Fortuna

Edelweis Kelimutu, Simbol Keabadian Cinta dari Danau Kelimutu, Ende, NTT

“Pengembangan bunga edelweis selain menjadi spot wisata alternatif bagi wisatawan,  juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar”

Buket bunga edelweis yang dihasilkan oleh Kelompok Tuke Du, Kabupaten Ende. Foto : Istimewa

ENDE – Selain menyuguhkan keindahan danau tiga warna, Balai Taman Nasional Kelimutu terus berinovasi dengan menyiapkan wisata penyangga di sekitaran kawasan wisata danau kelimutu, Kabupaten Ende, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Inovasi wisata penyangga di sekitaran Taman Nasional Kelimutu dilakukan dengan memberdayakan desa-desa penyangga dan beberapa kelompok masyarakat untuk menciptakan spot wisata agar memikat wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Taman Nasional Kelimutu.

Salah satunya yakni dengan pengembangan wisata bunga edelweis yang tergolong tumbuhan endemik. Artinya, tanaman ini hanya tumbuh di satu tempat dan tidak ada di tempat lain. Sementara itu, edelweis mampu tumbuh di daerah pegunungan.

Lokasi kebun Eldeweis sendiri berada di lintasan jalan menuju kawasan Danau Kelimutu dari loket gerbang masuk TN Kelimutu.

Kini, kebun Edelweis di kawasan Danau Kelimutu menjadi salah satu wisata alternatif di kawasan bagi para pengunjung.

Pengembangan kebun Edelweis di Kawasan Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende. Foto : Istimewa

Pengembangan kebun Edelweis di Kawasan Taman Nasional Kelimutu sendiri telah dimulai sejak tahun 2018 lalu setelah tim Balai TN Kelimutu melakukan studi banding di TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang dilanjutkan dengan pelatihan budidaya Eldeweis di Ende oleh TNBTS.

Tahun 2020, Balai TN Kelimutu mengembangkan kebun demplot Edelweis seluas 0,22 Hektare bersama masyarakat setempat. Saat ini, kebun edelweis di Kawasan Taman Nasional Kelimutu dikelola oleh kelompok masyarakat Tuke Du di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Propinsi NTT.

Menurut Ketua Kelompok Tuke Du, Yohanes R. Sale, pengembangan bunga edelweis selain menjadi spot wisata alternatif bagi wisatawan,  juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Kelompok Tuke Du, Yohanes R. Sale  mulai mengolah bunga edelweis dengan menghasilkan beberapa buah tangan seperti buket Eldeweis, Gantungan kunci, Bingkai, dan sebagainya yang dibantu oleh pihak Bakai TN Kelimutu.

“Dalam waktu dekat, kami juga mengembangkan kebun strawbery. Nanti yang masuk akan bayar karcis,” kata Yohanes R. Sale.

Kerajinan tangan dari Bunga Edelweis, karya kelompok Tuke Du, Kabupaten Ende. Foto : Istimewa

Menurut staf Balai TN Kelimutu, Laela Nurahma, bunga edelweis yang tumbuh di Kelimutu adalah jenis Anapholis longifolia yang merupakan perdu kecil dengan tinggi berkisar 70 cm, tumbuh didaerah terbuka diketinggian seputaran kawasan pegunungan di jawa sampai nusa tenggara.

Bunga cantik ini, menurur Laela, dilambangkan sebagai simbol cinta abadi karena tahan lama setelah dipetik. Jenis tumbuhan yang dilindungi ini sekarang sedang dikembangkan sebagai plasm nutfah dan dibudidayakan di desa penyangga oleh Balai TN Kelimutu.

“Kalau bunga lain, hanya bertahan beberapa hari saja kalau sudah dipetik. Edelweis bisa tahan sampai 10 tahun kalau sudah dikeringkan,” tutur Laela. (AL/42na)

%d blogger menyukai ini: