Fortuna

BERSIH

“Kita kira itu urusan Dinas Lingkungan Hidup dan Pasukan Kuning. Padahal setiap orang tiap hari memproduksi sampah. Setiap rumah setiap hari hasilkan sampah”

Oleh : Even Edomeko (Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka)

Tiada sampah di kampung itu.  Hanya daun kering yang baru gugur. Sama sekali tak tampak sampah plastik. Tempat sampah disiapkan. Rapi tertutup. Yang punya sampah seperti botol air mineral pasti ke situ utk taruh sampahnya. Kampung itu bernama Penglipuran. Ada di Desa Kubu, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Ia adalah Desa Wisata Terbaik Dunia. Salah satu unsur yang bikin ia meraih predikat itu adalah ia BERSIH.

Kita semua ingin pariwisata kita maju. Pesawat direct MoF-Bali, MoF-Labuan Bajo dan lain- lain. Kita menggagas festival kuliner. Kita berdebat tarian adat kampung mana yang paling asli. Pokoknya ingin banyak turis datang.

Tapi kita lupa urus BERSIH itu.

Kita kira itu urusan Dinas Lingkungan Hidup dan Pasukan Kuning. Padahal setiap orang tiap hari memproduksi sampah. Setiap rumah setiap hari hasilkan sampah. Dan sampah itu kita buang sembarang. Kotor di mana-mana. Desa-desa kemomos. Apalagi di kota. Hujan ‘dikit, sampah dari got keluar pawai di badan jalan.

Kita senang bila sampah itu dibawa banjir ke laut. Akibatnya: ketika turis diving / snorkeling di Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Maumere yang cantik itu, yang turis jumpai pertama bukan terumbu karang werna-werni, melainkan “pembalut” yang mengapung….

BERSIH itu sesungguhnya soal budaya. Budaya tidak tumbuh karena paksaan. Tapi karena cinta dan kebiasaan.

Sejak kecil, anak-anak harus dilatih dan dibiasakan untuk taruh sampah di tempatnya.

Di sekolah-sekolah, kebiasaan buang sampah pada tempatnya harus jadi keutamaan yang hendaknya menyatu dengan nilai keluhuran watak atau budi pekerti.

BUDAYA BERSIH ini jika dihidupkan akan menjadi solusi bagi banyak problem (misalnya kesehatan), dan menjadi modal bagi banyak hal semisal pariwisata.

Bayangkan: Kita bikin Festival Kuliner, sementara lingkungan sekitar termasuk dapur justru sesak oleh sampah… Turis pasti klou (jijik,red).

Jadi, ayo kita benahi hal “kecil” itu, mulai dari keluarga kita masing-masing, lalu lingkungan yang lebih luas. *

%d blogger menyukai ini: