Fortuna

Kisah Suskes Erik Paji, Pemuda Desa Ladogahar, Sikka, yang Jadi Petani Hortikultura

Ia menggeluti dunia pertanian tanaman hortikultura sejak tahun 2011. Saat itu dirinya masih menjadi mahasiswa semester 2 Fakultas Pertanian Universtitas Nusa Nipa Maumere, Program Studi Agribisnis.

Pola Terasering jadi salah satu cara Erik dkk menjaga kesuburan tanah dilahan yang miring. Foto : Albert/ Fortuna

MAUMERE, fortuna.press – Erik Paji, pemuda Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka ini ternyata mampu membawa perubahan bagi dirinya sendiri dan bagi petani di desanya.

Penyandang gelar sarjana pertanian ini mampu merubah pola pertanian tanaman hortikultura petani di desanya yang semula belum memahami cara menanam tanaman hortikultura yang baik dan benar menjadi  petani yang lebih professional dibidang hortikultura.

Ternyata bukan hanya itu, lulusan sarjana pertanian Universtitas Nusa Nipa Indonesia Maumere ini juga mampu mengajak beberapa anak muda di desanya untuk menjadi petani khususnya petani hortikultura.

Ditemui fortuna di lahan pertanian hortikultura miliknya di Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Sabtu (26/2/2022) lalu, lulusan Fakultas Pertanian Nusa Nipa Maumere ini menjelaskan bahwa saat ini dirinya bersama petani lainnya fokus menanam cabai dan tomat di atas lahan seluas 1,3 hektar.

“Jumlah bedeng yang sekarang ini hampir 100-an dengan total populasi tanaman yang sekarang, untuk cabai sekitar 14an ribu dan tomat itu sekitar 5 ribu. Saya tergabung dalam kelompok tani tapi usaha ini saya sendiri, sedangkan kami dalam kelompok tani itu masing-masing punya lahan,” jelas Erik yang juga merupakan Ketua BPD Desa Ladogahar ini. 

Tanaman cabai milik Erik tumbuh subur dan sehat serta berukuran besar, karena Erik mengaku menggunakan benih panah merah.

“Untuk benih cabai besarnya itu saya gunakan varietas pilar sedangkan untuk benih cabai keritingnya itu saya pakai varietas laju. Untuk tomat yang saya gunakan itu varietas gustafi,” ungkapnya

Ia menggeluti dunia pertanian tanaman hortikultura sejak tahun 2011. Saat itu dirinya masih menjadi mahasiswa semester 2 Fakultas Pertanian Universtitas Nusa Nipa Maumere, Program Studi Agribisnis.

Soal ukuran tanaman hortikultura miliknya yang besar, Erik menjelaskan bahwa hal itu tergantung teknis budidaya dan asupan nutrisi untuk tanaman.

Lebih jauh dia menjelaskan bahwa ketika nutrisi tanaman itu diberikan secara berimbang, maka secara otomatis kualitas produksi dan kualitas bobot buah akan jauh lebih besar.

“Kita kerjanya itu saling berbagi, kita dengan kelompok tani lainnya tidak ada rahasia sehingga produksi yang dihasilkan itu juga sama,” ujar pemuda yang saat ini diangkat menjadi Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) swadaya ini.

Lahan pengembangan tanaman Lombok yang sangat subur dan memanjakan mata. Foto : Albert/ Fortuna

Dikatakan Erik, jumlah anggota kelompok tani yang bekerja bersama dirinya berjumlah delapan orang terdiri dari anak-anak muda dan orang tua yang berusia produktif.

Lanjutnya, spesifikasi kelompok tani yang tergabung bersama Erik adalah tanaman hortikultura.

Dijual Hingga Flotim dan Alor

Soal pangsa pasar, Erik mengaku, sejauh ini masih melayani kebutuhan di pasar tradisional setempat yakni Pasar Alok Maumere. Namun, terkadang, mereka juga memenuhi permintaan dari Kabupaten Ende dan Flores Timur bahkan hingga Kabupaten Alor.

Terkait harga Cabai saat ini, Erik mengaku mengalami anjlok saat pandemi COVID-19 dengan mencapai harga terendah yakni Rp 9.000-Rp 10.000/kg, sedangkan untuk tomat, anjlok hingga Rp 3.000-Rp 4.000/kg.

“Berbiacara soal budidaya cabai dan tomat itu, yang pertama, naikkan produksinya, harga minimal untuk cabai itu minimal Rp 15.000-Rp 17.000/kg, itu petani masih bisa untung, kalau tomat itu, Rp 4-5 ribu/kg,” tutur Erik yang mengaku sejauh ini belum mengalami kerugian dan tetap mempertahankan jumlah dan kualitas produksi tanaman hortikultura.

Terkait anjloknya harga, menurut Erik, dipengaruhi oleh masuknya produk dari luar daerah dan pandemi COVID-19. Namun, untuk bisa bersaing dengan produk luar dari luar daerah, lanjut Erik, yaitu mempertahankan kualitas tanaman hortikultura dari segi bobot buah, warna, ketahanan buah.

Lahan Hortikultura milik Erik yang saat ini sangat memotivasi warga Desa untuk mengeluti dunia pertanian. Foto : Albert/ Fortuna

Sejauh ini, Erik dan kelompok taninya berkeinginan untuk menjangkau pasar yang lebih luas untuk memaskan hasil pertanian hortikultura miliknya.

Terasering dan Motivasi Petani Lokal

Tantangan yang dihadapi Erik dan kelompok taninya dalam mengembangkan tanaman hortikultura adalah topografi lahan yang miring. Namun, Erik tidak kehilangan akal yakni dengan membuat terasering. Dan hal yang paling penting menurut pemuda yang juga merupakan Ketua BPD Desa Ladogahar ini yakni menjaga kualitas tanah.

Dampak yang dirasakan Erik selama bergelut di dunia pertanian tanaman hortikultura, sebut Erik sangat besar bagi masyarakat Desa Ladogahar.

“Mereka sudah mulai membudidayakan tanaman hortikultura ini dengan baik dan benar, kalau dulu, disuruh buat bedeng saja susah, jarak antar bedeng yang kita sampaikan antar bedeng yang kita sampaikan itu orang tidak mau buat tetapi ketika mereka melihat apa yang saya buat, mereka mulai ikut karena petani itu lebih percaya mata, setelah melihat hasil baru mereka ikut, itu yang pertama, yang kedua, anak-anak muda sudah mulai banyak yang tertarik untuk masuk kebun dan itu yang saya juga senang,” ujarnya.

Motivasi Erik yang bergelar Sarjana Pertanian namun mau bergelut dan terjun langsung di lapangan bersama para petani adalah memanfaatkan banyaknya lahan di Kabupaten Sikka yang masih dibiarkan begitu saja atau istilahnya lahan tidur. Padahal, menurut dia potensi pengembangan lahan tidur itu ketika digeluti dengan serius maka akan sangat menjanjikan.

“Pertanian itukan setiap tahun dan dari generasi ke generasi kan mengalami perubahan, dan itu harus kita ikuti betul dan kita harus berbagi ke petani-petani kita yang selama ini mereka sudah menjadi petani tetapi belum tentu mereka menjadi petani yang baik dan benar, supaya mereka juga bergerak lebih maju,” ungkap dia dan mengaku kedepannya dirinya akan mengajak lebih banyak lagi orang muda untuk menjadi petani.

Erik Paji saat ini menjadi penyuluh pertanian swadaya di Desa Ladogahar, Kecamatan Nita dengan mendampingi 13 kelompok tani. (Albert Aquinaldo/42na)

%d blogger menyukai ini: