Fortuna

Jadi Mitra Kritis Pemerintah, Pemkab Sumba Barat Harap GMNI Jangan Kritik di Media Sosial

“Saya berharap kritik disampaikan terbuka, jangan di media sosial apalagi menggunakan akun palsu. Pemerintah akan mengindahkan masukan langsung yang disampaikan GMNI,”

PraiIjing, salah satu spot wisata eksotik di Kabupaten Sumba Barat. Foto : Ist

WAIKABUBAK, fortuna.press – Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Sumba Barat menyebut organsisasi GMNI tidak anti pemerintah melainkan menjadi mitra kritis pemerintah menuju kemajuan daerah. GMNI hadir sebagai pejuang pemikir-pemikir pejuang.

Demikian dikatakan Pengurus Persatuan Alumni (PA) GMNI Kabupaten Sumba Barat Yusti Rambu Karadji, S.Th ketika memberi sambutan dalam kegiatan PPAB ke-VI di Aula Kantor Desa Bera Dolu, Kecamatan Loli, kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat, (08/10/2021)

Seremonial Pembukaan PPAB GMNI Sumba Barat Angkatan VI itu dihadiri Bupati Sumba Barat Yohanis Dade melalui Plt. Kaban Kesbangpol Lobu Ori M.Pd, Pejabat yang mewakili Kapolres Sumba Barat, para alumni, undangan lain dan puluhan orang calon anggota baru

Yusti Rambu Karadji S.Th menjelaskan bahwa kehadiran GMNI di Sumba Barat strategis dalam membantu menyuarakan aspirasi kaum-kaum marhaen.

GMNI juga katanya bukan hanya melakukan gerakan dan aksi di lapangan, melainkan bisa menawarkan ide-ide guna menentukan arah pembagunan daerah.

Pasalnya, mahasiswa dikenali dengan julukan agen perubahan. Sehingga Ia yakin setiap mahasiswa yang bergabung di GMNI adalah mahasiswa yang berkualitas dan berintegritas nantinya.

“GMNI tidak anti pemerintah, melainkan menjadi mitra kritis pemerintah. Mengawal segala bentuk kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Dan juga hadir sebagai penyumbang konsep pembangunan daerah,” Yusti.

Kepada peserta PPAB GMNI, Yusti meminta agar terus berproses  dalam mengikuti kegiatan yang sedang diselenggarakan.

Dikatakan dalam berproses GMNI, semua akan berhadapan dengan berbagai macam dinamiki. Sehingga, sebagai kader yang progresif, militan, loyalitas, totalitas akan diuji mentalitasnya.

Meski demikian, Ia juga mengingatkan agar tidak melupakan segala tugas dan tanggungjawab di kampus. Kampus menjadikan generasi cerdas dan berintelektual tinggi sedangkan organisasi menempah mental, semangat juang dan integritas.

“Untuk menjadi kader yang berkompeten, mahasiswa harus berpartisipasi dan aktif dalam satu wadah organisasi. Saat ini, Indonesia membutuhkan masyarakat yang berkualitas. Masyarakat yang berintelktual tinggi dan berinovasi di era Digital, tegasnya.

Ia juga menegaskan kader GMNI harus menjadi pribadi yang handal, peka dan dapat diandalkan ditengah masyarakat

“Berproseslah,siaplah dibentuk agar menjadi agen perubahan yang handal di lingkungan masyarakat. Menjadi corong di desa masing-masing. Jangan lupa juga kesibukan kampus ketika bergabung di GMNI. Harus tuntas kampus dan tuntas organisasi, sehingga tidak berkesan kalau organisasi menghambat perkuliahan,”imbuh dirinya.

Pose Bersama Plt. Kabankesbangpol, Undangan, Para Alumni GMNI dan Peserta PPAB usai seremonial pembukaan. Foto : Ist

Sementara itu, Bupati Sumba Barat Yohanes Dade yang diwakili oleh Plt. Kaban Kesbangpol Lobu Ori M.Pd pada kesempatan itu mengapresiasi inisiatif pejuang pemikir-pemikir pejuang yang sudah mengibarkan bendera GMNI di Bumi Pada Eweta Manda Elu Sumba Barat.

Ori juga meminta agar GMNI Komisariat Sumba Barat benar-benar hadir sebagai kaum intelektual yang progresif dan kritis.

“Pemerintah Sumba Barat menyambut baik kehadiran organisasi ini. GMNI harus benar-benar melahirkan kader yang berkualitas. Sehingga bisa menjadi agen perubahan,”kata Ori dalam sambutannya ketika membuka kegiatan PPAB tersebut.

Ia menghimbau supaya bentuk-bentuk kritikan terhadap pemerintah disampaikan secara langsung dan terbuka.

Menurutnya, banyak oknum-oknum yang melakukan kritikan di media sosial dengan menggunakan akun palsu. Namun demikian, jika para mahasiswa mau mengkritisi kebijakan pemerintah, sampaikan secara langsung; dengan ruang terbuka itu maka pemerintah akan mengindahkan.

“Kalau mau kritisi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada kepentingan umum, atau merugikan masyarakat silakan kritisi dengan terbuka. Saya berharap jangan kritik dimedia sosial dengan menggunakan akun palsu. Dengan begitu pemerintah pun akan terbuka dalam menerima aspirasi adik-adik mahasiswa,” harapnya. (Umbu Sorung/42na)

%d blogger menyukai ini: