Fortuna

Cerita Mistis, Pejabat Dilarang Masuk Pintu Gerbang Candi Bajangratu

“Bajangratu sendiri dalam bahasa jawa kuno berarti kecil, naik tahta menjadi raja waktu masih kecil, dan konon itu terjadi pada Raja Jayanegara”

Kekson Salukh ditemani Wakil Ketua Tim Abdul Fattah Manshur dari Lampung dan Sekretaris Avina Nakita Oktavia dari Kepulauan Riau serta beberapa koordinator Pilar/Divisi didaulat melakukan penanaman anakan cengkeh dan gaharu di kawasan Candi Bajangratu, Selasa, (31/5/2022). Foto : dok.Fortuna

Oleh : Kekson Salukh

MOJOKERTO, fortuna.press – Selasa, (31/5/2022) saya bersama teman-teman Laskar Rempah RI berkesempatan mengunjungi situs Trowulan, BPCB Jawa Timur di jalan Candi Wringin Lawang No 26 Jatipasar, kecamatan Trowulan, kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Situs Trowulan  adalah situs besar yang sudah tercatat sebagai kawasan cagar budaya nasional. Kawasan ini sangat luas, dan terletak di dua kabupaten yaitu kabupaten Jombang dan Mojokerto sebagai kawasan kerajaan Majapahit.

Di sana kami mengunjungi Gapura atau Candi Bajangratu yang ditemukan pada zaman penjajahan Belanda.

Di kawasan Gapura Bajangratu, saya ditemani sahabat Wakil Ketua Tim, Abdul Fattah Manshur dari Lampung dan Sekretaris Avina Nakita Oktavia dari Kepulauan Riau serta beberapa koordinator Pilar/Divisi didaulat melakukan penanaman anakan cengkeh dan gaharu.

Sesuai bentuknya yang merupakan gapura beratap, Candi Bajangratu menghadap ke dua arah, yaitu timur-barat. Ketinggian candi sampai puncak atap yakni 16,1 m dan panjangnya 6,74 m.

Menariknya, guide lokal yang mendampingi kami hari itu menjelaskan bahwa kepercayaan masyarakat dan mitos yang telah beredar, Candi Bajangratu diduga sebagai pintu masuk ke sebuah bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara pada tahun Saka 1250 atau tahun 1328 Masehi.

Bajangratu sendiri dalam bahasa jawa kuno berarti kecil, naik tahta menjadi raja waktu masih kecil, dan konon itu terjadi pada Raja Jayanegara.

Tidak hanya itu, sisi mistik dari Candi ini, juga masih sangat kental. Dimana, ada sebuah pantangan bagi para pejabat pemerintah untuk melintasi atau memasuki pintu gerbang Candi Bajangratu ini.

Menurut kepercayaan yang ada, seseorang yang mempunyai jabatan di pemerintahan dan melanggar pantangan tersebut, dipercayai akan mengalami nasib buruk.

Dalam sambutan saya di BPCB Jawa Timur saya sempat bercanda di depan para Pokja dan Kurator bahwa saya tidak ingin masuk ke kawasan candi Bajangratu karena saya juga pejabat pemerintahan yang memimpin teman-teman Laskar Rempah RI. (*

%d blogger menyukai ini: