Oleh : Dr. Rolland E. Fanggidae, MM
Wakil Dekan Akademik FEB Undana, Foto : Ist

Bayangkan memulai hari Anda dengan secangkir kopi arabika Flores yang disangrai dengan sempurna dan dikemas secara elegan. Atau hadir di acara penting dengan mengenakan tenun ikat Sumba yang tidak hanya menawan, tetapi juga membawa label merek modern yang menceritakan asal-usulnya. Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa di balik produk-produk luar biasa ini terdapat filosofi yang telah teruji waktu—warisan dari gerakan pembangunan desa yang berasal dari Jepang.
Dari Oita, Jepang: Akar Filosofis yang Menginspirasi NTT
Konsep One Village One Product (OVOP) diperkenalkan di Jepang pada tahun 1979, ketika Prefektur Oita menghadapi tantangan kemunduran desa dan urbanisasi yang meningkat. Gubernur Morihiko Hiramatsu meluncurkan inisiatif “Satu Desa, Satu Produk” dengan visi yang sederhana namun mendalam: menggali potensi unik setiap desa—dari sumber daya alam hingga keahlian lokal—dan mengembangkannya menjadi produk bernilai tinggi.
Filosofi ini tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pada pemberdayaan, keberlanjutan, dan identitas lokal yang terwujud dalam tiga pilar utama:
- Inovasi: Meningkatkan kualitas dan desain tanpa menghilangkan ciri khas lokal.
- Kemandirian: Desa mengelola produksi dan pemasaran secara mandiri.
- Kolaborasi: Membangun ekosistem yang kuat antar desa.
Hasilnya sangat signifikan. Dalam dua dekade, Oita berhasil menciptakan lebih dari 100 produk unggulan, seperti jamur shiitake dan jeruk kabosu, yang tidak hanya meningkatkan ekonomi desa tetapi juga menghentikan arus urbanisasi. Keberhasilan ini kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Implementasi OVOP di NTT: Dari Bahan Mentah Menuju Nilai Tambah
Di Indonesia, OVOP diperkenalkan pada tahun 2007 dan berkembang menjadi One Community One Product (OCOP) pada tahun 2017. Saat ini, di Nusa Tenggara Timur, filosofi ini menemukan momentum yang tepat.
Selama ini, NTT sering terjebak dalam pola ekspor bahan mentah. Petani kopi menjual biji hijau, peternak menjual ternak hidup, dan nelayan menjual hasil tangkapan segar. Pola ini membuat nilai ekonomi yang diperoleh masyarakat lokal menjadi tidak optimal. Namun, dengan komitmen untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2029, NTT kini bertransformasi dengan fokus pada hilirisasi dan industrialisasi yang terinspirasi oleh semangat OVOP.
NTT Mart dan Dapur Flobamorata: Penyambung Sejarah OVOP
Lalu, di mana konsumen perkotaan dapat merasakan langsung hasil dari transformasi yang terinspirasi oleh sejarah panjang OVOP ini? Jawabannya terletak pada NTT Mart dan Dapur Flobamorata. Kedua saluran pemasaran ini menjadi jembatan yang menghubungkan warisan filosofi OVOP dari Jepang langsung ke kehidupan konsumen modern di Indonesia.
Di sinilah konsep “Local yet Global” yang diperkenalkan Hiramatsu di Oita 46 tahun lalu, menemukan bentuk nyata di NTT. Produk-produk olahan dari desa dipajang dengan bangga, lengkap dengan branding dan cerita yang mengangkat identitas lokal sekaligus memenuhi standar kualitas pasar modern.
Dukungan Nyata dan Dampak yang Mulai Terasa
Dukungan terhadap implementasi OVOP di NTT terlihat dalam data APBN. Hingga Oktober 2025, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di NTT telah mencapai Rp 2,32 triliun untuk 55.001 debitur. Sektor perdagangan, eceran, dan industri pengolahan—yang menjadi tulang punggung OVOP—menjadi penyerap terbesar. Selain itu, penyaluran Dana Desa yang mencapai Rp 2,03 triliun (75,02% dari alokasi) turut memperkuat pondasi ekonomi di tingkat lokal.
Kinerja ekonomi regional NTT tumbuh 4,88% pada Triwulan III-2025, dengan sektor perdagangan besar dan eceran sebagai penyumbang pertumbuhan terbesar (13,89%)—sebuah indikasi bahwa siklus ekonomi produk hilirisasi mulai berputar.
Setiap Pembelian adalah Bagian dari Sejarah
Oleh karena itu, ketika kita memilih untuk membeli kopi kemasan Flores di NTT Mart atau menikmati hidangan olahan jagung dan ikan dari Dapur Flobamorata, kita tidak sekadar melakukan transaksi. Kita menjadi bagian dari rangkaian sejarah panjang pemberdayaan masyarakat—dari Oita di Jepang pada tahun 1979 hingga ke desa-desa di NTT saat ini.
Setiap pembelian adalah suara dukungan untuk inovasi, kemandirian, dan kolaborasi—tiga pilar OVOP yang telah terbukti mampu mengubah wajah perekonomian pedesaan. Dengan demikian, kita tidak hanya menikmati produk berkualitas, tetapi juga turut berkontribusi untuk mendorong NTT mencapai target pertumbuhan 8%-nya.
Mari kita jadikan gaya hidup kita bagian dari gerakan yang memakmurkan. Cari, beli, dan ceritakan produk-produk bernilai tambah tinggi dari NTT. Karena di balik setiap kemasan dan cita rasa, terdapat cerita tentang desa yang bangkit, warisan filosofi Jepang yang abadi, dan semangat “Local yet Global” yang terus berbuah manis.



