Fortuna

Babak Baru Pasca Demo Penolakan Tarif Masuk TNK

Atraksi Satwa Langka Varanus Komodoensis di Kawasan Taman Nasional Komodo. Foto : Majalah FORTUNA

Oleh : Harry Ajo (Praktisi Pariwisata Nusa Tenggara Timur)

Demonstrasi yang dimotori para pegiat pariwisata baru- baru ini di Labuan Bajo dan berbagai kritikan atau pikiran kritis setelah itu, sesungguhnya telah memberi keuntungan berupa pendidikan Cuma-cuma bagi para penguasa atau pemerintah dan publik baik dalam memahami berbagai sudut pandang pariwisata maupun dalam hal cara bernegara yang baik terutama sesuai rule atau aturan.

Hemat saya, ini membuktikan bahwa para pegiat pariwisata yang demo itu adalah bagian integral dari pembangunan pariwisata itu sendiri.

Sudah semestinya,benturan kepentingan itu melatih kita untuk sampai pada resolusi yang bermanfaat bagi semua pihak terutama dalam tatanan kepariwisataan kita dimana sumber pertengkaran ini bermula agar seirama kembali dalam tatanan bernegara yang baik.

“Challenge” yang ada pada poin pertengkaran kita kemarin adalah  bagaimana menggabungkan kepentingan konservasi di suatu sisi dan pariwisata disisi lain, disitulah yang perlu ada titik temunya (seni mengatur).

Negara perlu menampilkan dirinya sebagai pengayom bagi semua pihak dengan menampakkan suatu peranan dalam tatanan yang berwibawa. Karena itu sangat diperlukan ketelitian, kehati-hatian dan akurasi agar tidak menimbulkan problema baru. 

Kearifan konservasi itu memerlukan sinergitas penanganannya bila hendak dipadukan dengan bisnis pariwisata bahkan negara punya APBN untuk itu plus penerimaan ratusan miliar yang sudah disumbangkan sektor pariwisata selama ini bisa diolah kembali untuk kepentingan konservasi sesuai kompetensinya.

Pekerjaan menaikan harga karcis itu hanya salah satu bagian kecil di ujung dari dasar pemulihan konservasi yang integral dalam semangat penelitian dan keilmuan yang dimiliki baik dalam tubuh internal TNK maupun sumbangsih dari para akademisi yang disewa untuk itu.

Dalam hal ini pemerintah provinsi (pemprov) NTT harus tunjukan dulu suatu “willingnes” bahwa maksud utama dari meminta kewenangan mengelola TNK dari KLKH itu adalah untuk mengimpower daya konservasinya bukan langsung tembak ke bisnis pariwisatanya.

Bila jalan konservasinya sukses maka lestarilah taman nasional kita, bila lestari TNKnya maka majulah pariwisata kita, begitulah urut-urutannya.

Jadi, saran saya hendaknya jangan dulu bicara soal karcis tapi bicaralah bagaimana konservasi dijalankan, kalau karena konservasi, pulau komodo harus ditutup untuk beberapa saat, ya, lakukan saja, toh keilmuan konservasi itu bersifat otonom, dunia akan menghargai.

Begitupun sebaliknya bila TNK tetap dibuka bagi pariwisata maka, buatlah panduannya dengan mematangkan berbagai pertimbangan sebagaimana yang saya ungkapkan diatas soal seni mengatur, karena berpariwisata juga memiliki tanggung jawab pada destinasi yang dikunjungi.

Meskipun begitu bukan berarti boleh mematok harga karcis yang mahal, yang dibutuhkan adalah pemberlakuan tarif yang wajar, sebab sudah mempertimbangkan berbagai aspek (jangan campur adukan tarif dengan mahalnya konservasi) karena semua orang mengerti bahawa tarif adalah sebagai kewajiban atau respek pada konservasi sedangkan biaya dan penanganan konservasi itu adalah domain dengan cara tersendiri.

Harus pula dipahami bahwa tarif hanyalah bagian daripadanya karena kita mau mengkombinasikan konservasi dengan kunjungan wisata.

Artinya, kalau tanpa wisata maka jelas tarif tidak ada. Nah, supaya ada wisata maka tarifnya harus punya daya tariknya yaitu kewajaran tarif. Ini adalah suatu kepandaian mengelola rasa ingin tahuì wisatawan dengan tanpa  mengeksploitasi wisatawan

Jangan jadikan wisatawan sebagai sapi perah konservasi tapi sebagi sarana penunjang konservasi, dengan begitu tarif hendaklah sedemikian rupa tidak memberatkan wisatawan (perlu memahami kewajaran sebagai kelaziman yang dapat diterima akal sehat).

Bila Pemprov NTT, dalam rangka penyediaan fasilitas pelayanan pada wisatawan mau menyediakan sarana khusus yang eksklusif, ya tak masalah, silahkan saja, tapi hendaknya itu bersifat pilihan/optional, bukan wajib.

Yang harus dipegang adalah spirit Taman Nasional itu bersifat rekreatif konservasif supaya jangan diubah menjadi konservasi yang kapitalistik.

Disinilah negara perlu berhati-hati dan meresapi etik pelayanan publik karena disitulah muara daripada kesejahteraan yang berkeadilan sosial sebab akhir akhir ini semangat investasi dan gelora bisnis yang menggebu dalam bidang pariwisata sering membuat kita terperosok dalam semangat kapitalistik yang lebih menempatkan korporasi atau individu tertentu dengan privilage negara. (itu bisa dilihat dengan maraknya pemberian hak konsesi pada taman nasional dan hutan lindung lainnya).

Dalam beberapa pekan terakhir ini misalnya, muncul juga berita mengenai penerapan aplikasi tertentu bagi pengunjung TNK, hal ini lumrah saja tapi jangan lantas bila tidak masuk aplikasi lalu dianggap tidak benar.

Aplikasi itu hanya sarana,bukan tujuan. Dunia ini ada online ada juga offline. Penangan offline selama ini pun juga tidak menimbulkan masalah, jadi bersikaplah fair dan perlu berpadunya kesatuan gerak antara pemprov dan otoritas TNK itu penting dirumuskan dalam operasionalnya

Kita ini tidak akan mati tanpa aplikasi. Tetapi aplikasi akan mati tanpa pengguna. Sebagai orang yang hidup dizaman aplikasi yah, saya menghargainya, itu semua indah pada fungsinya masing masing. Yang patut dihindari adalah nafsu eksploitasi dimana kita melihat wisatawan hanya sebagai alat penghasil uang dan aplikasi sebagai pemupuk uang.

Dalam pariwisata cara pandang kita hendaknya lebih multi dimensional, tidak linear soal uang saja atau bisnis saja tapi juga  sebagai sahabat humanitas, (etik bisnis ) dengan menjadi sahabat humanitas maka dengan sendirinya terjadi ikatan jangka panjang yang saling menghargai dan saling menguntungkan, (seni berpariwisata).

Benefit pariwisata tidak dilihat dari sumber karcis saja tapi dari keseluruhan perjalanannya di bumi NTT yang bila perlu kepingin datang lagi atau selalu diingat sebagai destinasi penuh kenangan indah.

Jangan sampai terkesan eksploitasi uangnya saja melalui penetapan tarif yang tinggi dan kewajiban masuk aplikasi, lalu kapok datang ke NTT lagi karena diseberang sana sesungguhnya Komodo adalah hadiah Cuma-cuma dari Tuhan dan alam agar manusia menjadikannya lestari, bukanya memperebutkan belulang. Hati hati, Salam dan selamat berwisata. (*

Kantor Pusat Kopdit Pintu Air. Foto : Fortuna

%d blogger menyukai ini: