
KUPANG, fortuna.press – Perhatian Gubernur NTT periode 2008 – 2018, mendiang Frans Lebu Raya pada pengembangan sektor pariwisata memang tidak banyak, tapi terasa begitu kuat dampaknya hingga hari ini.
Frans Lebu Raya memang bukanlah pengusaha, bukan juga pelaku wisata. Ia hanyalah seorang anak petani dari Desa Wataone Adonara Timur Kabupaten Flores Timur yang kemudian beruntung bisa sekolah bahkan mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.
Ditengah kebutuhan kuliah yang serba sulit saat itu, Frans yang suka berorganisasi itu nekad mengisi waktunya untuk belajar berdiskusi, pun pimpin demo hingga dipercaya menjadi Ketua Senat FKIP Undana. Dia pernah menjadi aktivis Perhimpuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kupang dan kemudian mendirikan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kupang.
“Frans muda” sempat menjadi Guru Olahraga dan dosen Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Naluri aktivisnya itu memacu Frans menjadi pribadi yang tangguh, jenius serta visioner karena bergulat dengan pengalaman praksis lintas keilmuan. Ia mendirikan LSM Yasmara dan kemudian berpartai politik PDI yang kemudian jadi PDI Perjuangan bahkan jadi Ketua DPD PDI Perjuangan NTT.
Meski bukan seorang ekonom, program- program Frans Lebu Raya sebagai seorang Gubernur kala itu sangat beririsan kuat dengan urusan pemberdayaan ekonomi, pariwisata dan kesejatheraan masyarakat.
Brilian Menuju Kursi NTT 01
Pengalaman dan kelincahan nalarnya Frans Lebu Raya saat itu memantik dia memilih berpolitik melalui jalur PDI dan terpilih menjadi anggota DPRD NTT, langsung menjadi Pimpinan DPRD NTT bahkan beruntung pada periode yang sama dipinang menjadi Calon Wakil Gubernur NTT berpasangan dengan mendiang Piet Alaexander Tallo dan menang. Kariernya meroket, periode berikunya Frans Lebu Raya bertarung dalam pemilihan langsung Pilkada Gubernur NTT bersama Esthon Foenay dan menduduki kursi Gubernur NTT. Singkat padat dan jelas.
Meski demikian, satu yang belum pernah Frans lakoni adalah menjadi pengusaha. Buka kios tak pernah, kontraktor–bukan, tetapi bisa saja pernah belajar berjualan rantangan saat cari dana semasa kuliah untuk mendukung banyak kegiatan kemahasiswaan.
Sejak dilantik 18 Juli 2008, menjadi Gubenur Frans Lebu Raya sudah punya modal, pengalaman jadi aktivis organisasi, LSM, pernah di DPRD, dan menjadi Wakil Gubenur. Sangat komplit dan cukup mengantar dia untuk menelorkan program-program pro-rakyat. Ada Anggaran untuk Rakyat Menuju Sejathera (Anggur Merah). Sebuah program yang secara filosofis mengangkat harkat dan martabat kaum marahen– rakyat kecil, bahwa rakyat perlu diberi kepercayaan untuk mengurus dirinya sendiri, mengurus usahanya—memberdayakan diri sendiri. Tugas pemerintah adalah menjadi fasilitator, mendamping dan membimbing tata kekola (manajemen usaha) dan memberikan atau memfasilitasi permodalan jikalau dibutuhkan. Itulah semangat awal hadirnya Anggur Merah. Meski belakangan, mental masyarakatlah yang jadi penentu suskes tidaknya usaha mereka dengan kemudahan modal Anggur Merah yang diberikan pemerintah.

Pariwisata Sektor Unggulan
Disisi pengembangan sektor lain, Frans Lebu Raya memilih pariwisata sebagai leading sector. Pariwisata harus menjadi penggerak utama sektor lain. Dipahami bahwa Bali dan NTB adalah dua daerah tetangganya provinsi NTT yang bisa sangat maju karena daya dukungan sektor pariwisata. Tidaklah sulit, program itu bisa merambat ke NTT karena NTT punya segalanya. Alam bahari budaya religi, sejarah dan wisata minat khusus. Magnet wisata langkap dan terdistribusi baik dan beragam dari pulau Sumba Timor Alor Rote Sabu Lembata dan Flores
Tidak main-main, sejak menjadi Gubernur NTT tahun 2013 Frans Lebu Raya mulai gas dengan Sail Komodo, Tour de Flores dan banyak program kegiatan lain yang mendukung penuh kebijakan politiknya yang menjadikan “Pariwisata Sebagai Sektor Unggulan”.
Harus diakui NTT punya potensi wisata alam budaya bahari sejarah dan minta khusus yang jadi magnet wisata bernilai internasional. Pesona yang luar biasa ini belum didukung penuh dengan Amenitas, Aksesiblitas dan Atrakasi (3A)– tiga modal dan daya dukung utama kemajuan sektor pariwisata. Dia paham, apa yang bisa dinikmati wisatawan, makan minum dan menginap diamana, lalu bagaiamana akses bisa datang ke NTT, daerah yang punya ”surga tersembunyi” itu?
Manggarai Barat misalnya, punya satwa langkah Varanus Komodoensis—satu-satunya di dunia, belum berarti apa-apa kalau pemerintah tidak mengerti cara menjualnya, akses transportasi udara sulit, penginapan belum siap apalagi masyarakatnya. Tapi tugas seorang pemimpin adalah berani mengambil tindakan dengan segala kemungkinan resiko. Gelar event dan undang orang datang, kesiapan lain diyakni mengikuti kalau proses dan keputusan itu dibuat.
Dengan adanya event internasional Sail Komodo yang digalakan mendiang Frans Lebu Raya, maka jendela pariwisata NTT terbuka. Untuk kedua kalinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang jarang kunjungi desa-desa akhirnya hadir juga di provinsi NTT tepatnya di Pantai Pede, Labuan Bajo, lokus puncak pagelaran Sail Komodo 2013.
Itulah awal kemajuan Labuan Bajo yang kini mendunia. Pemerintah pusat pun kemudian buka mata dengan jurus ‘titip pukul’ anggaran. Memasuki masa Presiden Jokowi PDIP, Labuan Bajo didaulat menjadi satu dari 5 lokus proyek pengembangan pariwisata nasional. Bandara Komodo dibangun dan Taman Nasional Komodi jadi destinasi utama dunia.

Ajak Niti Susanto, TransNusa Rajai Udara NTT
Tidak sendirian, mendiang Frans juga mengajak Maskapai TransNusa milik konglomerat NTT Alm.Niti Susanto ayahanda Ketua DPD I GOLKAR NTT saat ini Alain Niti Susanto, untuk memperkuat konektivitas udara mendukung mobilitas wisatawan serta membuka isolasi udara NTT. Dimasa itu, TransNusa menjadi “rajanya langit NTT”. Dari awalnya hanya 2 pesawat sewaan, menjadi maskapai resmi dengan kekuatan 10 armada milik sendiri serta memenuhi standar sertifikasi Air Operator Certificate (AOC).
Setelah TransNusa lalu muncul lah Wings Air (Lion Group) di tahun 2018 dan menjadi raja baru hingga saat ini.
Stakholders yang mendukung penuh pengembangan sector pariwisata adalah mitra Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) NTT yang dipimpin Fredy Ongkosaputra dan Ketua Asosiasi Tour Travel (ASITA) NTT Dewa Made Adnya yang kemudian dilanjutkan oleh Abednego Frans. Ada Mesakh Toy selaku Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) NTT dan PHRI.

Fortuna Majalah Wisata
Majalah Fortuna, hanyalah salah satu bagian terkecil dari program besar ini. Diawali 2007 dengan terbitan Tabloid 16 halaman dengan segmentasi ekonomi bisnis dan pariwisata selama 5 tahun, kemudian menjadi majalah eksklusif dwi bahasa (Indonesia-Inggris) sejak pelaksanaan Sail Komod0 2013 hingga saat ini.
Dengan tiras cetak hingga 2500 eksemplar, 60 halaman terbitan full segmen pariwisata, Majalah Fortuna mengawal sungguh program pengembangan pariwisata yang dirintis Gubernur Frans Lebu Raya.Dinas Pariwisata yang kala itu dijauhi para pejabat karena “dinas kering” tanpa uang, mulai menunjukan taringnya karena tulisan-tulis yang provakatif dan bangunan optimisme dari Tabloid Fortuna. Alokasi anggaran di Dinas Pariwisata NTT dari awal hanya Rp 3 Miliar per tahun, naik drastis menjadi 5 , 10, 15, 18 dan bahkan memasuki Rp 50 Miliar di tahun 2018. Ya itulah ceritanya meski kini para pajabat baru Disparekraf sering lupa sejarahnya.
Fortuna pun berkolaborasi baik dengan TransNusa dan langsung diminta CEO PT.TransNusa Aviation Mandiri Bang Juvenile Jodjana menjadi majalah penerbangan (infligth magazine) yang masuk dalam seat pocket atau kursi pesawat TransNusa saat itu.
Frans Lebu Raya tahu sungguh peran Fortuna saat itu. Tidak heran, suatu saat ketika pulang dalam sebuah kegiatan bersama di Labuan Bajo, di cabin pesawat, Alm. Gubernur Frans Lebu Raya pun memangil saya selaku CEO PT.Fortuna Media Group meminta agar peresmian Kantor Majalah Fortuna nanti dilakukan langsung oleh dirinya meski memasuki hari-hari terakhir purna tugas menjadi gubernur NTT pada tanggal 18 Juli 2018. Peresmian Kantor Majalah Fortuna 05 Juli 2018 menjadi agenda pemerintah terakhir Frans Lebu Raya sebagai gubernur.
Dalam koordinasi baik dengan sahabtku Gusti Brewon, Frans hadir di Bello bersama President Direktur PT.TransNusa Aviaton Mandiri Risnanda, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Naek Togar Sinaga, Ketua APINDO/PHRI Fredy Ongkosaputra, Distrik Manager Manager Lion Group Rinus Zebua serta para perangkat OPD dan Forkompimda NTT. Disaat itupula kami dari Manajemen Fortuna Media Group menganugerakan penghargaan kepada Gubernur Frans Lebu Raya sebagai Tokoh Pembangun Pariwisata NTT. Penghargaan juga diberikan kepada Presdir TransNusa, Risnandi sebagai Maskapai Perintis Isolasi Pariwisata NTT.

Dilanjutkan Gubernur Viktor dan Melki Laka Lena
Syukurlah, komitmen pengembangan pariwisata dan aspek ikutannya oleh mendiang Gubenur Frans Lebu Raya, diteruskan oleh Gubernur NTT periode 2018-2022 Viktor Laiskodat yang menjadikan Pariwisata sebagai Prime Mover (penggerak utama) sektor lain, Labuan Bajo pun menjadi “premium” dimasanya.
Tidak main-main dimasa Gubernur Melki Laka Lena, sektor pariwisata da ekraf tetap dikembangkan serius. Hadirnya program One Village One Product (OVOP), One Community One Product (OCOP) dan One School One Product (OSOP) adalah bagian dari kerja strategis dan kesinambungan, mendukung kesiapan pelaku UMKM ekonomi kreatif (Ekraf) menjadi pemain utama di rumah sendiri.
Gubernur Melki tentu sadar, UMKM menjadi tulang punggung dan garda terdepan perekonomian regional dan nasional. Pelaku UMKM harus digerakan bersama dan total, produk-produk lokal harus diberi nilai dan setuhan lebih; tidak saja untuk kepentingan mensuplai kebutuhan pasar lokal tetapi regional, nasional bahkan untuk kepentingan wisatawan asing.
Munculnya NTT Mart secara filosofis adalah wujud nyata harga diri orang NTT, Gubernur Melki ingin membuktikan bahwa pelaku UMKM NTT dan etalase produk- produknya bisa digerakan, dikelola, diberi sentuhan lebih profesional dan siap bersaing secara nasional dengan geria-gerai semisal Indomaret dan Alfamart.
Tidak hanya itu, Gubernur Melki Laka Lena juga melanjutkan event promosi pariwisata NTT dengan menjadikan Balap Sepeda ‘ Tour de Entete’ sebagia ikon promosi dengan rute terpajang 1500km melintasi 3 pulau besar dan jadi ajang paling spektakuler di dunia.




