Wednesday, December 10, 2025
spot_img
More

    Latest Posts

    Yunus Takandewa, Tukang Antar Surat Yang Setia

    Catatan Fidelis Fortuna, Seorang Sahabat
    Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira bersama Ketua DPD PDI Perjuangan NTT Yunus Takandewa memberikan keterangan pers usai KONFERDA VI di Hotel Harper Kupang, 7 November 2025. Foto : Fortuna
    Kala itu medio Agustus 1997, ribuan calon mahasiswa baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNDANA berkumpul di halaman depan Kampus Undana lama dibilangan Oepura, Kupang. Kami datang dari berbagai kampung, suku agama dan golongan; dari berbagai latarbelakang ekonomi orangtua– petani, nelayan, guru, dan pegawai kecil. Pun ada satu dua orang anak pejabat ada didalam barisan itu. Kami berbaur dalam kegiatan Masa Bimbingan (Mabim) atau Orentasi Pengenalan Kampus (Ospek, red) bagi calon mahasiswa/mahasiswi (cama/cami) baru Undana salama seminggu. Seperti biasa, tepat jam 5 pagi semua cama- cami harus sudah berkumpul di halaman kampus, panitia tak peduli darimanapun kamu tinggal, jalan kaki atau numpang bemo, pokoknya jam 5 harus sudah ada di kampus Oepura. Sebagian kami yang tinggal jauh harus memilih nginap dirumah keluarga, teman atau senior di dekat Oepura, Naikolan, hingga kompleks Sosial yang terkenal ‘rawan’ kala itu supaya tidak terlambat dan atau tidak kena hukuman dari panitia.
    Di Sabtu pagi itu, kami diperintah panitia Mabim untuk mulai berdiri berkelompok, olahraga pagi, berjingkrak ria, sambil dibentak, dites mental, dicerca, dicaci, bahkan rela dipukul oleh pra senior dalam masa pembinaan calon mahasiswa baru itu. Selama 2 jam berjemur diterik matahari, sekitar pukul 7 kami harus ‘dikondisikan’ lanjut ke Aula A1 di bagian tengah kampus untuk mengikuti materi Ospek dan macam-macam kegiatan.
    Diantara ribuan calon mahasiswa, ada satu sosok yang sederhana, pendiam– kepalanya plontos, jelek, taat perintah pula pada panitia. Namanya Yunus Takandewa. Dia sekilas nampak tidak ada potongan alias kuper dan tidak banyak heboh. Dari 42 calon mahasiswa program studi bahasa Inggris, pria ini tidak banyak mendapat atensi kawan- kawan. Oleh salah satu mahasiswa paling supel dan ganteng saat itu bernama Ricky Ekaputra Foeh, alumni SMAN 1 Maumere dan  anak seorang Pejabat di Kantor Gubernur, Yunus sering diolok karena bentuk kepalanya jelek kalau dicukur plontos. Sama seperti kami yang lain, dia juga sering dibentak, ditakuti bukan karena apa-apa tapi karena dia pendiam, maklum baru datang dari kampung di Sumba. Sekali saja dia bicara, itupun kalau diperlukan– apa adanya, hmm meski ada cewe yang diam-diam dinaksir dan menaksir juga saat itu, hahaha. Kondisi itulah yang membuat saya yang sedikit supel dan Anselmus Nalu sesama teman alumni dari SMAK Bhaktyarsa Maumere, memilih mengenal dia, berteman dan bahkan akhirnya menjadi sahabat karibnya Yunus di program studi bahasa Inggris.
    Seiring waktu, saya mengenal Yunus adalah pribadi yang kalem, irit bicara meski kadang kelakar namun tidak jor-joran. Dikelas, dia juga mahasiswa biasa saja, tidak cerdas amat, bahkan banyak teman lain yang lebih menonjol secara akademik dari kami berdua. Kepribadiannya yang santun, santai dan apa adanya itu yang membuat kami cocok karena saya juga berasal dari kampung, orangtua petani dan kehidupan ekonomi kami sama-sama terbatas, meski bapanya Yunus lebih beruntung  karena menjadi pegawai kecil di kecamatan Tabundung, Sumba Timur.
    BELAJAR BERBEDA
    Memasuki semester III, kami mulai terlibat dalam kegiatan intrakurikuler, bermain drama dan bahkan menjadi pemeran inti dalam pertunjukan-pertunjukan seni budaya sebagaimana syarat mahasiswa jurusan bahasa, yang disutradarai teman kami Fipson Lahal dan Adion Balan. Untuk kegiatan esktrakuriker, saya terlibat di kegiatan Keluarga Mahasiwa Katolik (KMK) FKIP Undana bersama teman-teman prodi lain dari Matematika ada Marsel Enggu, Prodi Bahasa Vinsen Gande dan Peter Dola, ketiganya sekarang menjadi pejabat di Manggarai, ada juga Adio Balan kini Kepala Sekolah di SMK Bikomi Selatan TTU, dan Frid Nahak sekarang guru di SoE serta teman-teman lain. Meski Yunus seorang Protestan, dia sering juga menghadiri dan mengikuti berbagai kegiatan KMK dan mengenal banyak teman yang tak seiman lintas jurusan dalam ragam kegiatan.
    Kami berdua pun bertemu secara lebih sering ketika sama- sama mendaftarkan diri menjadi anggota baru dan mengikuti setiap tahapan kaderisasi di organisasi  yang namanya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kupang. Saat itu pas di masa kepemimpinan Bang Emanuel Kolfidus sebagai Ketua Cabang (Mantan DPRD NTT 2 periode, kini Pengurus DPD PDIP NTT) dan bang Bang Pedurahman Sakri sebagai Sekretaris Cabang (Kini Pengurus PDIP kabupaten Manggarai). Kala itu, keduanya baru saja menerima tongkat estafet dari ketua demisioner Bang Yosep Dasi Jawa (Mantan Komisioner KPU NTT dan Ketua PA GMNI NTT kini).
    Ditengah padatnya jadwal kuliah, kami pun mulai sibuk mengikuti pertemuan atau rapat-rapat, kegiatan pembinaan dan latihan dasar kepemimpinan yang digelar pengurus GMNI Cabang Kupang. Ya motivasinya banyak, mencari kawan, menempah diri tapi juga disana kita diajarkan memperkuat semangat nasionalisme, berbaur secara paripurna diantara sekian warna SARA, pun merawat perbedaan sebagai kekuatan dalam dimensi yang lebih luas.
    Kekompakan kami saat itu membuat Ketua Cabang Kupang Bang Emanuel Kolfidus menugaskan Yunus sebagai Ketua Komisariat GMNI FKIP Undana dan saya sebagai sekretaris.
    SEMALAM SUNTUK
    Karena sudah mengenal karakter dan sama-sama berperan aktif dalam berbagai perkuliahan dan kegiatan kemahasiswaan, rumah tinggal yang jauh dari kampus serta mempertimbangkan kiriman ‘wesel’ bulanan yang tidak tertib dari kedua orangtua kami di Maumere dan Sumba, maka kami memutuskan untuk mencari kos-kosan dekat kampus. Alhasil, saya yang sebelumnya tinggal dengan Om Aleks Pona di belakang Undana Penfui dan Yunus  yang numpang tinggal dengan keluarga seorang pegawai kantor Pengadilan dibelakang SMAN 2 Walikota Kupang pun akhirnya pindah, dan kos bersama 1 kamar di Asrama Milenium depan kantor Pos Undana Oepura, rumah bapak Ndapataka, orang Sumba. Tujuan pindah kos 1 kamar karena ingin menghindari pembengkakan biaya bulanan. Dari kos inipula kami belajar hidup hemat, berani “mengikat perut” plus dekat dari kampus Undana lama jadi bisa jalan kaki ke kampus. Sebagai anak kos, kami sering kesulitan makanan, tak pelak, memasuki pukul 22.00 WITA buah pepaya di kebun bapa kos hilang karena ulah kedua oknum yang mulai kelaparan dan kehabisan uang untuk sekedar beli sayur dan lauk saat itu.
    Di kos itupula selama 4 tahun lebih kami tinggal bersama dalam keterbatasan namun aktif dalam berbagai kegiatan. Kami berkuliah sambil menjadi penterjemah (Indonesia- Inggris) bagi Lembaga Advokasi dan Penelitian (LAP) Timoris, sebuah organisasi non-pemerintah yang berbasis di Kupang. Lembaga ini dipimpin oleh mantan Ketua GMNI Bang Yosep Dasi Jawa dibantu mantan Ketua PMKRI Kupang Alm.Bang Yosep Lega Laot dan Alm.Bang Hipol Mawar. Kala itu LAP Timoris sangat sibuk menangani bantuan sosial bagi pengungsi Timor Timur usai jajak pendapat 1999  dan mempekerjakan beberapa relawan dari berbagai negara.
    Selain karena alasan kantor LAP Timoris yang berdekatan dengan kos, kami juga ingin melatih kemampuan bahasa Inggris kami langsung dengan native speaker, membantu para senior masak-masak dan bersihkan kantor serta paling penting bisa makan minum gratis sambil belajar, terima telepon keluarga dan “pacar’ dari nomor kantor itu hahaha.
    Selama bersama di kos, Yunus memang terbaca pribadi yang cerdas namun tak banyak tingkah, setiap hari selepas kuliah, dengan rokok surya 12 yang tidak jelas sumber pendapatannya, dia selalu menghabiskan waktu untuk berdiskusi, membahas banyak hal tentang isu-isu nasional, sosial, kampus dan banyak ‘materi berat’ yang kadang saya tidak paham. Kadang semalam suntuk dia bisa berdiskusi meski saya terpaksa mendengar dengan perasaan ngantuk yang tak karuan.
    AKTIVIS TAK BANYAK NEKO-NEKO
    Menjadi aktivis GMNI menjadikan Yunus pribadi yang tangguh, tahan banting, peka terhadap permasalah sosial pun sering terlibat mengkritisi pemerintah dan juga kampus. Kami terlibat bersama sejumlah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), PMKRI dan OKP cipayung plus sering gelar demonstrasi. Demo paling akbar saat itu yakni  bersama Forum Rektor yang berunjuk rasa terkait Suksesi Rektor Undana kala itu yang menurut mahasiswa nampak mencederai proses demokrasi kampus. Ada Marsel Enggu, Dolfi Kolo, Gusti Brewon dan kekasihnya Asti Mikado, senior Frans Balulowa (Kepala SMAN 4 Kupang), Muhammad Igbal, Joey Weo, Agus Pandak, John Pandak, Herman Tadon (Ketua KPU Lembata kini) dan aktivis lintas OKP dan kampus. Demo yang ingin menurunkan Rektor Undana Alm.Prof. Agus Benu saat itu berujung proses hukum di Pengadilan Negeri Kupang.
    Satu yang pasti bahwa, ketika menjadi mahasiswa kala itu, kami sangat idealis, tidak neko-neko dan konsisten pada tujuan perjuangan. Meski kami sering diintimidasi, dilempari batu oleh preman, dilaporkan ke Aparat Pemegak Hukum (APH), bahkan diteriaki kawan kuliah seangkatan karena berbeda pandangan dan idealisme di kampus, ya kami tetap saja tak gentar.
    KULIAH TEPAT WAKTU
    Fakta menunjukan banyak mahasiswa yang terlibat dalam banyak aktivitas non akademis ekstra kampus di Kupang, pasti kuliahnya lelet. Terbaginya perhatian antara kuliah dan kegiatan diluar kampus menjadi pemicu banyak juga mahasiwa yang nyaris gagal bahkan Drop Out. Kondisi itu tidak terjadi dengan kami berdua, masuk kuliah 1997, susun proposal 2000, ujian Skripsi 2001 dan Wisuda pada Maret 2002. Sangat pendek dan boleh dikatakan selesai tepat  4,5 tahun dan mengantongi gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) FKIP Undana. Menariknya, sebagai kawan 1 kamar kos, kami saling memotivasi sehingga urusan demontrasi dan kuliah berjalan bersama, ujian proposal, ujian skripsi dan wisuda selalu dalam hari yang sama.
    MISKIN TAPI KE THAILAND
    Usai menamatkan pendidikan Sarjana dan wisuda, kami berdua mulai melakukan manuver masing-masing untuk bertahan hidup di Kupang. Meski Sarjana Pendidikan, kami sama-sama memilih tidak mengajar atua menjadi guru. Saya kerja serabutan usaha, jualan Koran, jadi salles motor, ikut binis multilevel marketing, buka usaha komputer, hingga jadi wartawan dan dirikan media Fortuna. Sementara Yunus sempat menjadi Kontributor Koran Tempo bersama Pemred Kala itu Bang Viktus Murin (politisi Golkar), lalu pernah kerja serabutan. Suasananya terpantau lebih buruk ketika harus menikah muda dan tinggal bersama istrinya Nona Seran dan anak sulungnya ‘Dian’ disebuah kos kecil di bilangan Oesapa Kupang.
    Disaat saya membangun media Fortuna (Tabloid/Majalah), Yunus pernah menjadi Pemimpin Redaksi, dibantu Elas Jawamara politisi Nasdem yang kini mengelola portal/media online NTTpedia.id. Untuk cabang Maumere, Fortuna dibantu dengan tulisan-tulisan kerennya Bung Stef Sumandi, politis PDI Perjuangan dan sekarang Ketua DPRD Sikka. Praktis, kami pernah bersama mengurus kerja-kerja jurnalistik, merasakan denyut nadi warga, menjadi mulut, telinga dan matanya rakyat.
    Yunus kemudian terlibat di LSM yang namanya Konsorsium Pengembangan Masyarakat Nusa Tenggara (KPMNT) yang fokus pada isu-isu pelestarian lingkungan, kehutanan, pemberdayaan masyarakat sipil dan demokrasi. Karena kosistensi dan kesetiaan pada lembaga itu, Yunus pernah dipercaya menjadi Sekjen KPMNT. Nah, ditengah ketebatasan ekonomi dan kemiskinan yang masih melanda, kesempatan itu datang.  Dia diundang menghadiri forum internasional di Thailand. Inilah titik baliknya, ada napas kehidupan ‘ekonomi’ baru. Sepulangnya dari sana, Yunus membagikan beberapa cerita manis soal Thailand dan hingar- bingarnya eksotisme siang malam diluar negeri sana, saya terkejut tapi buat biasa saja, tetapi tidak elok dikupas disini hahaha.
    ANTAR SURAT TUNGGU MOTOR PINJAMAN
    Perjalanan karier politik Yunus Takandewa dimulai sekitar tahun 2005, pintu masuknya melalui seorang senior Alm.Nikolaus Fransiskus, yang pernah menjabat pimpinan komisi selama 3 periode berturut-turut di DPRD Kota Kupang dari Fraksi PDI Perjuangan. Niko yang saat itu menjabat Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Kupang bersama Ketua Edwin FanggidaE, membutuhkan seorang pengelola sekretariat PDIP kota Kupang di Jalan Nangka. Yunus pun melamar secara formalitas dan langsung bekerja sukarela tanpa gaji. Tugasnya adalah mengorganisasi kesekretariatan, merapikan surat-surat dan administrasi lain di DPC. Acapkali Yunus terpantau berkeliling rumah para pengurus DPC juga anggota Fraksi PDI Perjuangan Kota Kupang untuk mengantar surat undangan rapat. Tak ada Handphone kala itu, pun tak ada kendaraan motor,  hanya berharap pinjaman motor Honda Win milik Bang Alm.Niko Frans dan Om Hironimus Soriwutun saat itu. Lelah memang, tapi sebagai calon kader partai, harus tetap senyum didepan senior. Karena rutinnya agenda rapat dan aktivitas lain maka pengurus DPC menghadirkan sebuah motor bekas Honda merk Legenda sebagai kendaraan operasional sekretariat bersama Om Jidro Misa, staf sekretariat.
    Suasana KONFERDA VI DPD PDI Perjuangan NTT, di Hotel Harper Kupang, 7 ovember 2025. Foto : Fortuna
    10 TAHUN CALEG GAGAL TETAP SETIA
    Setia bersama PDI Perjuangan lebih dari 10 tahun, Yunus kemudian dipercayakan untuk mengisi slot Calon Legislatif (Caleg) DPRD NTT dari PDI Perjuangan dapil Sumba mendampingi senior Alm. John Umbu Detta dan Alm. Pdt.Habel Pekaata serta kawan-kawan. Dua periode menjadi caleg  dengan sumber daya yang terbatas belum membuahkan hasil.
    Sebagai teman, belum banyak yang saya bantu dia di masa-masa awal pencalegan, tapi minimal disaat sama-sama masih susah kita saling mensuport lewat doa, motivasi, mengingatkan impian yang tertunda. Kita tidak bisa memberi dia uang tapi minimal menepuk bahunya dikala dia jatuh tak berdaya untuk saling menguatkan, untuk terus berjuang, optimis meski tanpa dukungan finansial yang cukup. Bahwa sukses dalam politik bukan semata –mata karena uang, tapi karena rakyat percaya kalau kita bisa berada didepan mereka serta memberi harapan dan jalan.
    Harus diakui, proses yang dia lalui itu dengan setia tanpa amarah, dia terus berjuang, intens melakukan sosialisasi diri melalui berbagai kegiatan ke konstituen Sumba bersama tim keluarga dan terutama Bang Lius sang kaka sulung. Baru pada tahun 2015 atau periode ke-3, dia terpilih menjadi anggota DPRD NTT bersama Bang Anton Landi dari PDI Perjuangan Dapil Sumba.
    Perjuangan telah menemui jalan. Impian untuk mengurus rakyat secara optimal melalui sistem yang baku di lembaga DPRD NTT terjawab. Sebagai seorang Sarjana Pendidikan, Yunus lalu ditempatkan sebagai Ketua Komisi V yang membidangi kesehatan, pendidikan dan kesejatheraan rakyat. Melalui komisi ini, banyak hal yang diurus untuk rakyat di seluruh Nusa Tenggara Timur dalam koordinasi kewenangan DPRD bersama jajaran Pemprov NTT.
    Karena ketajaman, kecerdasan dan kematangan memainkan ritme politik di fraksi, komisi dan juga masuk di jajaran struktur DPD PDI Perjuangan Provinsi NTT bersama Mantan Ketua DPD dan mantan Gubernur NTT Alm.Frans Lebu Raya, maka Yunus pun diperiode awal mendapat kepercayaan menjadi pimpinan DPRD NTT antar waktu 2018-2020 menggantikan Wakil Ketua Nelson Matara yang maju di Calon Bupati Kupang.
    Pada momentum Konferda V di Hotel Neo Aston Kupang tahun 2020, Yunus dipercayakan menjadi Sekretaris DPD PDI Perjuangan NTT mendampingi sang Ketua, Ibu Emilia J.Nomleni.
    Tidak sampai disitu, dia juga pernah menjabat sebagai Pimpinan Sementara DPRD NTT tahun 2020, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD NTT, Wakil Ketua Komisi II DPRD NTT periode 2025-2030 . pada Konderfa VI tahun 2025, tanggal 7 November 2025 di Harper Hotel Kupang, Yunus diumumkan menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan NTT periode 2025-2030 oleh Sekjen DPP PDI Perjuangan Dr. Hasto Kristiyanto,MM bersama Dr.Andreas Hugo Pareran dan jajaran pengurus DPP. Dia melewati proses penjaringan bersama 23 orang calon ketua, mengikuti penyaringan, tes wawancara dan tes psikologi bersama 7 calon tersisa dan akhirnya ditunjuk DPP PDI Perjuangan menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi NTT.
    Hadir saat itu, Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Dr. Andreas Hugo Pareira, Stevano Risky Adranacus, jajaran pengurus DPP, Ketua DPD demisioner sekaligus Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni dan jajaran, para ketua DPC kabuaten/kota se NTT, Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD NTT dan kabupaten/kota, para pengurus DPC,dan ranting dengan total peserta sebanyak 900 orang lebih.
    TERIMA KASIH DAN FOKUS PADA RAKYAT
    Dalam Jumpa Pers usai penutupan Konferda VI, bersama Ketua DPP PDI Perjuangan Dr. Andreas Hugo Pareira, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Stevano Rizki Adranacus, Sektretaris DPD Patris Lali Wolo serta jajaran Ketua DPC sedaratan Timor, Sabu, Rote, Alor, Yunus menegaskan komitmennya untuk memperkuat kebersamaan, gotong royong dengan segenap struktur memajukan partai, memberi perhatian bagi masyarakat pada beberapa isu perjuangan strategis kerakyatan.
    Yunus Takandewa menyampaikan terima kasih kepada Ibu Ketua Umum, Hj. Megawati Soekarnoputri dan Sekjen, Hasto Kristiyanto yang memberikan restu terhadap kepemimpinan PDIP di NTT, terutama kepada generasi muda.
    “Kami bertiga ini cerminan kepempinan orang muda dalam kancah perpolitikan di NTT hari ini. Kami sangat berterima kasih kepada Ibu Ketua Umum yang punya insting politik yang kuat sehingga ke depan dalam menghadapi tantangan politik demokrasi digital, kami tentunya akan bekerja keras untuk memberikan yang terbaik sesuai dengan harapan Ibu Ketua Umum,” kata Yunus
    Dari komposisi kepengurusan telah mengakomodir semua aspek, baik usia, aktivis, keahlian, latarbelakang politik yang akan meracik berbagai macam gagasan untuk bergandengan tangan fokus pada aspek kepentingan rakyat, isu-isu aktual. Saat ini NTT  mengalami tantangan situasi fiskal nasional, dimana ada pemotongan  anggaran, efisiensi yang menimbulkan gundangan di tingkat bawah.
    Adapun pelajaran yang bisa diambil dari kisah, perjalanan hidup, keluarga, pendidikan, karier politik dari seorang Yunus Takandewa, bahwa kesetiaan pada perkara kecil, membuka ruang untuk mendapat kepercayaan pada perkara yang lebih besar. Menjadi politisi dan dimanapun pilihan tugas kita, kesetiaan menjadi tuntutan utama menuju masa depan yang lebih cerah, ceriah serta bermanfaat untuk diri dan banyak orang. Selamat berkarya Sahabatku Yunus Takandewa. Merdeka!!!

    Latest Posts

    spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

    Don't Miss

    Stay in touch

    To be updated with all the latest news, offers and special announcements.