Fortuna

Ketika Elsa, Atourin dan Bakti Kominfo Perkenalkan Sanggar Rudun Blutuk Maumere

“Sanggar seni budaya jadi bagian penting dalam menyukseskan program pengembangan desa wisata. Goalnya ingin mendorong partisipasi masyarakat desa menjadikan pariwisata sebagai sector unggulan baru”

Demonstrasi Pembuatan Tenun Ikat ala Sanggar Rudun Blutuk Mawarani. Foto : dok.Fortuna

Meski basic studinya bukan dibidang budaya dan atau pemberdayaan masyarakat desa, Elsa si gadis Desa itu kini mulai tertarik dan terlibat aktif melestarikan seni budaya daerahnya

Pertemuan dengan CEO Atourin, Benarivo Triadi Putra dan Boe Berkelana di Desa Tebuk, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur belum lama ini menjadi awal bagi Elsa untuk memperkenalkan dan komit memajukan Sanggar Rudun Blutuk, sebuah komunitas pegiat seni budaya daerah itu  

Atourin sendiri merupakan sebuah perusahaan teknologi (digital) di sektor pariwisata yang berdiri sejak tahun 2018 dan fokus menyediakan layanan jasa perjalanan wisata baik online maupun offline.

Dalam virtual event bertajuk “Sahabat Virtual Travelling ke Sanggar Tenun di Desa Tebuk” yang ditayangkan secara live pada Sabtu, 18 September 2021 jam 10.00 WITA, pemilik nama lengkap Elisabeth Yuliana Dua Nona itu tampil apik sebagai host

Kegiatan yang dpandu Vony dari Jakarta itu diikuti banyak pegiat wisata dari berbagai daerah, komunitas seni budaya serta Tim dari Kemenkominfo, Kemendes RI, Kemenpar, para pekerja media dan lain sebagainya.

Menarik!, event itu mampu memperkenalkan keunikan budaya daerah di Desa Tebuk, mulai dari seni tari, music tradisional, tutur adat, tradisi budaya, hingga live show mahakarya mama-mama desa berupa tenun ikat, aneka souvernier, gading Maumere dan semua produk kerajinan lain yang dipajang dalam “Lepo” rumah sentra budaya yang eksotik itu

Tidak hanya itu, Kades Tebuk Petrus Bruno Bajo juga tampil secara live memperkenalkan profil desa dan aneka keunggulan komparatif yang ada dan jadi potensi ekonomi baru di desa itu

Adapun Sanggar Seni Budaya Rudun Blutuk Mawarane sendiri merupakan satu dari sekian Sanggar di Indonesia yang jadi target promosi program BAKTI Kominfo bekerjasama dengan Kementerian Desa, Atourin dan tentu Dinas Pariwisata setempat

Melalui sanggar seni budaya diyakini sungguh menjadi bagian penting dalam menyukseskan program pengembangan desa wisata yang intinya ingin mendorong partisipasi masyarakat desa menjadikan pariwisata sebagai sector unggulan baru yang potensial dan strategis meningkatkan ekonomi masyarakat

Tampil memperkenalkan potensi desa dan ragam budayanya secara virtual, Elsa alumni Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris Unipa Maumere itu nampak sangat cakap dan fleksibel meski diakuinya Ia tidak punya waktu cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya

“Sejujurnya saya awalnya juga tidak kepikiran sekali untuk terjun ke dunia pariwisata, apalagi belum tahu apa itu desa wisata. Saya hanyalah seorang guru privat bahasa Inggris yang selama ini mengajar anak-anak usia SD, “ ujar pemilik nama lengkap Elisabeth Yuliana Dua Nona kepada www.fortuna.press, Minggu, (19/9)

Tim dari Atourin dan Pelaku Wisata Sikka berkunjung ke Sanggar Rudun Blutuk. Foto : dok.Fortuna

Benar bahwa menjadi Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris sudah tentu pekerjaanya harus mengajar, namun ketika peluang itu ada untuk mengelola potensi desa bersama masyarakat setempat tentu bisa jadi sebuah pengalaman baru yang layak dicoba.

Singkat cerita setelah bertemu dengan tim dari Atourin,  aparat pemerintah desa dan warga desa di Kantor Desa Tebuk,  Elsa mulai terbuka cakrawalanya untuk terlibat dalam urusan pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata desa

“Waktu itu ada staf desa yang kerumah minta saya untuk ikut kegiatan pelatihan desa wisata, jauh sebelum mengetahui kalau Desa Tebuk dipilih menjadi salah satu desa wisata yang nantinya dipromosikan oleh BAKTI Kominfo dan Atourin,” terangnya

Warga Gotong Royong Membangun Sanggar

Setelah mendapat informasi detail dari aparat desa dan Tim dari Atourin, Elsa langsung tancap gas untuk bersama mempersiapkan berbagai kebutuhan awal misalnya supply data profil desa, potensi dan unggulan desa terutama tentang kekayaan seni budaya daerah juga alam yang ada di Desa Tebuk

Mama- Mama dari Sanggar Rudun Blutuk memperlihatkan keahlian mereka dalam menenun. Foto : dok. Fortuna

Semua dokumen didokumentasikan  dalam bentuk video dan foto bahkan warga desa anggota sanggar budaya Rudun Blutuk bergotong royong menata rumah utama sanggar, merapihkan aneka motif tenun dan souvernier, menyiapkan space untuk penempatan bala (gading) dan benda-benda purbakala, mempercantik lokasi sanggar

Lagi-lagi, persiapan tersebut dalam rangka promosi desa wisata Tebuk yang disponsori Bakti Kominfo dan Atourin bertajuk “Sahabat Virtual Travelling ke Sanggar Tenun di Desa Tebuk” yang diditayangkan secara live itu

Dipimpin Ketua Sanggar Kustandi Lerang dan para anggota sanggar, Elsa juga terlibat menyiapkan kostum dan penampilan tarian daerah, lagu serta music tradisional gong waning. Sementara satu tim kecil memastikan lokasi spot wisata gua alam Jepang yang letaknya tak jauh dari lokasi sanggar selain kesiapan warga desa yang terlibat menari dan menabuh gong gendang

Kepala Desa Tebuk Petrus Bruno Bajo juga nampak bersama warga dan Tim Bakti Kominfo memastikan data dan profil desa terutama produk unggulan yang siap dikembangkan manakala dibutuhkan pasar yang lebih luas

Semuanya beres dalam dua hari. Tidak main-main, usai mengenal dan melihat kemampuan Elsa, Tim Atourin langsung mempersiapkan Elsa menjadi host (pemandu acara) dalam acara Sahabat Virtual Travelling ke Sanggar Tenun di Desa Tebuk itu.

Sanggar Rudun Blutuk Yang Eksotis

Sejatinya Sanggar Rudun Blutuk sudah berdiri sejak tahun 1980-an bersamaan dengan Sanggar Mawarane. Waktu itu banyak wisatawan Eropa sering mengunjungi tempat itu searah dengan ramai nya minat kunjungan wistawan ke Kelimutu, Wisung Fatima Lela, Gereja Tua Sikka dan juga Museum Blikon Blewut di Nita

Posisi Kedua Sanggar yang terletak persis di jalan trans Flores itu menjadi alternatif dikunjungi wisatawan

Meski demikian lambat laut oleh barbagai alasan teknis manajemen dan organisasi, maka sanggar-sanggar itu seakan mati suri.

Baru pada tahun 2000-an sanggar itu mulai aktifkan lagi dan kini dipadukan dengan sebuatan Sanggar Rudun Blutuk Mawarane. Berbagai kegiatan latihan dan atau melayani kunjungan wisatawan atau tamu lokal dan domestik meski ditengah pandemi covid-19

Sebelumnya masyarakat Dusun Rane Desa Tebuk sudah dahulu membangun sebuah lepo yang menjadi pusat kegiatan sanggar. Aktivitas seperti demo pembuatan tenun ikat, jualan sarung hingga pentas seni budaya tradisional sudah dilakoni para “seniman kampung” itu sejak dahulu kala meski dengan metoda promosi yang sangat terbatas

Berbekal kuatnya kearifan lokal dan semangat gotong royong warga desa setempat maka sanggar itu menjadi kekuatan utama ditetapkannya Desa Tebuk sebagai salah satu desa wisata oleh Kementerian Pariwisata didukung Kementerian  Desa Tertinggal dan belakangan mendapat dukungan promosi dari Kementerian Kominfo

Bakti Kominfo sendiri membidik potensi unggulan desa untuk dipromosikan secara luas melalui support perangkat internet dan telekomunikasi gratis warga yang kini lagi menjangkau seluruh pelosok nusantara

Pesona Gua Sejarah Peninggalan Jepang, sisi lain yang bisa anda dapatkan ketika berkunjung ke Sanggar Rudun Blutuk. Foto : dok. Fortuna

Sebagai Desa Wisata, Desa Tebuk juga jadi sorotan meski paket pembuatan videonya melibatkan beberapa destinasi wisata alam dan budaya penyangga didesa sekitar misalnya gereja tua Sikka, Patung BSB Nilo dan Tanjung Kajuwulu guna mendukung tema besar Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang belum lama ini tayangan live nya di Labuan Bajo, Flores Barat

“Itulah sebabnya saya mulai merasa sepertinya arahnya ya harus ke dunia pariwisata. Saya lihat Desa Tebuk memiliki potensi wisata yang beragam dan sangat bagus. Profil wisata desa Tebuk begitu kuat dan mempersona, ujar Elsa

Kekuatan lain katanya yakni masyarakat setempat juga punya semangat untuk mengelola paket wisatanya meski ruang gerak mereka masih terbatas karena berbagai kandala SDM dan juga dukungan kaum profesional

Sehingga kedepannya Elsa dan aparat pemerintah desa akan terus berusaha untuk membangun semangat masyarakat untuk bergandengan tangan membangun desa Tebuk dari sisi pariwisata.

Ia sangat yakin karena Kepala Desa Tebuk Petrus Bruno Bajo dan Ketua sanggar Rudun Blutuk Mawarani Kustandi Lerang mempuyai komitmen yang sama dan kuat untuk mengembangkan sector ini jadi unggulan baru memacu ekonomi desa. (Andre Goru/42na)

%d blogger menyukai ini: