Fortuna

Dipulangkan dari Singapura, Kura- Kura Leher Ular Bakal Jadi Ikon Wisata Baru di Rote Ndao

“Status keterancaman kura-kura ini adalah kritis (CR-Critically  endangered) menurut IUCN yang memperkirakan kura-ura jenis ini sudah punah di alam”

Penjemputan oleh Staf BBKSDA NTT disaksikan bersama oleh Otoritas Bandara dan petugas CIQP di Cargo Bandara El Tari Kupang, Kamis, (23/9). Foto : Fortuna

Kamis, 23 September 2021, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT dan para pihak memfasilitasi pemulangan (reptriasi) 13 ekor kura-kura leher ular (Chelodina mccordi) dari Singapura ke habitat aslinya di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Belasan ekor Kura-Kura Rote itu diberangkatkan dari Wildlife Reserves Singapore/ Mandai Nature Singapore ke Jakarta selanjutnya diterbangkan menggunakan Pesawat Garuda Indonesia, GA- 0448 dan tiba Bandara El Tari Kupang pada Kamis,(23/9) pukul 13.00 WITA.

Kehadiran kura-kura paling langkah didunia ini dipastikan memperkuat image promosi pariwisata kabupaten Rote Ndao sebagai salah satu ikon wisata minat khusus baru yang layak dikunjungi

Adapun Kura-Kura Leher Ular itu merupakan satwa endemic Indonesia  yang hanya ada dan ditemukan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Tidak hanya itu, kura-kura leher ular ini kabarnya menjadi salah satu jenis yang paling terancam punah di dunia

Status keterancaman kura-kura ini adalah kritis (CR-Critically  endangered) menurut IUCN yang memperkirakan kura-ura jenis ini sudah punah di alam

Untuk itulah sebagai upaya pemulihan populasi kura-kura Rote di alam, pemerintah Indonesai melalui Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalukan upaya pemuangan kembali spesies itu ke habitat aslinya

Inisiatif tersebut juga dilakukan oleh BBKSDA NTT  dengan dukungan WCS-IP, melibatkan Badan Litbang LHK Kupang, melibatkan beberapa lembaga yang  punya otoritas

Kura-Kura Leher Ular yang diperlihatkan dalam acara serah terima di Kantor Instalasi Karantina Hewan Kupang, Kamis, (24/9) .Foto : Fortuna

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT Arif Mahmud, mengatakan, 13 ekor kura-kura dengan rincian tujuh ekor betina dan enam jantan itu akan diadaptasi di Instalasi Karantina Hewan di Kupang selama 6 bulan sebelum dikembalikan ke Rote Ndao

Menurut Arif, repatriasi kura-kura langkah itu menjadi sebua kebanggaan masyarakat NTT terutama warga kabupaten Rote Ndao

“Repatriasi kura-kura ke habitat aslinya ini merupakan kebanggaan kami, khususnya masyarakat NTT dan masyarakat di Pulau Rote,” ungkap Arif, saat diwawancarai sejumlah wartawan di Kupang, Kamis siang.

Dijelaskan kura-kura tersebut selama ini berada di kebun binatang yang ada di Singapura, meski tidak ditemukan lagi di habitat aslinya  yakni di Danau Peto, Desa Maubesi, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao

Meski tak menjawab rinci soal kenapa kura-kura Rote tersebut bisa sampai ke Singapura, tetapi kura-kura jenis tersebut katanya memang dahulu pernah diperbolehkan untuk dipasarkan sehingga kemungkinan ada yang perjualbelikan secara bebas

Dengan hadirnya kembali kura-kura tersebut maka pihaknya komitmen untuk melestarikan, mengembangbiakan dan melepasliarkan ke habitat aslinya di Rote 6 bulan kedepan.

Adapun Danau Peto tempat habitat asli kura-kura itu, kini bukan masuk kawasan konservasi, tetapi sudah ditetapkan oleh Gubernur NTT sebagai kawasan ekosistem esensial.

Itulah sebabnya kawasan tersebut akan menjadi sangat strategis tidak hanya menjadi lokasi satu-satunya tempat habitat asli dari kura-kura ular tetapi juga ikon wisata baru yang sangat strategis dan promotif untuk pengembangan lintas sektor terutama promosi pariwisata di Kabupaten Rote Ndao

Nah untuk tetap melestarikan kawasan tersebut, Arif mengajak semua pihak untuk mendukung langkah BBKSDA NTT dan para pihak sehingga apa yang menjadi magnet konservasi alam di NTT terus berkembang.

Ia juga memberi apresiasi kepada semua pihak yang telah berupaya sungguh untuk mendatangkan kembali kura-kura leher ular itu terutama Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Pemprov NTT, Pemkab Rote Ndao, Garuda Indonesia, Balai Karantina, Bandara El Tari Kupang dan masyarakat. (tim/42na)

%d blogger menyukai ini: