bagian dari aparat Pemerintah Desa Teka Iku, Ino tetap berharap Pemerintah Desa Teka Iku bisa memperhatikan usaha yang sementara ia kembangkan.

“Sehingga potensi lokal yang ada di desa ini lebih khususnya bambu bisa dimanfaatkan dengan baik dan kelompok yang saya bentuk ini bisa berkembang dan maju untuk hari-hari kedepannya .Selain itu juga, saya pribadi dan kelompok yang sudah saya bentuk ini bisa diberikan bantuan peralatan kerja yang moderen sehingga hasilnya bisa lebih maksimal dan rapih serta bisa bersaing daya jual kedepannya,” ujarnya lagi.

Miniatur sepeda dan becak dengan bahan dasar bambu, hasil karya Fransiskus Inosensius. Foto : Istimewa

Ino juga berharap agar Pemerintah Desa Teka Iku membangun sebuah galeri lokal desa sehingga segala hasil karya masyarakat bukan hanya dari bambu tapi ikat tenun dan yang lainnya bisa dipamerkan di galeri tersebut mengingat para tamu selalu datang setiap saat di  desa.

“Ini kesempatan yang baik untuk kita bisa mempromosikan hasil karya tersebut,” tutupnya. (Albert Aquinaldo/42na)

%d blogger menyukai ini: