Fortuna

Harga Genzet di Kupang Melambung, Mesin ATM pun Tak Berfungsi

“Beta(saya) dapat kabar kalau listrik bulan Mei baru nyala. Itu artinya usaha saya macet total dan malam rumah gelap,” ujarnya.

Badai Siklon Seroja menimpa warga Kabupaten Sabu Raijua. Foto : Istimewa/Fortuna

Badai Siklon Seroja yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur berdampak pada rusaknya jaringan instalasi listrik dan putusnya fasilitas telekomunikasi.

Kondisi inipun memicu tingginya permintaan warga akan perangkat mesin penerangan semisal genzet.

Warga berjubel memadati toko-toko listrik dan elektronik di Kota Kupang untuk mendapatkan genzet dengan ragam merk dan spesifikasi. Harga genzetpun dalam sekejab terpantau melambung

Bertus, seorang warga  mengaku sangat kewalahan mencari genset di Kota Kupang. Kalaupun ada harganya sudah naik sangat drastis

“Saya butuh genzet yang kecil normalnya sekitar Rp1,7juta tapi sekarang Rp2-3 juta. Kalau yang ukuran sedang sekitar Rp 4,5juta kaka. Itupun stoknya terbatas karena banyak dicari warga,” ungkapnya kepada www.fortuna.press di kawasan pertokoan Kuanino Kupang, Selasa, (6/4)

Pria yang memiliki usaha kuliner itu mengatakan sudah mencari keliling dari kawasan pertokoan Kupang hingga ke Kuanino tapi stok genzet terbatas dan harga tinggi.

Sementara Sherlota warga lainnya terpaksa membeli 1 unit genzet dengan harga Rp4,5 juta karena selama 4 hari belakangan jaringan listrik dan telkomunikasi macet total.

“Beta(saya) dapat kabar kalau listrik bulan Mei baru nyala. Itu artinya usaha saya macet total dan malam rumah gelap,” ujarnya.

Tidak hanya bahan genzet, pemandangan lain dari dampak bencana ini yakni terjadi antrian panjang di beberapa mesin ATM karena keterbatasan jaringan listrik dan gangguan perangkat telekomunikasi.

Beberapa spot yang didatangi www.fortuna.press menunjukan bahwa beberapa gallery ATM semisal di Oesapa, Oepura, Kuanino, Kota Baru, Sikumana dan Oeba tidak berfungsi karena tidak terkoneksi aliran listrik

Di Kantor Cabang BNI Kuanino, dari 4 unit mesin ATM yang terpasang, pelanggan hanya bisa melakukan transaksi transferan, sementara untuk tarik tunai tidak bisa

“Disini hanya bisa transfer Pak. Kalau mau tarik tunai silakan ke Bank BNI di Oeba,” kata seorang Security Bank BNI Cabang Kuanino Kupang kepada para pelanggan yang berjubel mendatangi mesin ATM di kawasan kantor itu, Selasa, (6/4)

Di outlet ATM Kantor Pusat BNI Cabang Utama, Oeba, para pelanggan harus nekad mengantri hingga 1 jam karena dari 3 unit mesin ATM yang terpasang hanya 1 unit yang bisa berfungsi untuk transaksi tarik tunai

“Maaf Bapak/Ibu, mesin hanya satu yang aktif untuk tarik tunai dan 1 unit untuk transfer karena perangkat tower diatas kantor yang terpasang patah, mudahan dalam waktu dekat sudah bisa diperbaiki,” ujar salah satu security yang mendampingi langsung para Nasabah melakukan transaksi di mesin ATM tersebut

Tidak hanya di Bank BNI, antrian panjang juga terlihat di outet ATM Bank Mandiri Cabang Kuanino. Puluhan orang mengantri hanya untuk melakukan transkasi tarik tunai.

Gubernur NTT, Viktor Laiskodat menemui warga korban banjir di Kabupaten Malaka. Foto : Humas/ Fortuna

Pemerintah Propinsi NTT Responsif

Terhadap fenomena melonjaknya harga genzet dan juga bahan bangunan di propinsi NTT pasca bencana alam, pemerintah propinsi NTT meminta agar pengusaha harus memiliki kepekaan bencana.

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat meminta para pengusaha Toko Penyedia Bahan Bangunan agar tidak menaikan harga bahan bangunan pasca bencana alam yang melanda rakyat NTT

Para Pemilik toko bangunan harus sensitif bencana, dan tidak menjadikan peristiwa bencana ini sebagai momentum untuk mengeruk keuntungan.

Tidak main-main, Gubernur Viktor langsung menginstruksikan Satuan Polisi Pamong Praja (Pol-PP) bersama Polda NTT untuk melakukan sidak Toko Bahan Bangunan.

“Hari ini saya instruksikan Kasat Pol PP Provinsi NTT berkoordinasi bersama Polda NTT untuk melakukan sidak mulai Rabu (7/4) terhadap Toko Penyedia Bahan Bangunan agar tidak menaikan bahan bangunan paska bencana di NTT,” ujar Viktor

Disela-sela melakukan Kunjungan Kerja guna mengunjungi korban bencana Siklon Seroja, di Betun, di Kabupaten Malaka, Selasa (6/4), Viktor mengatakan kalau ditemukan ada yang bermain (naikan harga) maka izin usahanya dicabut.

Langkah repsonsif dan antisipatif ini dilakukan Gubernur atas keluhan masyarakat atas kenaikan harga bahan bangunan. Ia meminta agar harga bahan bangunan diturunkan hingga batas normal. (tim/berbagaisumber/42na)

%d blogger menyukai ini: