Fortuna

Ingin Menumpas Babi Hutan Malah Dapat Jembatan Batu, Keren !!!!

“Jembatan batu itu, kini menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Sikka”

Beberapa pelajar saat melintas diatas jembatan batu menuju ke sekolah yang berada di Pulau Besar. Foto : Istimewa

MAUMERE-Fortuna : Ketika berkunjung ke kawasan teluk Maumere, tak lengkap rasanya kalau belum menginjakan kaki dan menyusuri jembatan batu sepanjang 860 meter di Desa Kojadoi, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Ya, jembatan itu merupakan kumpulan batu-batu yang tersusun rapi dan menghubungkan Pulau Kojadoi dan Pulau Besar.

Hanya tumpukan batu-batu besar dan kecil, tanpa semen sebagai perekat antar batu. Unik bukan ?

Jembatan tersebut dibangun untuk memudahkan akses transportasi masyarakat dari Pulau Kojadoi ke Pulau Besar atau sebaliknya.

Sebelumnya adanya jembatan batu itu, masyarakat Kojadoi biasanya menggunakan perahu untuk mengakses fasilitas sekolah dan poliklinik di Pulau Besar.

Namun, siapa sangka jika jembatan batu yang saat ini menjadi salah satu ikon wisata Pulau Kojadoi tak terlepas dari peran dari bapak-bapak tentara TNI AD pada masa itu.

La Mane Untu, mantan Kepala Desa Kojadoi menceritakan bahwa pada masa kepemimpinannya, sekitar tahun 1979, wilayah Pulau Besar diserang babi hutan yang merusak tanaman pertanian milik warga setempat.

Untuk menumpas babi hutan, dirinya bersurat yang isinya kurang lebih meminta bantuan Bupati Sikka pada saat itu untuk mengatasi serangan babi hutan.

Anggota TNI AD Kodim 1603 Sikka pun dikerahkan.

Selama sepekan, tak seekor babi hutan pun ditemukan. Anggota TNI AD dari Kodim 1603 Sikka pun menemui La Mane sebagai Kepala Desa Kojadoi dan menawarkan bantuan lain yang bisa dikerjakan.

Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba.

La Mane menyampaikan bahwa masyarakat Kojadoi sudah lama merindukan sebuah jembatan. Maka terjadilah kesepakatan untuk mengerjakan sebuah jembatan batu.

Pengumuman kemudian disampaikan kepada masyarakat Pulau Besar dan Pulau Kojadoi.

Selama tiga minggu pengerjaan, jembatan setinggi sekitar 1,5 meter dan lebar sekitar 1 meter pun akhirnya rampung. Bebatuan diambil dari pesisir pantai Pulau Besar dan dari daratan. Bebatuan tersebut hanya disusun saja.

Pengerjaan kemudian dilanjutkan pada tahun 1983 dengan menggunakan dana padat karya dari pemerintah pusat. Pada pekerjaan kedua ini, masyarakat sendirilah yang mengerjakannya.

Hingga saat ini, jembatan batu tersebut masih kokoh. Meskipun gempa tsunami pada tahun 1992 yang meluluh lantakkan sebagian wilayah kepulauan di teluk Maumere tidak membuat jembatan ini rusak.

Jembatan batu itu, kini menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Sikka.

Untuk sampai di Kojadoi, pengunjung bisa menggunakan kapal motor dari Pelabuhan Lorens Say Maumere, Pelabuhan Fery Kewapante atau melalui pelabuhan rakyat di Nangahale.

Biayanya kapal motor pun terbilang murah untuk saat ini jika menggunakan kapal penumpang yakni beskisar Rp. 40.000/PP. Namun, apabila bersama rombongan dan ingin mencarter kapal, biayanya bisa lebih tinggi dari harga penumpang biasa.

Ada pula kapal gratis milik PT. Pelni yabg yang bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sikka untuk melayani rute Maumere-Kojadoi dan sekitarnya. (Albert Aquinaldo/42na)

%d blogger menyukai ini: